Niat Ketika Belajar/Mencari Ilmu

15.32
Niat Ketika Belajar Mencari Ilmu
Niat Ketika Belajar Mencari Ilmu - Pada waktu mencari ilmu harus ada niat karena niat merupakan dasar segala hal. Sabda Nabi SAW:
“Sesungguhnya amal perbuatan itu bergantung niat.”
Hadits ini shahih bersumber dari Rasulullah SAW.
Banyak sekali suatu amal yang berbentuk amalan dunia, disebabkan bugusnya niat bisa menjadi amalan akhirat. Begitu juga sebaliknya, suatu amal yang berbentuk akhirat bisa menjadi amalan dunia disebabkan niat yang jelek.
Hendaknya orang yang sedang belajar, berniat mencari ridha Allah, mencari akhirat, menghilangkan kebodohan pada diri sendiri dan pada orang-orang yang bodoh. Menghidupakan dan memperjuangkan agama, karena memperjuangkan agama itu dengan menggunakan ilmu, sedangkan zuhud dan taqwa itu tidak sah kalau bersama kebodohan.
Syekh Imam Mulia Burhanuddin Shahibul Hidayah melagukan sya’ir kepada sebagian ulama, yang artinya:
“Kerusakan yang besar adalah orang alim (berilmu) yang bertindak tanpa berpikir dan lebih besar lagi kerusakan adalah orang bodoh yang melakukan ibadah. Keduanya dalam hal ini merupakan fitnah yang besar bagi orang yang agamanya berpegang pada mereka.”
Hendaknya juga niat mensyukuri nikmatnya akal dan sehatnya badan. Jangan hanya niat untuk mencari kesenangan manusia di dunia saja, mencari kehormatan di depan pemimpin atau yang lain.
Muhammad bin Hasan berkata:
“Andaikan seluruh manusia jadi abidku maka akan aku merdekakan semua dan aku bebaskan waris tuan-tuan (pemilik). Barang siapa yang sudah merasakan enaknya ilmu dan amal maka akan sedikit sekali menampakkan kesenangan di hadapan manusia.”
Syekh Al Imam Mulia Ustadz Qiwamudin Hammad bin Ibrahim bin Ismail Asshifar Al Anshari termasuk juru tulis Imam Abu Hanifah melagukan sya’ir yang artinya:
“Barang siapa menuntu ilmu karena akhirat maka akan memperoleh dari Allah yang memberikan petunjuk. Dan barang siapa yang menuntut ilmu karena menginginkan penghormatan dari manusia maka ia akan merugi.”
Kecuali kalau mencari kedudukan untuk amar ma’ruf nahi mungkar, meluruskan perkara benar dan meluhurkan agama bukan untuk diri sendiri dan kesenangan diri. Hendaknya orang yang menuntut ilmu terlebih dahulu berpikir hal tersebut, sehingga bisa belajar dengan sungguh-sungguh jangan sampai berbelok menuntut ilmu karena dunia yang hina yang tidak seberapa dan akan hancur.
Ada sya’ir yang artinya:
“Dunia adalah sedikit-sedikitnya sesuatu yang sedikit orang yang mencintainya, paling rendahnya sesuatu yang rendah. Dunia bisa menjadikan suatu kaum tuli dan buta dengan keindahan dan kesenangannya, sehingga mereka jadi bingung tidak mendapatkan petunjuk menuju jalan yang benar.”
Hendaknya orang yang berilmu tidak merendahkan dirinya dengan mengharap sesuatu yang tidak perlu diharapkan dan menjaga sesuatu yang bisa merendahkan ilmu. Orang yang mempunyai ilmu juga hendaknya menjadi orang yang tawadhu’ (merendah). Perbuatan tawadhu adalah perbuatan mengambil jalan tengah antara takabur (sombong0, muzilah (merasa hina), dan iffah (menjaga perkara haram). Hal itu bisa diketahui dalam kitab Akhlak. Sya’ir yang dilagukan oleh Imam Mulia Al Ustadz Ruknul Islam yang terkenal dengan adab-adabnya, di antaranya berikut ini.
“Tawadhu’ itu termasuk perilaku orang yang bertakwa dan dengan tawadhu’ orang akan naik derajatnya ke derajat yang tinggi. Termasuk sesuatu yang mengherankan, yaitu orang yang sombong yang tidak tahu akan perbuatannya bahagia atau celaka. Pada akhir umurnya di hari kematian dia di derajat yang rendah atau yang tinggi.”
Kesombongan merupakan sifat yang hanya dimiliki Allah. Maka jauhi dan takutlah. Imam Abu Hanifah berkata pada murid-muridnya:
“Besarkan sorban kalian dan luaskan/lebarkan lengan kalian baju kalian.”
Beliau berkata seperti itu agar ilmu dan orang yang mempunyai ilmu tidak dipandang rendah.
Wallahu A’lamu
Previous
Next Post »
0 Komentar