Tampilkan postingan dengan label singa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label singa. Tampilkan semua postingan

Jatuh ke Kandang, Pria Ini Hadapi Singa dengan Sangat Tenang

07.51 Add Comment
Jatuh ke Kandang Singa
Tetap Tenang meskipun Jatuh ke Kandang Singa
 Ketika dalam keadaan bahaya, kita lebih mudah panik ketimbang tenang dan berpikir jernih. Meskipun kita tahu, kepanikan justru menambah risiko bahaya itu sendiri.

Misalnya saat terjebak di dalam lift, ketika Anda panik Anda akan banyak menghirup oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida. Tanpa disadari, Anda akan cepat lemas.

Sama halnya ketika Anda tak bisa berenang dan tercebur dalam air, kepanikan hanya akan membuat Anda cepat tenggelam dan susah diselamatkan.

Maka tak heran jika tidak panik menjadi standar keselamatan pertama yang harus dilakukan untuk mengantisipasi bahaya.

Seperti kisah seorang pria Taiwan yang jatuh ke kandang singa saat mengunjungi kebun binatang. Meski ada dua ekor singa dewasa berada di hadapannya, pria itu tetap tenang.

Bahkan ketika singa jantan berhasil mengoyak jas yang menjadi satu-satunya tameng, pria itu mencoba tetap tenang. Ia tidak memilih lari dan memunggungi singa. Sebab itu hanya akan membuat pria itu layaknya mangsa.

Sebaliknya, pria itu malah membuat gerakan-gerakan seperlunya untuk mengusir singa saat mendekat. Meskipun ia sempat merasa kesakitan saat singa jantan berhasil menggigit kaki kananya.

Yang mengherankan, saat posisi pria itu benar-benar tersudutkan, ia tetap tidak kehilangan ketenangannya. Pria itu malah berdiri dan terus menatap mata singa. Ia juga mengangkat kedua tangannya seperti sedang berdoa.

Namun gelagat itu seperti menyiratkan bahwa ia ingin terlihat lebih jantan di hadapan singa. Sembari menunggu tim penyelamat datang, pria itu tetap menunjukkan ketenangan.

Pria itu akhirnya berhasil diselamatkan. Tim penyelamat terpaksa membius singa itu lantaran semakin agresif. Tim penyelamat juga tampak menyemprotkan water canon untuk mengusir kedua singa.

Aksi pria itu direkam salah satu pengunjung dan diunggah di media sosial Facebook oleh akun Christovita Wiloto. Aksi pria itu dinilai mampu menjadi teladan betapa pentingnya sikap tenang dan tidak panik saat menghadapi bahaya.

Sejak diunggah, rekaman itu sudah ditonton levih dari 1 juta kali dan disukai banyak orang. Keberanian dan ketenangan pria itu, mengingatkan netizen tentang sosok The Tank Man di Lapangan Tiananmen.

Keduanya sama-sama menggunakan baju atasan putih dan celana hitam. Bedanya, The Tank Man menghadapi barikade tank bisa saja menggilasnya, sedangkan pria Taiwan ini menghadapi kedua singa buas yang hendak menerkamnya.

Kisah Sa’ad bin Abi Waqqash – Sang Singa yang Menyembunyikan kukunya - bagian kedua

18.13 Add Comment
Kisah Sa’ad bin Abi Waqqash

Cerita islami, kisah sahabat nabi yang bernama Sa’ad bin Abi Waqqas ini merupakan lanjutan dari cerita Sa’ad bin Abi Waqqash bagian pertama, ikuti lanjutanya melalui Kisah Sa’ad bin Abi Waqqash bagian kedua di bawah ini :

Sa’ad memang seorang pemanah terkenal. Ketenarannya itu tidak lain karena dialah orang muslim pertama yang melepaskan anak panah untuk berjuang di jalan Allah, sebagaimana penuturannya: “Demi Allah, sayalah orang pertama yang melepaskan anak panah di jalan Allah.” Peristiwa itu terjadi ketika Rasulullah mengutus enam puluh orang ke Mekah di bawah pimpinan Ubaidah bin Haris. Mereka diutus karena kaum kafir Quraisy sering melakukan pelanggaran terhadap isi Perjanjian Hudaibiyah. Di antara keenam puluh orang itu, salah satunya adalah Sa’ad. Setibanya di Hijaz, mereka menuju mata air yang bernama Wadi Rabig. Ternyata, di sana telah menunggu pasukan kafir Quraisy yang berjumlah dua ratus orang di bawah pimpinan Abu Sufyan. Akhirnya, kedua pasukan yang tidak seimbang itu pun berhadap-hadapan dan siap saling menyerang. Melihat keadaan yang tidak begitu menguntungkan, Sa’ad dan teman-temannya berusaha untuk menghindari pertempuran. Mereka mengutus delegasi untuk melakukan perundingan dengan pihak kafir Quraisy. Dari perundingan itu dicapailah kesepakatan damai, sehingga pertempuran yang tidak seimbang terhindarkan. Namun demikian, sempat juga terjadi bentrokan singkat ketika beberapa anggota pasukan kafir Quraisy menyerang. Saat itu, Sa’ad yang bersenjatakan panah dengan gagah berani melepaskan anak panahnya. lnilah anak panah yang pertama dilepaskan untuk membela agama Allah, yang membuat Sa’ad terkenal sebagai pemanah pertama di jalan Allah.

Kisah Sa’ad bin Abi Waqqash
Kisah Sa’ad bin Abi Waqqash – Sang Singa yang Menyembunyikan kukunya - bagian kedua

Kisah Sa’ad bin Abi Waqqash – Keahlian Sa’ad dalam memanah diakui oleh semua sahabat pada masanya. Bahkan Rasulullah saw. pun mengakuinya, sampai-sampai beliau menjaminkan kedua orang tuanya untuk anak panah yang dilepaskan Sa’ad. lni terjadi ketika perang Uhud berkecamuk. Saat itu Rasulullah saw. berseru kepada Sa’ad, “Panahlah hai Sa’ad, bapak dan ibuku menjadi jaminan bagimu!”

Tentang hal ini Ali bin Abi Thalib berkomentar, “Tidak pernah saya dengar Rasulullah menyediakan ibu bapaknya sebagai jaminan seseorang, kecuali bagi Sa’ad.”

Tidak hanya keahlian memanahnya yang memperoleh jaminan Rasulullah, ketakwaannya sebagai seorang mukmin pun memperoleh jaminan dari beliau. Dikisahkan, suatu hari Rasulullah sedang duduk-duduk bersama para sahabat. Tiba-tiba beliau menatap dan menajamkan pandangannya ke suatu arah seperti sedang menunggu bisikan atau kata-kata rahasia. Kemudian beliau menoleh kepada para sahabat, lalu berkata, “Sebentar lagi akan muncul di hadapan kalian seorang laki-laki penghuni surga.”

Para sahabat pun menengok ke segala arah untuk mengetahui siapakah laki-laki yang sangat beruntung menjadi penghuni surga itu. Tidak lama kemudian, muncullah di hadapan mereka Sa’ad bin Abi Waqqas. Tentu saja para sahabat dibuat kagum karenanya, bahkan sebagian dari mereka merasa penasaran. Apa gerangan yang menjamin Sa’ad masuk surga?

Salah seorang sahabat yang penasaran itu adalah Abdullah bin Amr bin Ash. Dia mendatangi Sa’ad di rumahnya, kemudian meminta Sa’ad untuk memberi tahu rahasia amalannya yang menjaminnya sebagai penghuni surga. cerita islami

“Wahai Sa’ad, amal ibadah apakah yang menyebabkan engkau disebut oleh Rasulullah sebagai penghuni surga?” tanya Abdullah kepada Sa’ad.

‘Amal ibadah yang kukerjakan sama dengan amal ibadah kalian.” Kata Sa’ad.

“Tidak mungkin!” sergah Abdullah. ‘Jika amalmu sama dengan amalku, mengapa aku tidak terjamin masuk surga sepertimu? Kamu jangan bohong, Sa’ad. Kamu pasti memiliki amalan khusus yang membuatmu istimewa di hadapan Allah.”
Desak Abdullah.

“Demi Allah, saya tidak berbohong, Abdullah. Bagaimana mungkin amalan kita berbeda, sedangkan sumber kita sama?” Kata Sa’ad mencoba meyakinkan Abdullah.

“Kalaupun ada yang berbeda di antara kita, yang itu menyebabkan diriku menjadi istimewa di hadapan-Nya, mungkin satu hal.”

“Apa hal yang satu itu, wahai Sa’ad?” Seru Abdullah tak sabar. Tampak kedua matanya berbinar-binar penuh harap.

“Aku tidak pernah menaruh dendam ataupun dengki kepada seorang pun di antara kaum muslimin. Mungkin itu yang membuatku istimewa di hadapan Allah. Wallahu a’lam,” kata Sa’ad. Jawaban Sa’ad ini menunjukkan betapa mulia hatinya, sehingga tidak terbersit sedikit pun di hatinya rasa dengki, apatagi kebencian atau dendam kepada saudara-saudaranya seiman. (cerita islami)

Sa’ad juga terkenal sebagai kesatria berkuda yang gagah berani. Dia mempunyai dua senjata yang amat ampuh, yaitu panahnya dan doanya. Jika dia memanah musuh dalam peperangan, pastilah akan mengenai sasarannya, dan jika dia menyampaikan suatu permohonan kepada Allah pastilah dikabulkan-Nya. Hal ini disebabkan oleh doa yang diucapkan Rasulullah saw., ketika pada suatu hari Rasulullah menyaksikan sesuatu yang menyenangkan dalam diri Sa’ad. Karena sangat berkenan, beliau pun berdoa:

‘Alhhumma saddid ramyatahu wa ajib da’watahu.” (Ya Allah, tepatkanlah bidikan panahnya dan kabulkanlah doa-doanya). Doa manusia pilihan yang menjadi kekasih Allah inilah yang menjadi jaminan bagi ketepatan anak panah Sa’ad serta kemakbulan doanya.

Sejak saat itu, Sa’ad terkenal dengan doanya yang sangat makbul. Sa’ad sendiri menyadari benar kekuatan doanya, sehingga dia enggan berdoa bagi kerugian orang lain kecuali menyerahkan keputusan kepada Allah swt. Riwayat berikut menggambarkan betapa doa Sa’ad makbul, dan betapa Sa’ad benar-benar menjaga lidahnya. Suatu hari Sa’ad mendengar seorang laki-laki memaki AIi bin Abi Thalib, Talhah bin Ubaidillah, dan Zubair bin Awwam. Ketiganya adalah sahabat-sahabat Nabi saw. yang utama. Mendengar makian laki-laki itu, Sa’ad merasa sangat risih. Dia lalu berusaha menyuruh laki-laki itu menghentikan makiannya, namun orang itu tidak menggubrisnya.

“Kalau begitu, saya akan mendoakan kamu.” ancam Sa’ad. “Rupanya kamu hendak menakut-nakutiku, seolah-olah kamu seorang nabi. Silakan saja mendoakan aku. Aku tidak takut!” jawab laki-laki itu menantang. Maka Sa’ad pergi mengambil wudu, kemudian dia mengerjakan salat dua rakaat. Setelah itu, diangkatlah kedua tangannya seraya berdoa,
“Ya Allah, sekiranya menurut ilmu-Mu laki-laki ini telah memaki segolongan orang yang telah beroleh kebaikan dari-Mu, dan tindakannya itu mengundang murka-Mu, maka mohon jadikanlah hal itu sebagai pertanda dan suatu pelajaran. Amin…”

Selepas Sa’ad menyelesaikan doanya, dari salah satu pekarangan rumah muncul seekor unta liar dan tanpa bisa dibendung masuk ke dalam lingkungan orang banyak, seolah-olah ada yang dicarinya. Begitu dilihatnya laki-laki pemaki, unta itu pun menerjang. Ditendangnya laki-laki itu dengan kaki-kakinya yang panjang dan kuat. Laki-laki itu tersungkur di tanah, sementara unta liar itu berdiri di atasnya sambil meraung marah. Selanjutnya unta liar itu kembali menyiksa laki-laki pemaki hingga akhirnya dia tewas menemui ajalnya. Demikianlah gambaran kekuatan doa Sa’ad. (cerita islami )

Sementara itu, keberanian dan kegagahannya sebagai seorang prajurit telah dibuktikan oleh sejarah. Sa’ad tidak pernah absen dalam setiap peperangan yang diikuti oleh Nabi saw. Setelah Nabi saw. wafat, dia juga tetap menjadi salah seorang prajurit kepercayaan para khalifah. Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, Sa’ad diangkat menjadi panglima perang Qadisiyah yang amat menentukan keberhasilan syiar lslam di wilayah lrak. Perang Qadisiyah terjadi antara pasukan muslimin yang berjumlah sekitar tiga puluh ribu orang dengan pasukan Persi yang jumlahnya mencapai seratus ribu orang.

Saat memimpin perang, Sa’ad sedang sakit. Sekujur tubuhnya dipenuhi bisul yang sangat menyiksa, yang berpecahan setiap kali tubuhnya terhentak di atas kudanya. Namun, meskipun sekujur tubuhnya berlumuran darah akibat bisul-bisul yang berpecahan, Sa’ad tetap bersemangat memimpin pasukannya’ Meski sakit menderanya, dia tetap meneriakkan aba-aba dan takbir penggugah semangat dengan lantang sehingga pasukannya terus bertempur dengan semangat juang yang gigih’
‘Ayo Abdullah, serang bagian sayap kiri. Engkau al-Haris’ masuk ke jantung pertahanan musuh. Engkau Fulan, ke arah sana. Ayo kita sambut surga’ Allahu akbar!”

Teriakan Sa’ad yang lantang dan penuh semangat terbukti mampu membangkitkan ruh jihad pasukannya. Pasukan muslimin yang kalah dalam jumlah mampu mengungguli pasukan musuh dalam semangat dan keberanian, Mereka bertempur tanpa takut atau gentar, bahkan seakan-akan mereka berebut menyambut kematian. Dan memang demikianlah adanya, mati sebagai syahid di jalan Allah adalah dambaan setiap diri prajurit muslim yang gagah berani itu, Akhirnya peperangan yang menelan ribuan korban itu dimenangkan oleh pasukan muslimin, setelah panglima perang Persi terbunuh lebih dahulu sehingga pasukannya kocar-kacir. Dalam sakitnya, Sa’ad masih membuktikan keperwiraannya sebagai seorang kesatria berkuda yang tangguh. Pantaslah jika Khalifah Umar bin Khattab mempercayakan kepemimpinan pasukan muslimin di Qadisiyah kepadanya

Sa’ad meninggal pada usia yang sangat lanjut, yaitu 80 tahun, sehingga dia termasuk sahabat Nabi yang meninggal paling akhir. Ketika hendak menemui ajalnya, Sa’ad meminta anaknya untuk membuka sebuah peti yang ternyata isinya adalah sehelai kain tua yang telah usang dan lapuk. Sa’ad meraih kain itu dari tangan putranya, kemudian menciumnya dengan penuh perasaan.

“Telah kuhadapi orang-orang musyrik waktu perang Badar dengan memakai kain ini. Aku telah menyimpan kain ini sekian lama untuk keperluan seperti hari ini.” kata Sa’ad.

“Apa maksud ayah?” tanya putranya.

“Anakku, setelah aku mati nanti, kafanilah jasadku dengan kain ini. Aku ingin menghadap Allah dengannya.” kata Sa’ad, Setelah itu, Sa’ad menghembuskan napasnya yang terakhir. Jasadnya dikafani dengan sehelai kain lusuh, kemudian dimakamkan di dekat sahabat-sahabat Nabi saw. yang telah mendahuluinya.

Semoga Kisah Sa’ad bin Abi Waqqash di atas dapat kamu ambil hikmahnya, dan mencontoh sikap yang baik dari sahabat nabi di atas.

http://ceritaislami.net/kisah-saad-bin-abi-waqqas-sang-singa-yang-menyembunyikan-kukunya-bagian-kedua/

Cerita Sa’ad bin Abi Waqqash – Sang Singa yang Menyembunyikan kukunya - bagian pertama

18.00 Add Comment
Cerita Sa’ad bin Abi Waqqash

Cerita islami, kisah sahabat nabi yang bernama Sa’ad bin Abi Waqqash, beliau merupakan salah satu sahabat nabi yang berbakti kepada orang tua dan juga memiliki iman yang kuat kepada Alloh SWT, selain itu beliau juga memiliki kemampuan memanah yang hebat. Simak cerita Sa’ad bin Abi Waqqash lengkap di bawah ini :

Cerita Sa’ad bin Abi Waqqash pemanah hebat

Sa’ad berasal dari keluarga bangsawan yang kaya raya. Dia sangat disayangi oleh kedua orang tuanya, terutama ibunya. Dia dikenal sebagai pemuda yang serius dan memiliki pemikiran yang cerdas. Sosoknya tidak terlalu tinggi, namun bertubuh tegap dengan potongan rambut pendek. Orang-orang Mekah selalu membandingkannya dengan singa muda.

Sa’ad lahir dan besar di kota Mekah. Meski begitu, dia sangat benci kepada agama dan cara hidup yang dianut masyarakat Mekah. Dia membenci praktik penyembahan berhala yang sudah membudaya di Mekah saat itu. Pada suatu hari yang sangat bersejarah dalam hidupnya, dia didatangi oleh Abu Bakar yang dikenal sebagai orang yang ramah. Abu Bakar mengundang Sa’ad ke sebuah perbukitan dekat Mekah. Maka berangkatlah Sa’ad bersama Abu Bakar untuk sebuah keperluan yang Sa’ad sendiri sebenarnya tidak tahu pasti. Yang mendorong Sa’ad melangkahkan kakinya menuju tempat itu, selain karena jiwa mudanya yang menyukai petualangan, adalah sosok Abu Bakar sendiri. Siapa tidak kenal Abu Bakar, seorang laki-laki kaya yang terkenal jujur, ramah, dan dermawan.

Cerita Sa'ad bin Abi Waqqash
Cerita Sa’ad bin Abi Waqqash – Sang Singa yang Menyembunyikan kukunya - bagian pertama

Ternyata, selain mengundang Sa’ad, Abu Bakar juga mengundang sahabat-sahabatnya yang lain seperti Usman bin Affan, Abdurrahman bin Aul Talhah bin Ubaidillah, dan Zubair bin Awwam. Yang lebih mengejutkan Sa’ad, ternyata Abu Bakar mengumpulkan mereka semua untuk mengumumkan bahwa dirinya telah menganut sebuah ajaran baru yang dibawa oleh Muhammad al-Amin. “Para sahabatku,” Abu Bakar memulai pidatonya, “saya ingin mengumumkan kepada kalian semua bahwa saya telah mengikuti ajakan Muhammad dan meyakini kebenarannya. Saya yakin, apa yang dikatakan Muhammad adalah benar. Dia tidak pernah bohong selama ini, dan kalian tentu tahu sendiri hal itu. Nah, sekarang saya ingin mengajak kalian semua untuk bersama-sama mengikuti agama yang dibawa Muhammad ini.”

Saad dan sahabat-sahabat yang lain terdiam. Mereka merenungkan kebenaran ucapan Abu Bakar tentang Muhammad. Ya, siapa pun pasti sepakat bahwa Muhammad adalah orang yang jujur dan terpercaya. Gelar al-Amin membuktikan hal itu. Maka, demi mendengar ajakan Abu Bakar itu mereka menyatakan keislamannya. Usman, Abdurrahman, Sa’ad, dan Zubair bersama-sama mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai pertanda bahwa mereka mengakui Allah swt. sebagai satu-satunya Tuhan yang patut disembah, serta mengakui bahwa Muhammad saw. adalah seorang nabi yang diutus untuk menyampaikan risalah-Nya.

Cerita Sa’ad bin Abi Waqqash – Dengan penuh keyakinan, keempat sahabat itu memeluk lslam dan merasakan hangatnya sinar iman. Tak terkecuali Sa’ad. Dengan mantap, dia segera menerima ajakan Abu Bakar untuk memeluk agama lslam. Sa’ad menjadi salah satu sahabat yang pertama-tama masuk lslam, bahkan pada usia yang masih sangat muda. Dengan mantap, dia meninggalkan agama nenek moyangnya yang selama ini dirasakannya tidak masuk akal. Padahal, saat itu usianya belum genap tujuh belas tahun.

Setelah pertemuan itu, Abu Bakar mengajak mereka menemui Nabi Muhammad untuk mendengarkan ajaran agama lslam. Pertemuan dengan Nabi saw. itu menjadi pertemuan yanS sangat mengesankan bagi Sa’ad yang berkarakter serius dan pemikir. lbarat pepatah, pucuk dicinta ulam pun tiba. Selama ini Sa’ad sangat tidak menyukai cara beribadah kaumnya, tetapi dia tidak mendapati agama lain yang lebih masuk akal baginya. Begitu mendengar ajaran baru yang dibawa Nabi Muhammad, Sa’ad segera sadar bahwa dia telah menemukan apa yang selama ini dia cari.

Saad sendiri secara tidak langsung memiliki hubungan kekerabatan dengan Nabi Muhammad saw. Kakeknya adalah Uhaib, putra Manaf yang menjadi paman dari Aminah, ibunda Nabi saw. Artinya, menurut silsilah keluarga, Sa’ad adalah paman Nabi dari pihak ibu. Nabi saw.sering membanggakan pamannya yang jauh lebih muda ini. Apabila Sa’ad datang pada saat beliau sedang berada di antara para sahabat yang lain, beliau menyambut Sa’ad dengan ucapan selamat seraya berucap, “lnilah dia pamanku. Siapa yang punya paman seperti pamanku ini?” Lalu, apakah hubungan kekerabatan antara diri dan keluarganya dengan Muhammad membuat jalan yang dilalui Sa’ad menjadi mulus? Ternyata tidak. Keislaman Sa’ad mendapat tentangan keras dari keluarga dan anggota sukunya. Tentangan yang paling besar justru berasal dari ibunya sendiri. lbu Sa’ad sangat marah saat mengetahui anaknya masuk lslam. Segala cara dilakukannya untuk membuat Sa’ad kembali ke agama nenek moyang mereka, yaitu menyembah patung berhala. “Kembalilah kepada agama nenek moyangmu, atau kau akan kehilangan ibumu ini!” ancam ibu Sa’ad.

Saat itu Sa’ad belum mengerti benar maksud perkataan ibunya. Yang dia mengerti hanyalah bahwa dia tidak mungkin melepaskan ajaran lslam yang baru dipeluknya. Dia bahkan bertekad akan mempertahankannya, meski nyawa taruhannya. Baginya, iman yang telah tertancap di dalam dadanya itu merupakan harta paling berharga yang tidak dapat ditukar dengan apa pun. Sementara itu ibu Sa’ad mulai menjalankan rencananya. Dia yakin rencananya akan berhasil, karena dia tahu benar bahwa Sa’ad sangat mencintainya. Apa sebenarnya yang direncanakan oleh ibunda Sa’ad?

Selama beberapa hari, ibu Sa’ad menolak makan sehingga badannya mulai melemah. Meski dibujuk dan dibawakan makanan, dia tetap menolak. Dia hanya bersedia makan jika Sa’ad kembali ke agama lamanya. Sa’ad mulai mengerti maksud ancaman ibunya tempo hari. Ternyata ibunya memberinya dua pilihan yang sangat sulit: pertama murtad, kedua kehilangan ibu yang sangat dicintainya.

Sebagai seorang anak yang baik, tentu saja Sa’ad ingin selalu berbakti kepada ibunya. Bagi Sa’ad, kalau harus dicari siapa orang yang paling berjasa dalam hidupnya, maka orang itu tidak lain adalah ibunya. Betapa tidak, ibunyalah yang telah mengandungnya selama sembilan bulan dalam keadaan yang susah payah. Setelah itu, dia melahirkannya dengan susah payah pula, bahkan dengan mempertaruhkan nyawanya. Setelah dia lahir pun, ibunya masih harus menyusui, membesarkan, memelihara, dan mendidiknya dengan penuh cinta dan kasih sayang.

Tidak pernah terbayang di benak Sa’ad bahwa dirinya harus melukai perasaan ibunya, apalagi mendurhakainya. Situasi menjadi sangat sulit bagi Sa’ad ketika cintanya yang demikian dalam dan tulus kepada ibunya itu mesti dipertentangkan dengan hidayah berupa iman yang baru saja dikecapnya. Sa’ad sadar bahwa memilih satu di antara dua pilihan yang disuguhkan oleh ibunya sama-sama mengandung risiko. Jika dia memilih mengikuti kehendak ibunya, berarti dia harus melepaskan sesuatu yang sangat berharga yang selama ini dia cari-cari, yaitu iman. Jika iman yang sudah tertancap di dalam dadanya dilepaskan, Sa’ad yakin hidupnya di dunia dan terlebih di akhirat kelak tidak akan pernah bahagia. Sebaliknya, jika dia mempertahankan imannya’ berarti dia telah mengecewakan ibunya; suatu hal yang tidak pernah diinginkannya.

Akan tetapi, Sa’ad juga sadar bahwa betapapun sulitnya pilihan tersebut, dia tetap harus memilih. Akhirnya, dengan segala keteguhan yang dimilikinya, ditetapkanlah sebuah pilihan. Dan pilihan Sa’ad jatuh pada imannya. Sa’ad tetap teguh pada keimanannya dan tetap setia mengikuti dakwah Nabi saw. yang sudah mulai diselenggarakan di rumah Arqam bin Abil Arqam. Dengan berat hati, ditinggalkannya ibunya yang tetap tidak mau makan. Tampaknya, ibu dan anak ini tetap akan teguh pada pendirian masing-masing, sampai salah satu atau keduanya dipaksa menyerah oleh keadaan.

Sa’ad terus berangkat setiap hari menuju rumah Arqam bin Abil Arqam untuk mengikuti dakwah Nabi bersama sahabat-sahabat yang lain. Sementara itu ibu Sa’ad pun tetap dalam tekadnya. Dia terus melakukan aksi mogok makan sampai kondisi tubuhnya benar-benar lemah mengkhawatirkan. Ketika keadaannya sudah demikian gawat, beberapa orang dari keluarga Sa’ad mencarinya untuk diajak pulang. Mereka meminta Sa’ad untuk pulang guna menyaksikan ibunya untuk kali terakhir. Mereka mengatakan kepada Sa’ad bahwa mungkin ajal ibunya sudah dekat.

Karena hormat dan sayang kepada ibunya, Sa’ad pun mau memenuhi permintaan keluarganya itu. Setibanya di rumah, dada Sa’ad bergemuruh. Dia seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia hampir saja menangis menyaksikan perempuan yang sangat dicintainya itu tergolek lemah tak berdaya. Tubuhnya sangat kurus dan hanya dibalut kulit yang keriput. Sungguh sebuah pemandangan yang memilukan hati. Perempuan yang mengandung dan melahirkannya, kemudian dengan susah payah membesarkannya, terlihat sangat menderita sekali. Perlahan Sa’ad melangkahkan kaki menuju pembaringan ibunya. Tangannya bergetar. Air matanya seolah berebutan hendak keluar. Disentuhnya tangan ibunya, Dingin. Perlahan kelopak mata ibunya yang sudah keriput itu terbuka. Sorot mata yang tajam mengamati Sa’ad seolah ingin memastikan bahwa sosok di hadapannya itu adalah anaknya yang selalu dia rindukan kedatangannya.

“lbu kira engkau tidak mau pulang lagi, Nak.” kata ibu Sa’ad setelah berhasil meyakinkan dirinya bahwa pemuda yang duduk di dekatnya itu benar anaknya.
“Kata orang-orang engkau telah lupa dengan ibumu ini. Sihir Muhammad itu telah membuatmu lupa segalanya.” Kata ibu Sa’ad lirih. Tangannya meraih tangan Sa’ad dan mendekapkannya ke dadanya, seolah takut anaknya akan pergi lagi meninggalkannya.
“Sa’ad anakku, lihatlah ibumu ini. Kembalilah ke agama nenek moyang kita, Nak. lbu mohon. Tinggalkan si gila Muhammad itu, atau engkau akan menyaksikan ibumu ini menemui ajal. Demi Latta dan Uzza, ibu tidak akan makan sampai engkau meninggalkan agama baru yang menyesatkan itu!”

Batin Sa’ad berkecamuk mendengar ucapan ibunya itu. Sedih dan kacau. Terjadi perang antara keyakinannya terhadap lslam dan cintanya kepada ibu yang telah membesarkannya dengan penuh kasih sayang itu. Akhirnya, Sa’ad menentukan akhir dari peperangan itu dan memperlihatkan keteguhan imannya. Dengan tegas dia berkata,

“Wahai ibunda tercinta, demi Allah, aku sangat mencintaimu. Namun cintaku kepada Allah dan Rasul-Nya telah mengalahkan cintaku kepada dunia dan seluruh isinya. Sungguh, seandainya engkau mempunyai seratus nyawa, lalu nyawa-nyawa itu keluar satu per satu, tidaklah aku akan meninggalkan agama ini. Bahkan andai seratus nyawa ibu ditambah satu nyawaku sendiri, aku tetap akan memegang teguh akidahku. Maka terserah ibu, mau makan atau tidak.”

Mendengar ucapan Sa’ad, sang ibu akhirnya menyerah dan mau makan kembali. Dia merasa sia-sia dengan usahanya, dan yakin jika usaha itu diteruskan akan gagal. Kekuatan dan keteguhan iman Sa’ad bin Abi Waqqash terbukti mampu mengalahkan egoisme seorang ibu yang tidak menghendaki anaknya menempuh jalan kebenaran. Sa’ad telah membuktikan keteguhan iman seorang mukmin sekaligus kecintaannya yang sangat besar kepada lslam. Sebuah kecintaan yang kadang memunculkan tindakan nekat yang berbahaya, seperti pernah terjadi pada masa-masa awal dakwah lslam. Saat itu, kehidupan kaum muslimin diliputi tekanan dan siksaan dari kaum kafir Quraisy. Salat pun dilakukan dengan sembunyi-sembunyi.

Cerita Sa’ad bin Abi Waqqash – Suatu ketika, sekelompok kaum Quraisy mengganggu Sa’ad yang sedang mengerjakan salat. Karena kesal dan tidak tahan, Sa’ad memukul salah seorang dari mereka dengan tulang unta hingga terluka. Darah yang mengalir dari luka kafir Quraisy itu menjadi darah pertama yang tumpah akibat konflik antara umat lslam dengan orang kafir; konflik yang kemudian semakin hebat dan menjadi batu ujian keimanan dan kesabaran kaum muslimin.

Setelah peristiwa itu, Rasulullah meminta para sahabat agar lebih tenang dan bersabar dalam menghadapi orang Quraisy. Rupanya, tindakan Sa’ad telah membawa hikmah berupa turunnya wahyu yang berisi arahan bagi kaum muslimin dalam menghadapi kaum kafir Quraisy.

“Dan bersabarlah (Muhammad) terhadap apa yang mereka katakan dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik.” (Q.S. al-Muzzammil [73]: 10)

Ketetapan dari Allah bagi setiap mukmin untuk menahan diri dari gangguan kafir Quraisy berlangsung lama. Saat itu memang jumlah kaum muslimin masih sangat sedikit sehingga kekuatannya juga kecil’ Maka wajar jika Allah yang Maha Mengetahui menahan mereka dengan kesabaran demi kesabaran’ Jalan keluar yang diberikan oleh-Nya bukanlah perang, melainkan hijrah ke tempat yang lebih aman’ Maka berhijrahlah kaum muslimin, dua kali ke Habsyi dan akhirnya ke Madinah.

Di antara barisan muhajirin itu terdapat pemuda gagah berani yang kelak menjadi salah satu tulang punggung perjuangan kaum muslimin dalam menghadapi kaum kafir. Dialah Sa’ad bin Abi Waqqas. Setelah jumlah dan kekuatan kaum muslimin semakin besar Allah swt. memperkenankan mereka melakukan perlawanan fisik terhadap kaum kafir, Maka mulailah peperangan demi Peperangan meletus di antara kedua pihak ini, Perang pertama, perang Badar, menjadi “Perang akidah” karena keberadaannya sangat menentukan keberlangsungan dakwah lslam yang dibawa oleh Rasulullah saw. di Madinah. Pada peperangan ini, Sa’ad menjadi salah satu pejuang lslam terbaik dengan keahliannya yang amat terkenal: memanah.

http://ceritaislami.net/saad-bin-abi-waqqas-sang-singa-yang-menyembunyikan-kukunya/