Tampilkan postingan dengan label kisah umat terdahulu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah umat terdahulu. Tampilkan semua postingan

Kisah Seorang Laki-laki dan Anjing yang Kehausan

22.05 Add Comment
Kisah Seorang Laki-laki dan Anjing yang Kehausan
Kisah Seorang Laki-laki dan Anjing yang Kehausan
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketika seorang laki-laki sedang dalam perjalanan, ia kehausan. Ia masuk ke dalam sebuah sumur yang curam, lalu minum di sana. Kemudian ia keluar. Tiba-tiba ia mendapati seekor anjing di luar sumur yang sedang menjulurkan lidahnya dan menjilat-jilat tanah lembab karena kehausan. Orang itu berkata, ‘Anjing ini telah merasakan apa yang baru saja saya rasakan.’

Kemudian ia kembali turun ke sumur dan memenuhi sepatunya dengan air lalu membawanya naik dengan menggigit sepatu itu. Sesampainya di atas ia minumi anjing tersebut. Karena perbuatannya tadi Allah berterimakasih kepadanya dan mengampuni dosanya.”
Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kalau kami mengasihi binatang kami mendapatkan pahala?” Beliau bersabda, “Berbuat baik kepada setiap makhluk pasti men-dapatkan pahala.” [HR. al-Bukhari, 2363; Muslim, 2244.]

PELAJARAN YANG DAPAT DIPETIK DARI KISAH INI:

  1. Anjuran untuk senantiasa ihsan (berbuat baik) kepada hewan yang jinak yang tidak diperintahkan untuk membu-nuhnya.
  2. Diperbolehkan bepergian seorang diri tanpa membawa bekal perjalanan jika ia tidak khawatir dengan keselamatan diri-nya yakni dari serangan musuh maupun mati kelaparan.
  3. Rahmat Allah sangat luas. Dia membalas dengan karunia. yang sangat banyak padahal orang itu hanya melakukan ke-baikan yang sedikit.
  4. Diperbolehkan menggali sumur atau sejenisnya di tempat-tempat umum untuk kemaslahatan bersama.
  5. Diperbolehkan berbuat baik sekali pun kepada orang musyrik.

Sumber: Sittuna Qishshah Rawaha an-Nabi wash Shahabah al-Kiram, Muhammad bin Hamid Abdul Wahab, edisi bahasa Indonesia: “61 KISAH PENGANTAR TIDUR Diriwayatkan Secara Shahih dari Rasulullah dan Para Sahabat”, pent. Pustaka Darul Haq, Jakarta/Alsofwa.com

Allah Menolong Orang Yang Jujur dan Menepati Janji

21.35 Add Comment
Allah Menolong Orang Yang Jujur dan Menepati Janji
Allah Menolong Orang Yang Jujur dan Menepati Janji
PERTOLONGAN ALLAH UNTUK ORANG YANG JUJUR

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa seorang laki-laki dari kalangan Bani Israil meminta kepada seseorang Bani Israil lainnya agar memberikan pinjaman kepadanya seribu dinar. Lalu si pemberi pinjaman berkata, “Datangkanlah para saksi. Saya meminta mereka untuk bersaksi.”

Lantas orang yang meminta pinjaman berkata, “Cukuplah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menjadi saksi.”

Pemberi pinjaman menambahkan, “Datangkanlah seorang penjamin,.”

Dia menjawab, “Cukuplah Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai penjamin.”

Pemberi pinjaman berkata, “Engkau benar.”

Kemudian dia menyerahkan piutang tersebut kepadanya sampai waktu yang ditentukan.

Selanjutnya si peminjam pergi mengarungi lautan untuk memenuhi kebutuhannya. Setelah itu, dia mencari kendaraan yang akan digunakan untuk mendatangi pemberi pinjaman sesuai waktu yang telah ditetapkan. Ternyata dia tidak menemukan kendaraan. Lantas dia mengambil kayu dan melubanginya, lalu dia memasukkan seribu dinar di dalamnya dan selembar kertas darinya untuk temannya (si pemberi pinjaman). Kemudian dia meratakan tempatnya kembali.

Selanjutnya dia membawa kayu tersebut ke laut. Dia berkata, “Ya Allah! Sungguh, Engkau mengetahui bahwa saya meminjam seribu dinar kepada si fulan, lalu dia meminta penjamin kepadaku dan saya berkata, ‘Cukuplah Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai penjamin.’ Dia pun ridha karena Engkau. Dia juga meminta saksi, lalu saya berkata, ‘Cukuplah Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi saksi.’ Dia pun ridha karena Engkau. Sesungguhnya saya telah bersusah payah untuk menemukan kendaraan untuk mengantarkan utangku kepada pemiliknya, ternyata saya tidak menemukan. Sungguh, saya menitipkan kayu ini kepada-Mu.”

Lantas dia melemparkannya ke laut sampai masuk ke dalam laut kemudian bergerak. Di samping itu dia masih saja mencari kendaraan untuk menuju ke daerahnya.

Di lain pihak, si pemberi pinjaman menanti-nanti barangkali kendaraan yang membawa piutangnya telah datang. Ternyata ada kayu yang mengapung di dekatnya. Lalu dia mengambil kayu tersebut untuk dijadikan sebagai kayu bakar buat keluarganya. Ketika dia menggergajinya, dia menemukan uang dan selembar kertas. Kemudian si peminjam hutang datang dan memberikan seribu dinar, lalu dia berkata, “Demi Allah, saya telah bersusah payah mencari kendaraan untuk menyerahkan piutangmu. Ternyata saya tidak menemukan kendaraan sebelum saya datang sekarang ini.”

Setelah beberapa waktu kemudian, teman yang meminjam uang darinya telah sampai. Dia bertanya, “Apakah engkau pernah mengirimkan sesuatu kepadaku?”

Dia menjawab, “Saya kan sudah bilang bahwa saya tidak menemukan kendaraan sebelum saya datang sekarang ini.”

Dia berkata, “Allah telah mengantarkan darimu sesuatu yang engkau kirimkan melalui kayu dan mengalir dengan membawa seribu dinar.”

(HR. Al-Bukhari).

Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1

Artikel www.KisahMuslim.com

Kisah Al Baqarah (Sapi Betina) di Zaman Nabi Musa

21.31 Add Comment
Kisah Al B
Kisah Al Baqarah (Sapi Betina) di Zaman Nabi Musa
Kisah Al Baqarah (Sapi Betina) di Zaman Nabi Musa
aqarah (Sapi Betina) di Zaman Nabi Musa – Singkatnya, tersebutlah di kalangan Bani Israil seorang kaya raya. Dia mempunyai saudara sepupu yang fakir. Tidak ada ahli waris selain dirinya. Ketika orang kaya tersebut tidak lekas mati, maka saudara sepupu ini membunuhnya agar dia dapat mewarisi hartanya. Lalu dia membawa mayat saudaranya ke desa lain lalu melemparkan di pelataran desa. Kemudian dia berlagak hendak menuntut balas. Dia bersama orang-orang mendatangi Nabi Musa ‘alaihissalam lalu mereka memohon kepada Nabi Musa ‘alaihissalam agar berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala supaya diberi keterangan mengenai pembunuh orang tersebut.

Kemudian Nabi Musa ‘alaihissalam memerintahkan mereka agar menyembelih sapi dengan berkata kepada mereka:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.” Mereka berkata: “Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?” (QS. Al-Baqarah: 67).

Maksudnya, apakah engkau mengejek kami, padahal kami bertanya kepadamu mengenai orang yang terbunuh, dan engkau justru memerintahkan kami agar menyembelih sapi.

Lantas Nabi Musa ‘alaihissalam menjawab:

“Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-Baqarah: 67)

Maksudnya, termasuk orang-orang yang mengejek kaum mukmin.

Ketika orang-orang mengetahui bahwa menyembelih sapi merupakan rencana dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka mereka menanyakan ciri-ciri sapi tersebut kepada Nabi Musa ‘alaihissalam.

Ternyata di balik hal tersebut ada hikmah besar, yaitu bahwa di kalangan Bani Israil terdapat orang shalih. Dia mempunyai anak laki-laki yang masih kecil dan dia mempunyai anak sapi betina. Dia membawa anak sapi tersebut ke dalam hutan dan berkata, “Ya Allah! Saya menitipkan anak sapi ini kepada-Mu untuk anakku kelak jika dia dewasa.”

Selanjutnya orang shalih ini meninggal dunia, sehingga anak sapi ini masih di hutan sampai bertahun-tahun. Anak sapi itu berlari setiap kali dilihat oleh orang. Ketika anak orang shalih tadi telah dewasa, dia menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya. Dia membagi malamnya menjadi tiga bagian. Dia melaksanakan shalat dalam sepertiga malam, tidur dalam sepertiga malam, dan duduk di samping ibunya dalam sepertiga malam. Di pagi hari dia mencari kayu bakar yang ditaruh di punggungnya, lalu datang ke pasar untuk menjual kayunya sesuai kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kemudian dia menyedekahkan sepertiganya, memakan sepertiganya, dan memberikan kepada sang ibu sepertiganya.

Pada suatu hari sang ibu berkata kepadanya, “Sesungguhnya ayahmu telah mewariskan anak sapi betina untukmu yang dia titipkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di hutan ini, maka berangkatlah! Berdoalah kepada Rabb Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, Nabi Ismail ‘alaihissalam, dan Nabi Ishaq ‘alaihissalam agar mengembalikan anak sapi tersebut kepadamu. Ciri-cirinya, jika engkau melihatnya, kamu membayangkan seakan-akan sinar matahari memancar dari kulitnya. Dia diberi nama ‘Al-Mudzahhabah’ karena keindahan dan kejernihannya.”

Kemudian anak tersebut memasuki hutan, lalu dia melihat anak sapi sedang merumput, lantas dia memanggilnya dengan mengatakan, “Saya bermaksud kepadamu dengan menyebut nama Rabb Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, Nabi Ismail ‘alaihissalam, dan Nabi Ishaq ‘alaihissalam.” Kontan sapi itu menengok ke arahnya dan berjalan mendekatinya sehingga sapi tersebut berdiri di hadapannya. Dia lalu memegang lehernya dan menuntunnya.

Dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, tiba-tiba sapi tersebut bicara, “Wahai anak yang berbakti kepada kedua orang tua! Tunggangilah aku, karena hal itu lebih meringankanmu.’

Anak tersebut berkata, “Sesungguhnya ibuku tidak memerintahkanku melakukan hal itu. Akan tetapi, beliau berkata ‘peganglah lehernya.’”

Sapi itu berkata, “Demi Rabb Bani Israil, jika engkau menunggangiku, niscaya kamu tidak dapat menguasaiku untuk selamanya. Ayo berangkat! Sungguh, jika engkau memerintahkan gunung melepaskan diri dari pangkalnya dan berjalan bersamamu, niscaya ia melakukannya lantaran baktimu kepada ibumu.”

Lantas pemuda tersebut berjalan bersama sapi menemui ibunya. Sang ibu berkata kepadanya, “Sesungguhnya engkau orang fakir. Engkau tidak memiliki harta. Engkau kerepotan mencari kayu bakar di siang hari dan melakukan qiyamul lail di malam hari. Oleh karena itu, pergilah. Jual sapi ini!”

Si anak bertanya , “Saya jual dengan harga berapa?”

Ibunya menjawab, “Tiga dinar. Engkau jangan menjual tanpa pertimbanganku.” Harga sapi telah dipatok tiga dinar. Sang anak pun berangkat ke pasar.

Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus malaikat agar dia melihat makhluk-Nya dan kekuasaan-Nya sekaligus untuk menguji pemuda tersebut bagaimana baktinya kepada ibunya. Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui hal tersebut.

Sang malaikat bertanya, “Kamu jual sapi ini dengan harga berapa?”

Dia menjawab, “Tiga dinar. Dengan catatan ibuku meridhainya.”

Lantas malaikat berkata, “Saya beli enam dinar. Tetapi engkau tidak perlu meminta persetujuan ibumu.”

Pemuda itu berkata, “Seandainya engkau memberiku emas seberat sapi ini pun, saya tidak akan mengambilnya melainkan dengan ridha ibuku.”

Kemudian dia membawa pulang sapi kepada ibunya dan dia menceritakan tentang harganya.

Lalu sang ibu berkata, “Kembali lagi! Juallah dengan harga enam dinar berdasarkan ridha dariku.’

Dia pun berangkat ke pasar dan menemui malaikat. Sang malaikat bertanya, “Apakah engkau telah meminta persetujuan ibumu?”

Pemuda itu menjawab, “Beliau menyuruhku agar tidak mengurangi harganya dari enam dinar dengan catatan saya meminta persetujuan ibu.”

Sang malaikat berkata, “Saya akan memberimu dua belas dinar.”

Pemuda itupun menolak, lalu kembali kepada ibunya dan menceritakan hal tersebut kepadanya.

Ibunya berkata, “Sungguh, orang yang mendatangimu adalah malaikat dalam bentuk manusia untuk mengujimu. Jika dia mendatangimu lagi, katakan padanya, ‘Apakah engkau memerintahkan kami untuk menjual sapi ini ataukah tidak?”

Pemuda itu pun melakukan hal tersebut, lalu malaikat berkata, “Kembalilah kepada ibumu. Dan tolong sampaikan padanya, ‘Biarkanlah sapi ini. Sungguh Nabi Musa bin Imran ‘alaihissalam akan membelinya dari kalian untuk mengungkap korban pembunuhan seseorang di kalangan kaum Bani Israil. Janganlah engkau menjualnya kecuali dengan kepingan dinar yang memenuhi kulitnya. Oleh karena itu, tahan dulu sapi ini.’”

Allah Subhanahu wa Ta’ala memang menakdirkan orang-orang Bani Israil yang menyembelih sapi itu. Mereka terus-menerus menanyakan ciri-ciri sapi tersebut dan ternyata ciri-ciri yang diberikan sesuai dengan ciri-ciri sapi pemuda shalih tersebut. Hal ini merupakan imbalan bagi pemuda tersebut atas baktinya kepada sang ibu sebagai anugerah dan kasih sayang.

Akhirnya mereka pun membeli sapi tersebut dengan emas sepenuh kulit sapi. Lantas mereka menyembelih sapi tersebut kemudian memukulkan bagian dari sapi kepada korban pembunuhan sebagaimana perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Selanjutnya orang yang terbunuh bangkit; hidup lagi dengan izin Allah, sedang urat lehernya masih mengalirkan darah. Lalu dia berkata, “Yang membunuh saya adalah fulan.” Kemudian dia jatuh dan mati di tempatnya. Maka, si pembunuh terhalang mendapat warisan.

Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1

Artikel www.KisahMuslim.com

Iblis Lebih Takut Kepada Orang Yang Berilmu Dibanding Ahli Ibadah

19.26 Add Comment
Iblis Lebih Takut Kepada Orang Yang Berilmu Dibanding Ahli Ibadah
Iblis Lebih Takut Kepada Orang Yang Berilmu Dibanding Ahli Ibadah
Diriwayatkan bahwa seseorang ahli ibadah dari kalangan Bani Israil beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di biaranya yang terletak di atas gunung. Pada suatu hari sebagaimana bisa dia keluar dari tempat ibadahnya untuk berkeliling merenungkan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala di sekitar tempat ibadahnya. Di sela-sela dia berkeliling ini, dia melihat di jalan sesosok manusia yang menebarkan bau tidak sedap darinya. Ahli ibadah itu berpaling menuju ke tempat lain, sehingga dia terlindungi dari tercium bau ini. Ketika itu setan menampakkan diri dalam bentuk seorang laki-laki shalih yang memberi nasihat. Setan berkata kepadanya, “Sungguh amal-amal kebaikanmu telah menguap (sirna), dan persediaan amal kebaikanmu tidak dihitung di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Lantas si ahli ibadah persediaan amal kebaikanmu tidak dihitung di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Lantas si ahli ibadah bertanya, “Mengapa?” Dia menjawab, “Karena engkau enggan mencium bau anak cucu Adam semisal kamu.” Ketika wajah si ahli ibadah terlihat sedih, setan pun pura-pura merasa kasihan dan memberinya nasihat, “Jika engkau ingin agar Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni kesalahanmu, saya akan memberi nasihat kepadamu agar engkau mencari tikus gunung, lalu engkau gantungkan tikus itu di lehermu seraya beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sepanjang hidupmu. Si ahli ibadah yang bodoh ini pun melaksanakan nasihat setan yang sengaja mencari kesempatan ini. Selanjutnya, si ahli ibadah memburu tikus gunung. Dia pun terus-menerus beribadah dengan membawa najis dari enam puluh tahun sampai dia meninggal dunia (semua ibadahnya pun tidak sah).

terdapat riwayat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengomentari kisah tersebut, “Suatu masalah ilmiah –atau majelis ilmu- lebih baik daripada beribadah enam puluh tahun.”

Diriwayatkan dari Syaikh Abdul Qadir al-Jailani rahimahullah bahwa pada suatu hari beliau sedang berjalan di tempat lapang, tiba-tiba muncul cahaya terang di ufuk, kemudian dia mendengar suara memanggil, “Wahai Abdul Qadir saya adalah Rabbmu. Sungguh, telah aku halalkan untukmu semua hal-hal yang haram.” Lantas Abdul Qadir berkata, “Enyahlah kau, wahai makhuk terkutuk!” Seketika itu, cahaya tersebut berubah menjadi gelap. Tiba-tiba muncul suara mengatakan, “Wahai Abdul Qadir! Sungguh, engkau telah selamat dariku lantaran pengetahuanmu tentang Rabbmu dan ilmu fikihmu. Sesungguhnya aku telah menyesatkan tujuh puluh orang dari kalangan ahli ibadah senior dengan cara seperti ini. Seandainya tidak karena ilmu, pastilah aku dapat menyesatkanmu seperti mereka.”

Diriwayatkan bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam pada suatu hari berdiam di atas gunung. Lantas Iblis mendatanginya dan berkata kepadanya, “Bukanka engkau mengatakan bahwa manusia yang telah dikehendaki mati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, pastilah dia mati?” Nabi Isa ‘alaihissalam menjawab, “Iya.” Iblis bertanya lagi, “Kalau tidak?” Dia menjawab, “Tidak akan mati.” Ketika itu Iblis –laknat Allah atasnya- berkata kepada Nabi Isa ‘alaihissalam, “Kalau demikian, lemparkanlah dirimu dari atas gunung. Apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki engkau mati, amak engkau akan mati. Dan jika Dia tidak menghendaki, maka engkau tidaka kan mati.” Lantas Nabi Isa berkata kepadanya, “Enyahlah kau, wahai makhluk terkutuk! Sesungguhnya Allah-lah yang menguji hamba-Nya. Sedangkan hamba-Nya tidak berhak menguji-Nya.”

Diriwayatkan bahwa Imam Syafi’i pada suatu hari sedang duduk di majelis pengajiannya. Tiba-tiba Iblis –laknat Allah untuknya- ikut duduk di antara murid-murid Imam Syafi’i dalam rupa seorang laki-laki seperti mereka, kemudian dia mengajukan pertanyaan sebagai berikut, “Bagaimana pendapatmu mengenai Dzat yang menciptakanku sesuai kehendak-Nya dan Dia menjadikanku sebagai hamba sesuai kehendak-Nya. Setelah itu, jika Dia berkehendak, Dia memasukanku ke dalam surga. Jika Dia berkehendak, Dia memasukanku ke dalam neraka. Apakah Dia berbuat adil atau berbuat zhalim dalam hal tersebut?” Berkat cahaya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, Imam Syafi’i dapat mengenali Iblis, lantas beliau menjawabnya dengan mengatakan, “Hai kamu! Jika Dia menciptakanmu sesuai apa yang engkau kehendaki, maka Dia berbuat zhalim kepadamu. Jika Dia menciptakanmu sesuai apa yang Dia kehendaki, amak Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak ditanya tentang apa yang dikerjakan-Nya.”

Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki dari kalangan Bani Israil berpuasa selama tujuh puluh tahun. Setiap tahunnya hanya tujuh hari dia tidak berpuasa. Lantas dia memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar diperlihatkan bagaimana setan menggoda manusia. Ketika sampai waktu yang cukup lama dia masih saja tidak melihat hal tersebut, maka dia berkata, “Seandainya saya meneliti kesalahan-kesalahanku dan dosa-dosaku kepada Rabbku niscaya lebih baik dari apa yang saya mohon ini.” Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus malaikat kepadanya, lalu malaikat berkata, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutusku. Dia berkata kepadamu, ‘Sesungguhnya perkataan yang baru saja engkau ucapkan lebih Kucintai dari pada ibadahmu yang telah lalu. Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membuka tabir matamu, maka lihatlah!’.” Lalu dia pun dapat melihat. Ternyata bala tentara Iblis mengelilingi bumi. Dengan demikian, tidak ada seorang pun melainkan dikerubuti setan sebagaimana lalat mengerubuti bangkai. Lantas dia berkata, “Wahai Rabbku! Siapakah yang dapat selamat dari hal ini?” Rabb menjawab, “Orang yang mempunyai wara dan lemah lembut.”

Dikatakan bahwa di pagi hari Iblis mengumumkan kepada bala tentaranya di bumi. Ia berkata, “Barangsiapa menyesastkan seorang muslim, maka saya akan memakaikan mahkota kepadanya.” Lalu salah satu dari bala tentara setan berkata kepadanya, “Saya terus-menerus menggoda si fulan sehingga dia menceraikan istrinya.” Iblis berkata, “Ia hampir menikah.” Bala tentara lain lapor, “Saya terus-menerus menggoda si fulan sehingga dia durhaka kepada orang tuanya.” Iblis berkata, “Dia hampir berbakti kepada kedua orang tuanya.” Bala tentara lain lagi berkata, “Saya terus menerus menggoda si fulan sehingga dia berbuat zina.” Iblis berkata, “Bagus kamu.” Bala tentara lain lagi berkata, “Saya terus menerus menggoda si fulan sehingga dia minum arak.” Iblis berkata, “Bagus kamu.” Bala tentara lain lagi berkata, “Saya terus-menerus menggoda si fulan sehingga dia membunuh.” Iblis menjawab, “Bagus, kamu, kamu.”

Dikatakan bahwa setan berkata kepada seorang perempuan, “Kamu adalah separuh dari bala tentaraku. Kamu adalah anak panah yang saya lemparkan yang tidak akan pernah meleset. Kamu adalah tempat rahasiaku. Kamu adalah utusanku untuk memenuhi kebutuhanku.”

Al-Hasan menceritakan bahwa ada sebuah pohon yang disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu seorang laki-laki mendatangi pohon tersebut seraya berkata, “Sungguh, saya akan menebang pohon ini.” Dia datang untuk meneabgn pohon ini dengna penuh amarah murni karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lantas Iblis menemuinya dalam bentuk manusia, lalu dia berkata, “Apa yang engkau inginkan?” Lelaki tersebut menjawab, “Saya ingin menebang pohon yang disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Iblis berkata, “Jika engkau tidak menyembah pohon ini, maka apakah orang yang menyembahnya mengganggumu?” Dia menjawab, “Sungguh, saya akan menebangnya.” Lalu setan berkata kepadanya, “Apakah kamu mau sesuatu yang lebih baik buatmu, yaitu kamu tidak menebangnya dan setiap hari kamu mau sesuatu yang lebih baik buatmu, yaitu kamu tidak meneabngnya dan setiap hari kamu mendapati dua dinar di bantalmu di pagi hari.” Dia bertanya, “Dari siapa dua dinar tersebut?” Setan menjawab, “Dariku untukmu.” Selanjutnya dia pulang. Dia pun menemukan dua dinar di bantalnya. Setelah itu, keesokan harinya dia tidak menemukan apa-apa di bantalnya, lalu dia bangkit dengan penuh emosi hendak menebang pohon. Lantas setan menjelma dalam bentuk manusia berkata, “Apa yang engkau inginkan?” Dia menjawab, “Saya ingin menebang pohon yang disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Setan berkata, “Kamu bohong. Kamu tidak mempunyai kemampuan untuk melakukannya.” Dia masih tetap pergi untuk menebang pohon, lalu setan membantingnya ke tanah dan mencekiknya sampai hampir mati. Lalu setan dengan penuh emosi murni karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka saya tidak mempunyai kemampuan untuk mengalahkanmu, maka saya menipu kamu dengan dua dinar, lalu aku tidak memberikan lagi. Ketika engkau datang dengan penuh emosi karean dua dinar, maka saya dapat menguasai kamu.”

Diceritakan bahwa Iblis –laknat Allah atasnya- pernah muncul di hadapan Fir’aun dalam bentuk seorang laki-laki ketika Fir’aun sedang di kamar mandi. Namun, Fir’aun tidak mengenalinya. Lantas Iblis berkata kepadanya, “Celaka kamu! Kamu tidak mengenaliku? Padahal engkaulah yang menciptakanku? Bukankah engkau adalah orang yang berkata, ‘Saya adalah Rabb kalian yang Maha Luhur?”

Iblis pernah muncul di hadapan Nabi Sulaiman ‘alaihissalam. Lalu Nabi Sulaiman berkata kepadanya, “Perbuatan apakah yang paling kamu sukai dan paling dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, pastilah saya tidak akan menyampaikan kepadamu bahwa saya tidak tahu apa ada sesuatu yang lebih saya sukai dari pada homoseks antara laki-laki dengan laki-laki lain dan lesbian antara perempuan dengan perempuan lain.’

Ada seseorang yang melaknat Iblis setiap hari seribu kali. Pada suatu hari ketika dia sedang tidur, dia didatangi seseorang yang membangunkannya. Dia berkata kepadanya, “Bangunlah, dinding ini akan roboh menimpamu.” Lalu orang tersebut berkata kepadanya, “Siapakah Anda? Kenapa Anda merasa kasihan kepada saya seperti ini?” Ia menjawab, “Saya adalah Iblis.” Dia berkata kepada Iblis, “Bagaimana bisa seperti ini padahal saya melaknatmu setiap hari seribu kali?” Iblis berkata, “Hal ini lantaran saya tahu kedudukan orang-orang yang mati syahid. Makanya, saya khawatir kamu termasuk di antara mereka sehingga engkau memperoleh kedudukan seperti mereka.”

Catatan: orang yang terkena reruntuhan dinding atau mati tergencet di bawah bangunan, maka dia dianggap mati syahid berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Orang-orang yang mati syahid ada lima, yaitu orang-orang yang terkena penyakit pes, orang yang sakit perut, orang yang tenggelam, orang yang tertimpa reruntuhan, dan orang yang mati syahid di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Muslim)

Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1

Artikel www.KisahMuslim.com

Peristiwa-Peristiwa Yang Terjadi di Masyarakat Arab Sebelum Islam

19.15 Add Comment
Peristiwa-Peristiwa Yang Terjadi di Masyarakat Arab Sebelum Islam
Peristiwa-Peristiwa Yang Terjadi di Masyarakat Arab Sebelum Islam
Budaya Arab: Perang Antar Suku

Banyak kemiripan sifat dan kejadian yang ada di masa jahiliyah dengan keadaan kita sekarang. Kita sepakat, masa jahiliyah adalah keadaan buruk. Dengan mempelajari kisah mereka kita bisa mengambil hikmah dan solusi dari apa yang sedang kita hadapi saat ini.

Masayarakat jahiliyah memiliki gap (kesenjangan) sosial yang besar. Hal itu disebabkan fanatik kesukuan yang begitu tinggi yang mereka miliki. Fanatik suku membawa mereka ke medan perang. Seolah-olah solusi hanya mendapat jawaban dengan pedang. Tak jarang karena masalah sepele, tapi ratusan bahkan ribuan nyawa harus dikorbankan.

Masyarakat modern saat ini, juga masih berkutat pada masalah yang sama. Mereka sebut isu ini dengan konflik SARA (suku, agama, dan ras). Loyalitas sebagian kaum muslimin atau manusia pada umumnya saat ini, dibangun berdasarkan suku, partai, negara, bahkan klub sepabola atau organisasi lainnya.

Peristiwa Sebelum Islam Datang

Ibnu al-Atsir mengisahkan tentang banyaknya perang di masa jahiliyah dalam kitabnya al-Kamil fi at-Tarikh. Ia mengatakan, “Saya sebutkan hari-hari yang dikenal dan perang-perang yang dikisahkan. Yang merangkum banyak konflik yang sengit. Namun hal itu belum termasuk perampokan, karena hal itu meluas dari tema bahasan.” (Ibnu al-Atsir dalam al-Kamil fi at-Tarikh, 1/454).

Masyarakat dunia sekarang juga melakoni sangat banyak perang. Saat ini, katanya peperangan jauh merosot jumlahnya setelah Perang Dunia II, tapi kita masih merasa, dunia banyak berperang.

Di masayarakat jahiliyah, terkadang sesama saudara saling berperang. Ja’far bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu bercerita singkat kepada Raja an-Najasyi tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di masyarakat Arab sebelum kedatangan Islam,

أَيُّهَا الْمَلِكُ، كُنَّا قَوْمًا أَهْلَ جَاهِلِيَّةٍ نَعْبُدُ الأَصْنَامَ، وَنَأْكُلُ الْمَيْتَةَ وَنَأْتِي الْفَوَاحِشَ، وَنَقْطَعُ الأَرْحَامَ، وَنُسِيءُ الْجِوَارَ يَأْكُلُ الْقَوِيُّ مِنَّا الضَّعِيفَ


“Wahai Raja, kami dulu adalah orang-orang yang diliputi kebodohan. Kami menyembah patung. Memakan bangkai (hewan yang disembelih tanpa menyebut nama Allah). Dan melakukan perbuatan keji. Kami memutus tali kekerabatan. Berlaku buruk terhadap tetangga. Yang kuat menindas yang lemah.” (HR. Ahmad, No: 1740. Syu’aib al-Arnauth mengatakan, “Sanadnya hasan”. Sedang menurut al-Abani shahih).

Di antara konflik yang terjadi di masa jahiliyah adalah:

Perang al-Basus

Perang al-Basus adalah konflik antara bani Bakr dan Taghlib. Berlangsung begitu lama, hingga 40 tahun (494-534 M). Al-Basus adalah nama seorang wanita, bibi dari Jasas bin Murrah al-Bakry. Wanita ini memiliki seekor onta yang dinamai Sarab. Suatu hari Sarab masuk bercampur dengan onta milik tokoh Arab ketika itu, Wail bin Rabi’ah at-Taghliby, yang lebih dikenal dengan sebutan Kulaib.

Saat itu kondisi perasaan Kulaib sedang tidak nyaman. Ia kesal karena istrinya, Jalilah binti Murrah, mengganggap saudaranya, al-Jasas, lebih mulia darinya. Kulaib pun memanah onta bibi Jasas yang nyasar ke pemukimannya. Matilah si onta dan muncullah malapetaka. Jasas kesal dengan perlakuan Kulaib yang membunuh onta bibinya. Namun Kulaib, sang tokoh Arab, malah mengucapkan kalimat yang tidak menyenangkan. Ia mengancam kalau mau, ia bisa membunuh semua ontanya. Jasas naik pitam, lalu menghujamkan pedangnya kepada Kulaib.

Norma di masa itu, bagaimana pun kedudukan seseorang, ia tidak pantas dibunuh karena seekor onta. Lalu bagaimana dengan Kulaib? Seorang penguasa Arab. Jasas sadar ia telah melakukan kesalahan besar. Namun tiadalah berarti lagi penyesalan itu. Genderang perang telah ditabuh. Mengalirlah darah antara dua kabilah, Taghlib dan Bakr, selama 40 tahun lamanya (Ayyamul Arab fi al-Jahiliyah oleh Muhammad, Jad, Hal: 142).

Perang Dahis dan Ghubara

Dahis dan Ghubara adalah nama dua orang penunggang kuda. Keduanya adu pacu, kemudian salah seorang dari mereka memukul kuda kompetitornya agar tidak lebih dulu memasuki garis finis. Kemudian pecahlah perang antar dua kabilah. Ribuan orang terbunuh karenanya (al-Kamil fi at-Tarikh, 1/473).

Keributan serupa juga terjadi di masa kita. Di bidang yang sama, olahraga. Pernah terjadi Tragedi Heysel. Karena perselisihan pendukung klub sepak bola, dalam satu waktu, 39 orang tewas dan 600 lebih luka-luka.

Yaum Bi’ats

Yaum Bi’ats adalah perselisihan antara kabilah Aus dan Khazraj (di Madinah) di masa jahiliyah. Perselisihan ini berlangsung sangat lama. Ibnu Hajar al-Asqalani menyatakan bahwa perang ini berlangsung selama 30 tahun (Fathu al-Bari, 2/441). Berakhir ketika Islam masuk Kota Madinah itu. Mempersaudarakan mereka dan menghilangkan sekat-sekat kesukuan.

وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara.” (QS:Ali Imran | Ayat: 103).

Perang Fijar

Di antara peristiwa paling masyhur pada masa Arab jahiliyah adalah Perang Fijar. Perang antara Quraisy yang bersekutu dengan Kinanah berhadapan dengan Qais yang bersekutu dengan Ilan. Perang ini meletus pada saat Nabi ﷺ berusia dua puluh tahun.

Perang ini dinamakan Perang Fijar karena dinodainya kesucian bulan haram. Dalam perang ini, Rasulullah ﷺ ikut serta dan membantu paman-pamannya dengan menyediakan anak panah untuk mereka. Kisah selengkapnya bisa disimak di al-Kamil fi at-Tarikh, 1/527-532 dan 598-607.

Yaum Ain Abagh

Yaum Ain Abagh adalah peperangan antara kabilah Ghasan dan Lakhm. Pemimpin Ghasan adalah al-Harits. Sedangkan pemimpin Lakhm adalah al-Mundzir. Mundzir terbnuh di perang tersebut. Orang-orang Lakhm pun kalah dan berlarian mundur. Namun orang-orang Ghasan tetap mengejar mereka hingga korban semakin bertambah (al-Kamil fi at-Tarikh, 1/487).

Yaum Awarah

Awarah adalah sebuah bukit. Peperangan ini terjadi antara Raja Hirah, al-Mundzir bin Imril Qais, dengan Bakr bin Wail. Pemicunya adalah persekongkolan Bakr dengan Salamah bin al-Harits.

Peperangan berhasil dimenangkan Mundzir bin Imril Qais. Mundzir bersumpah akan menyembelih mereka semua hingga darah mereka mengalir dari puncak Bukit Awarah sampai di kaki bukit. Ia terus menyembelih musuh-musuhnya. Sampai darah mengering dan membeku. Lalu ia tumpahkan air pada darah itu hingga mengalir ke kaki bukit. Ia penuhi sumpahnya (al-Kamil fi at-Tarikh, 1/497).

Yaum al-Kulab al-Awwal

Kisah lain, yang menceritakan betapa mudahnya darah ditumpahkan di masa jahiliyah adalah peristiwa Yaum al-Kulab al-Awwal. Peperangan terjadi antara dua bersaudara; Syurahil bin al-Harits bin Amr al-Kindy dengan Salamah bin al-Harits bin Amr al-Kindy.

Syurahil dan Salamah beserta sekutu keduanya bertempur di wilayah al-Kulab. Sebuah daerah antara Bashrah dan Kufah. Perang semakin sengit berkecamuk. Hingga seseorang di kelompok Syurahil menyerukan sayembara, “Siapa yang berhasil membawa kepada Salamah, ia akan mendapatkan 100 onta”. Dan seseorang dari kelompok Salama menyerukan hal serupa, “Siapa yang berhasil membawa kepada Syurahil, ia akan mendapatkan 100 onta”.

Peperangan dimenangkan oleh Salamah dan sekutnya Taghlib. Syurahil dan sekutunya Bakr menderita kekalahan. Syurahil mencoba kabur melarikan diri. Namun pasukan saudaranya memacu kuda dan berhasil menyusul lalu membunuh Syurahil. Kemudian ia bawa kepalanya menuju Salamah (al-Kamil fi at-Tarikh, 1/493).

Penutup

Membaca kisah-kisah jahiliyah, kita mendapatkan inti permasalahan yang sama sedang menimpa kita. Loyalitas dan fanatik kelompok begitu kuat dan berpotensi konflik. Bahkan fanatisme yang terjadi di masa itu, lebih hebat lagi. Namun Islam datang sebagai solusi. Mempersaudarakan dan mendamaikan mereka. Hingga persaudaraan Islam lebih di atas segalanya.

Islam datang membimbing mereka. Melembutkan hati. Dan memberi kecerdasan emosional dan spiritual. Islam adalah solusi. Imam Malik pernah mengatakan,

لَنْ يَصْلُحَ آخِرُ هَذِهِ الأُمَّةِ إِلاَّ بِمَا صَلُحَ بِهِ أَوَّلُهَا .

“Tidak akan baik generasi akhir umat ini, kecuali dengan apa yang membuat baik generasi awalnya.” (Asy Syifa fi Huquuqil Musthafa, 2/88).

Apa yang membuat generasi awal umat ini baik? Jawabnya syariat Islam.

Sumber:
– http://islamstory.com/ar/أيام-العرب-في-الجاهلية
– http://uqu.edu.sa/page/ar/91200

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com

Budaya Arab: Akhlak Masyarakat Arab Sebelum Islam

19.05 Add Comment
Budaya Arab: Akhlak Masyarakat Arab Sebelum Islam
Budaya Arab: Akhlak Masyarakat Arab Sebelum Islam
Dalam beberapa artikel sebelumnya, telah dibahas akhlak-akhlak terpuji masyarakat Arab jahiliyah. Mereka jujur walau kepada musuh. Mereka teguh pendirian dan memiliki komitmen yang kuat atas apa yang telah diucapkan, meskipun berkonsekuensi harus mengubur hidup-hidup buah hati mereka. Mereka jujur walahpun merugikan diri. Dan lain-lain.

Sayangnya, potensi baik ini mereka gunakan untuk keburukan sehingga akhlak yang sejatinya baik menjadi buruk. Di antara kebiasaan buruk atau budaya buruk masyarakat Arab jahiliyah adalah:

Mabuk-mabukan dan Berjudi

Budaya buruk masyarakat Arab jahiliyah adalah akrab dengan mabuk dan perjudian. Dua kebiasaan buruk yang melahirkan keburukan lainnya. Allah ﷻ berfirman,

إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنْصابُ وَالأَزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS:Al-Maidah | Ayat: 90).

Masyarakat Arab jahiliyah terbiasa meminum khamr. Bagi mereka, minuman memabukkan itu layaknya air putih sebagai penghilang dahaga bagi kita. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, ia berkata,

سَمِعْتُ أَبِي يَقُولُ فِي الجَاهِلِيَّةِ: “اسْقِنَا كَأْسًا دِهَاقً


“Aku mendengar ayahku di masa jahiliyah mengatakan, ‘Berilah kami minum dengan gelas-gelas penuh berisi minuman (khamr)’.” (HR. al-Bukhari dalam Kitab Fadha-il ash-Shahabah, Bab Ayyamul Jahiliyah, No: 3627).

Yakni, Paman Nabi ﷺ, al-Abbas bin Abdul Muthalib, di masa jahiliyah meminta khamr sebagai minuman biasa.

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, ia berkata,

خَطَبَ عُمَرُ عَلَى مِنْبَرِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: “أَمَّا بَعْدُ، أَلَا وَإِنَّ الْخَمْرَ نَزَلَ تَحْرِيمُهَا يَوْمَ نَزَلَ وَهِيَ مِنْ خَمْسَةِ أَشْيَاءَ مِنَ الْحِنْطَةِ، وَالشَّعِيرِ، وَالتَّمْرِ، وَالزَّبِيبِ، وَالْعَسَلِ


“Umar pernah berkhotbah di atas mimbar Rasulullah ﷺ. Ia memanjatkan puja-puji kepada Allah. Kemudian berkata, ‘Amma ba’du.. Ketauhilah sesungguhnya ayat yang mengharamkan khamr (minuman keras) telah diturunkan. Pada hari ayat itu turun, khamr terbuat dari lima hal: terbuat dari gandum halus, gandum kasar, kurma, anggur kering, dan madu’.” (HR. al-Bukhari dalam Kitab at-Tafsir Suratul Maidah, No: 4343 dan Muslim dalam Kitab at-Tafsir, Bab fi Nuzuli Tahrimil Khamr, No: 3032).

Minuman kerasnya penduduk Madinah terbuat dari perasan kurma. Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu mengatakan,

كُنْتُ سَاقِيَ الْقَوْمِ يَوْمَ حُرِّمَتِ الْخَمْرُ فِي بَيْتِ أَبِي طَلْحَةَ، وَمَا شَرَابُهُمْ إِلَّا الْفَضِيخُ: الْبُسْرُ وَالتَّمْر

“Aku pernah menuangkan khamr pada sekelompok orang di rumah Abu Thalhah. Hari itu adalah hari khamr diharamkan. Mereka (penduduk Madinah) hanya minum fadhih (minuman keras yang terbuat dari perasan kurma), kurma muda dan kurma masak.” (HR. al-Bukhari dalam Kitab al-Asyribah, Bab Nazala Tahrimi al-Khamr wa Hiya min al-Busri wa at-Tamri, No: 5261 dan Muslim dalam Kitab al-Asyribah, Bab Tahrimi al-Khamr wa Bayan Annaha Takunu min ‘Ashir al-‘Inab wa min at-Tamr wa al-Busr, No: 1980. Lafadz ini adalah lafadz riwayat Muslim).

Sedangkan khamrnya penduduk Yaman adalah al-Bit’u. Khamr yang terbuat dari madu. Abu Musa al-Asy’ari mengatakan,

بَعَثَنِي رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَمُعَاذًا إِلَى الْيَمَن، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَفْتِنَا فِي شَرَابَيْنِ كُنَّا نَصْنَعُهُمَا بِالْيَمَنِ الْبِتْعُ؛ وَهُوَ مِنَ الْعَسَلِ، يُنْبَذُ حَتَّى يَشْتَدَّ، وَالْمِزْرُ وَهُوَ مِنَ الذُّرَةِ وَالشَّعِيرِ، يُنْبَذُ حَتَّى يَشْتَدَّ. فَقَالَ: “أَنْهَى عَنْ كُلِّ مُسْكِرٍ أَسْكَرَ عَنِ الصَّلاةِ

“Rasulullah ﷺ mengutusku dan Muadz menuju Yaman. Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, berilah fatwa kepada kami mengenai minuman yang biasa kami buat di negeri Yaman, yaitu al-Bit’u. Terbuat dari madu yang direndam hingga mengental’. Beliau bersabda, ‘Aku melarang segala sesuatu yang memabukkan dan dapat menghalangi dari shalat’.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Asyribah, Bab Bayan anna Kulla Muskirin Khamrun wa anna Kulla Khamrin Haram, No: 2001).

Orang-orang Daylam biasa meminum khamr yang terbuat dari gandum (Muhammad bin Razaq bin Tharhuni, 1/121-122).

Perlu dicatat, walaupun orang-orang Arab jahiliyah sangat terbiasa minum khamr, tapi mereka tetap menganggap perbuatan ini tercela. Karena membuat kesadaran hilang dan meruntuhkan wibawa1.

Ada beberapa poin menarik mengamati hubungan masyarakat Arab jahiliyah dengan khamr. Ungkapan-ungkapan tentang khamr menunjukkan mereka pecandu berat khamr. Kalau kita hidup karena minum air putih, maka mereka mengungkapkan, ‘mereka hidup karena minum khamr’. Mereka sebut khamr sebagai minuman biasa. Seolah-olah dahaga sahara akan lenyap jika ada khamr. Karena itu, Alquran membuat tahapan dalam pengharamannya. Setelah itu, mereka tinggalkan candu yang luar biasa itu. Mereka komitmen dengan dua kalimat syahadat. Persaksian yang menuntut menaati apa yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan dan menjauhi apa yang dilarang. Saat itulah tampak akhlak luhur (tepat janji dan komitmen) yang mereka miliki berfungsi sebagaimana mestinya.

Berbangga Dengan Nasab dan Mencela Keturunan

Nabi ﷺ memperingatkan umatnya agar menjauhi akhlak jahiliyah yang rusak. Beliau ﷺ bersadba,

أَرْبَعٌ في أمَّتِي مِنْ أمْرِ الجَاهِلِيَّةِ لا يَتْرُكُوهُنَّ: الفَخْرُ في الأَحْسَابِ، والطَّعْنُ في الأَنْسَابِ، والاسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ، وَالنِّياحَةُ

“Empat hal yang terdapat pada umatku yang termasuk perbuatan jahiliyah yang susah untuk ditinggalkan: (1) membangga-banggakan kebesaran leluhur, (2) mencela keturunan, (3) mengaitkan turunnya hujan kepada bintang tertentu, dan (4) meratapi mayit (niyahah)”. Lalu beliau bersabda, “Orang yang melakukan niyahah bila mati sebelum ia bertaubat, maka ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dan ia dikenakan pakaian yang berlumuran dengan cairan tembaga, serta mantel yang bercampur dengan penyakit gatal” (HR. Muslim no. 934).

Termasuk budaya Arab jahiliyah juga adalah berbangga sebagai pengurus dan memimpin Masjid al-Haram. Kaum Quraisy dan musyrikin Mekah membangga-banggakannya di hadapan Arab lainnya.

مُسْتَكْبِرِينَ بِهِ سامِرًا تَهْجُرُونَ


“dengan menyombongkan diri terhadap Alquran itu dan mengucapkan perkataan-perkataan keji terhadapnya di waktu kamu bercakap-cakap di malam hari.” (QS:Al-Mu’minuun | Ayat: 67).

Kebanggaan yang dimaksud adalah kesombongan. Abdullah bin al-Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan, “Mereka menyombongkan diri dengan Ka’bah. Mereka mengatakan, ‘Kami adalah ahli (yang mengurusi) Ka’bah’ (HR. an-Nasai 11351 dan al-Hakim 3487. Al-Hakim mengatakan, ‘Hadits ini sanadnya shahih’. Dan disepakati oleh adz-Dzahabi).

Meremehkan dan Menghina Orang Miskin dan Lemah

Orang-orang Arab jahiliyah menghina orang miskin dan lemah. Allah ﷻ berfirman,

وَكَذَلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لِيَقُولُوا أَهَؤُلاَءِ مَنَّ اللهُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْنِنَا أَلَيْسَ اللهُ بِأَعْلَمَ بِالشَّاكِرِينَ

Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata: “Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah Allah kepada mereka?” (Allah berfirman): “Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?” (QS:Al-An’am | Ayat: 53).

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ berkhotbah di hadapan orang-orang pada hari pembebasan Kota Mekah, beliau mengatakan,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ الجَاهِلِيَّةِ وَتَعَاظُمَهَا بِآبَائِهَا، فَالنَّاسُ رَجُلاَنِ: بَرٌّ تَقِيٌّ كَرِيمٌ عَلَى اللهِ، وَفَاجِرٌ شَقِيٌّ هَيِّنٌ عَلَى اللهِ، وَالنَّاسُ بَنُو آدَمَ، وَخَلَقَ اللهُ آدَمَ مِنْ تُرَابٍ”، قَالَ اللهُ: {يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ


“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah telah menghapus kesombongan jahiliyah dan membangga-banggakan leluhur. Manusia itu hanya ada dua: (1) orang baik, bertakwa kepada Allah lagi mulia dan (2) orang yang fajir, celaka lagi hina di sisi Allah. Manusia adalah anak Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah. Allah Ta’ala berfirman,

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS:Al-Hujuraat | Ayat: 13). (HR. Abu Dawud dalam Kitab al-Adab, Bab fi at-Tafakhur bil Ahsab, No: 5116, at-Turmudzi No: 3956, dan Ahmad No: 8721. Dihasankan oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’ No: 1787).

Ummul mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha menuturkan,

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها، قَالَتْ: “أَسْلَمَتِ امْرَأَةٌ سَوْدَاءُ لِبَعْضِ العَرَبِ وَكَانَ لَهَا حِفْشٌ فِي المَسْجِدِ، قَالَتْ: فَكَانَتْ تَأْتِينَا فَتَحَدَّثُ عِنْدَنَا، فَإِذَا فَرَغَتْ مِنْ حَدِيثِهَا قَالَتْ:


“Ada seorang wanita berkulit hitam yang bekerja dengan beberapa orang Arab yang telah masuk Islam. Wanita ini memiliki rumah kecil lagi sempit di dekat masjid. Aisyah radliallahu ‘anha melanjutkan; Dia pernah datang lalu bercerita di hadapan kami. Jika telah selesai dari ceritanya dia bersya’ir

وَيَوْمُ الوِشَاحِ مِنْ تَعَاجِيبِ رَبِّنَا *** أَلاَ إِنَّهُ مِنْ بَلْدَةِ الكُفْرِ أَنْجَانِي

Peristiwa selendang adalah salah satu dari keajaiban Rabb kami

Sungguh peristiwa itu terjadi di negeri kafir yang kemudian Allah menyelamatkanku

Ketika dia terus bersyair, Aisyah mengatakan, “Apakah hari selendang itu?”

Wanita itu berkata, “Pernah ada seorang anak wanita menemui beberapa orang keluargaku. Anak itu membawa selendang yang terbuat dari kulit. Kemudian selendang tersebut terjatuh. Tiba-tiba seekor burung menyambar dan mengambilnya, karena mengira selendang itu daging. Tapi orang-orang menuduhku dan menyiksaku hingga mereka menggeladahku dari bagian depanku. Ketika mereka berada di sekelilingku, dan aku dalam keadaan gundah tiba-tiba burung itu datang dan dan berputar-putar di atas kepala kami, kemudian melemparkan selendangnya. Orang-orang mengambil selendang tersebut. Kukatakan pada mereka, ‘Itulah yang kalian tuduhkan padaku, padahal aku berlepas diri dari tuduhan itu’.” (HR. al-Bukhari dalam Kitab Fadha-il ash-Shahabah, Bab Ayyam Al-Jahiliyah, No: 3623).

Kisah ini menunjukkan sikap masyarakat jahiliyah yang meremehkan orang-orang lemah. Ketika orang lemah bersalah, maka langsung dihakimi begitu saja.

Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu mengatakan,

إِنَّ أَهْلَ الإِسْلاَمِ لاَ يُسَيِّبُونَ، وَإِنَّ أَهْلَ الجَاهِلِيَّةِ كَانُوا يُسَيِّبُون

“Orang-orang Islam itu tidak suka mencela. Dan budaya orang-orang jahiliyah itu suka mencela.” (HR. al-Bukhari dalam Kitab al-Fara-idh, Bab Mirats as-Sa-ibah, No: 6327).

Sebagian orang sibuk dengan budaya atau kebiasaan Arab yang tidak menggerus karakter bangsa. Seperti pakaian. Padahal sejak masa Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, dll. pakaian seperti itu telah dikenal. Dan terbukti tidak berbahaya dengan keutuhan Indonesia. Malah mereka memperjuangkan tanah air ini. Namun mereka lupa dengan budaya Arab jahiliyah yang berbahaya. Lihatlah generasi kita sekarang terbiasa dengan mem-bully dan menghina orang-orang lemah dan miskin.

Abu Hayyan rahimahullah menafsirkan ayat

وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرً

“dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.” (QS:Al-Israa’ | Ayat: 26).

Allah Ta’ala melarang pemborosan. Dulu, orang-orang jahiliyah menyembelih hewan dengan cara membacok. Dan ini dilarang syariat. Mereka menghamburkan harta (boros) untuk berbangga dan didengar orang. Mereka sebutkan hal itu dalam bait-bait syair. Dan Allah ﷻ melarang mengeluarkan harta yang bukan untuk kebaikan. Serta bukan untuk mendekatkan diri kepada-Nya (Abu Hayyan dalam Tafsir al-Bahr al-Muhith, 7/40).

Budaya-budaya Arab jahiliyah ini masih ada di masyarakat Arab sekarang dan juga Indonesia. Hendaknya yang demikian lebih menjadi sasaran perbaikan.

Membunuh Anak Perempuan

Orang-orang Arab jahiliyah memiliki rasa malu dan harga diri yang tinggi. Mereka tidak bisa menerima jika salah seorang anggota keluarga dilecehkan. Aib yang diterima salah seorang anggota keluarga adalah aib keluarga. Oleh karena itu, peperangan sering terjadi karena salah seorang anggota kabilah dihina. Bagi keluarga yang lemah, mereka akan dikuasai. Ketika dikuasai, artinya siap-siap dilecehkan.

Anak-anak perempuan tidak bisa mereka andalkan untuk membela keluarga. Menurut mereka, semakin banyak anggota keluarga perempuan, semakin lemah kabilah. Ketika lemah, maka para perempuan akan tertawan dan menjadi hina dengan perbudakan. Mereka tidak sanggup menahan rasa malu itu. Hingga mereka bunuh anak-anak perempuan mereka sebelum hal itu jadi kenyataan. Allah ﷻ berfirman,

وَإِذَا الْمَوْؤُدَةُ سُئِلَتْ (8) بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ

“Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh.” (QS:At-Takwiir | Ayat: 8-9).

وَإِذا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِما ضَرَبَ لِلرَّحْمنِ مَثَلاً ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ

“Padahal apabila salah seorang di antara mereka diberi kabar gembira dengan apa yang dijadikan sebagai misal bagi Allah Yang Maha Pemurah; jadilah mukanya hitam pekat sedang dia amat menahan sedih.” (QS:Az-Zukhruf | Ayat: 17).

وَإِذا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالأُنْثى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ (58) يَتَوارى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوءِ ما بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلى هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرابِ أَلا ساءَ ما يَحْكُمُونَ


“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (QS:An-Nahl | Ayat: 58)

عَنْ أُمَيْمَةُ بِنْتُ رُقَيْقَةَ أنها جَاءَتْ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تُبَايِعُهُ عَلَى الْإِسْلَامِ فَقَالَ أُبَايِعُكِ عَلَى أَنْ لَا تُشْرِكِي بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا تَسْرِقِي وَلَا تَزْنِي وَلَا تَقْتُلِي وَلَدَكِ وَلَا تَأْتِي بِبُهْتَانٍ تَفْتَرِينَهُ بَيْنَ يَدَيْكِ وَرِجْلَيْكِ وَلَا تَنُوحِي وَلَا تَبَرَّجِي تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى.

Umaimah binti Ruqaiqah radhiyallahu ‘anha mendatangi Rasulullah ﷺ untuk membaiat beliau atas Islam. Lalu beliau bersabda, “Aku membaiatmu untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anakmu, tidak datang membawa kebohongan yang kamu bohongkan didepan tangan dan kakimu, tidak berbuat niyahah (meratapi mayit), dan tidak berhias seperti orang-orang jahiliyyah dahulu.” (HR. Ahmad 6850).

Pergaulan Bebas Ala Jahiliyah

Ada beberapa bentuk hubungan laki-laki dan perempuan di masa jahiliyah. Ada yang sah dan dilanggengkan oleh syariat Islam. Seperti pernikahan yang sekarang kita kenal. Ada juga pergaulan bebas antara laki-laki dan wanita yang diharamkan hingga seakrang. Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Ummul mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha tentang pergaulan laki-laki dan perempuan di masa jahiliyah. Ada 3 bentuk pergaulan bebas di masa jahiliyah: (1) Nikah istibdha. Perzinahan yang bertujuan untuk memperbaiki keturunan. (2) Nikah ar-Rahthu. Pergaulan bebas yang kita kenal dengan istilah “kumpul kebo”. (3) Nikah dzawatu rayah. Yang hari ini kita sebut dengan pelacuran.

Dari Aurah bin az-Zubari, Aisyah radhiallahu ‘anha, istir Nabi ﷺ, bercerita kepada Aurah. Kata Aisyah:

Nikah di zaman jahiliyah ada 4 macam:

Pertama: nikah yang kita kenal pada hari ini (setelah Islam datang). Seorang laki-laki meminang wanita atau anak perempuan kepada walinya, lalu membayar mahar, kemudian menikahinya.

Kedua: Bentuk pernikahan yang lain yaitu seorang laki-laki berkata kepada istrinya, ketika istrinya itu telah suci dari haidl, “Pergilah kepada si Fulan, kemudian mintalah untuk dikumpulinya”, dan suaminya sendiri menjauhinya, tidak menyentuhnya sehingga jelas istrinya itu telah mengandung dari hasil hubungannya dengan laki-laki itu. Kemudian apabila telah jelas kehamilannya, lalu suaminya itu melanjutkan mengumpulinya apabila dia suka. Dan hal itu diperbuat karena keinginan untuk mendapatkan anak yang cerdas (bibit unggul). Nikah semacam ini disebut nikah istibdha’.

Ketiga: Kemudian bentuk yang lain, yaitu sejumlah laki-laki, kurang dari 10 orang berkumpul, lalu mereka semua mencampuri seorang wanita. Apabila wanita tersebut telah hamil dan melahirkan anaknya, selang beberapa hari perempuan itu memanggil mereka dan tidak ada seorang pun diantara mereka yang dapat menolak panggilan tersebut sehingga merekapun berkumpul di rumah perempuan itu. Kemudian wanita itu berkata kepada mereka, “Sungguh kalian semua telah mengetahui urusan kalian, sedang aku sekarang telah melahirkan, dan anak ini adalah anakmu hai fulan”. Dan wanita itu menyebut nama laki-laki yang disukainya, sehingga dihubungkanlah anak itu sebagai anaknya, dan laki-laki itupun tidak boleh menolaknya.

Keempat: Bentuk keempat yaitu, berhimpun laki-laki yang banyak. Lalu mereka mencampuri seorang wanita yang memang tidak akan menolak setiap laki-laki yang mendatanginya. Sebab mereka itu adalah pelacur-pelacur yang memasang bendera-bendera di muka pintu sebagai tanda. Siapa saja yang menginginkannya boleh masuk. Kemudian jika salah seorang di antara wanita itu ada yang hamil dan melahirkan anaknya, maka para laki-laki tadi berkumpul di situ. Dan mereka pun memanggil orang-orang ahli firasat, lalu dihubungkanlah anak itu kepada ayahnya oleh orang-orang ahli firasat itu menurut anggapan mereka. Maka anak itu pun diakuinya, dan dipanggil sebagai anaknya, dimana orang (yang dianggap sebagai ayahnya) itu tidak boleh menolaknya.

Kemudian setelah Allah mengutus Muhammad ﷺ sebagai Rasul dengan jalan kebenaran, beliau menghapus pernikahan model jahiliyah tersebut keseluruhannya, kecuali pernikahan sebagaimana yang berjalan sekarang ini. (HR. Bukhari dan Abu Dawud, dalam Nailul Authar juz 6, hal. 178-179).

Perhatikan bentuk pernikahan yang ketiga (kumpul kebo) dan yang keempat (pelacuran). Dalam hal ini, orang jahiliyah lebih mending dibanding sebagian orang saat ini. Wanita-wanita yang melakukan kumpul kebo dan pelacuran di masa jahiliyah lebih memiliki kehormatan dan kedudukan dibanding wanita yang melakukan kumpul kebo dan pelacuran di zaman sekarang.

Bayangkan! Di zaman jahiliyah pelacur sekalipun masih bisa meminta pertanggung-jawaban laki-laki yang telah berhubungan dengan mereka. Yang hal itu tidak mampu dilakukan wanita serupa pada hari ini. Artinya wanita itu lebih dihargai. Dan laki-laki di masa itu memiliki tanggung jawab dan harga diri. Mereka malu menolak tugas pengasuhan anak walaupun pengasuhan itu membutuhkan biaya.

Orang-orang di masa jahiliyah juga menikahi wanita bersaudara, yang keduany masih hidup. Mereka menikahi ibu tiri mereka ketika sudah dicerai atau sang ayah wafat.

Abdullah bin al-Abbas radhiallahu ‘anhuma menafsirkan ayat:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا وَلاَ تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آتَيْتُمُوهُنَّ

“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya.” (QS:An-Nisaa | Ayat: 19).

Apbila seseorang wafat, maka keluarganya adalah orang yang paling berhak atas istrinya. Jika salah seorang dari keluarganya mau, mereka bisa menikahinya. Jika semuanya mau, mereka juga bisa menikahinya. Jika mereka tidak mau, mereka tidak menikahinya. Pihak keluarga suami ini, lebih berhak terhadap si wanita dibanding keluarga wanita itu sendiri. Kemudian Allah ﷻ turunkan ayat ini.”

Dalam riwayat Abu Dawud, Abdullah bin al-Abbas menafisrikan ayat ini:

لاَ يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا وَلاَ تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آتَيْتُمُوهُنَّ إِلاَّ أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ

“Tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata.” (QS:An-Nisaa | Ayat: 19).

Dulu, seorang laki-laki mendapat waris dari kerabatnya, istri-istri mereka. Warisannya adalah seorang wanita hingga ia wafat. Atau wanita itu menebus dirinya. Kemudian Allah ﷻ memberi keputusan pelarangan hal itu (HR. Abu Dawud dalam Kitab an-Nikah, Bab Qouluhu Ta’ala “لا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا وَلا تَعْضُلُوهُنَّ”, No: 2090. Dihasankan oleh al-Albani dalam Shahih Abi Dawud, 6/325).

Penutup

Inilah beberapa contoh akhlak jahiliyah. Umar bin al-Khattab mengatakan,

قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إنَّمَا تُنْقَضُ عُرَى الْإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً إذَا نَشَأَ فِي الْإِسْلَامِ مَنْ لَمْ يَعْرِفْ الْجَاهِلِيَّةَ

“Sesungguhnya ikatan Islam akan terurai satu per satu, apabila di dalam Islam tumbuh orang yang tidak mengetahui perkara jahiliyah.”

Mengapa? Karena orang yang tidak mengetahui akhlak buruk jahiliyah, kemungkinan besar ia akan jatuh ke dalamnya. Realita kita sekarang telah membuktikan apa yang diucapkan Umar.

Sumber:
– http://islamstory.com/ar/أخلاق-العرب-قبل-الإسلام

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com

Budaya Arab: Agama Bangsa Arab Sebelum Islam

18.49 Add Comment
Budaya Arab: Agama Bangsa Arab Sebelum Islam
Budaya Arab: Agama Bangsa Arab Sebelum Islam
Pada saat Islam masuk di Jazirah Arab, di zaman Nabi Ibrahim ﷺ, akhlak mulia tersebar. Penduduk lembah Mekah mengenal tauhid dan jauhi dari syirik. Kemudian waktu terus berlalu, keimanan pun tergerus budaya dan pemikiran. Masuklah berhala-berhala ke Ka’bah yang suci. Agama Nabi Ibrahim hanya dipegang sebagian kecil masyarakat.

Sejarah Masuknya dan Tersebarnya Berhala di Jazirah Arab

Beberapa masa setelah wafatnya Nabi Ibrahim dan Ismail, terjadi perubahan besar di tanah Mekah. Agama tauhid tergerus oleh ombak kesyirikan. Penduduk tanah suci di sekitar Baitullah al-Haram menjadi penyembah berhala.

Pelajaran bagi kita umat Islam di Indonesia, tauhid yang dibawa oleh para rasul, dan bertempat di tanah suci, bisa berganti menjadi agama pagan penyembah berhala. Tidak ada yang menjamin negeri ini, Indonesia, akan selamanya menjadi negeri mayoritas umat Islam, kalau kita tidak mengkaji agama ini kemudian mendakwahkannya.

Perubahan besar di Jazirah Arab itu dibawa oleh tokoh kabilah Khuza’ah, Amr bin Luhai al-Khuza’i. Ia adalah pemimpin politik dan agama di Mekah. Ia dicintai dan disegani masyarakat. Penduduk Mekah menganggapnya sebagai ulama besar dan wali yang mulia. Amr pernah bersafar ke Syam. Ia melihat penduduk Syam menyembah patung-patung. Dan ia terkesan. Saat kembali ke Mekah, ia bawa tradisi Syam ini ke tanah haram. Masuklah berhala Hubal ke Jazirah Arab, dan ditempatkan di sisi Ka’bah.

Diriwayatkan bahwa Hubal terbuat dari batu akik merah yang berbentuk manusia. Orang-orang Quraisy mendapati tangan kanan Hubal telah hancur. Lalu mereka ganti dengan tangan dari emas. Inilah berhala pertama orang-orang musyrik, yang paling besar, dan paling suci menurut mereka1.

Setelah Hubal, tanah Mekah berangsur-angsur disesaki berhala. Di antara berhala-berhala besar mereka adalah: Manat2 yang disembah Kabilah Hudzail dan Khuza’ah. Berhala ini termasuk berhala tertua. Terletak di pantai Laut Merah. Di wilayah al-Musyallal3, di Qudaid. Kemudian ada Latta. Berhalanya orang-orang Thaif. Dan al-Uzza, berhala termuda namun yang terbesar dari dua berhala sebelumnya. Berhala ini disembah oleh orang-orang Quraisy dan kabilah-kabilah lainnya4. Tiga berhala ini –selain Hubal- adalah berhala terbesar masyarakat Arab.

Kemudian kesyirikan semakin tersebar dan berhala pun semakin bertebaran.

Setelah Amr bin Luhai berhasil digoda gandrung dengan berhala, setan pun memainkan perannya di babak berikutnya. Mereka memberi wangsit kepada Amr5. Memberitakannya bahwa berhala kaum Nuh –Wud, Suwa’, Yaghuts, Yauq, Nasr- terkubur di Jeddah. Amr datang ke sana, kemudian menggalinya. Ketika jamaah haji datang dari berbagai negeri, ia berikan berhala-berhala itu pada mereka. Hadiah dari penguasa Mekah, tanah suci tempat berhaji tentulah istimewa bagi mereka.

Berhala Wud diberikan pada kabilah Kalb penduduk Daumatul Jandal. Suwa’ diserahkan pada Hudzail bin Mudrikah yang tinggal di Ruhath, wilayah Hijaz. Yaghuts untuk bani Uthaif keturunan bani Murad yang tinggal di Jurf dekat Saba’. Yauq diberikan kepada orang-orang Hamadan di wilayh Khaiwan di Yaman. Dan Nasr untuk keluarga Dzi al-Kila’ di wilayah Hamir. Kemudian mereka membuatkan kuil untuk berhala-berhala ini. Mereka mengangungkannya sebagaimana mengagungkan Ka’bah. Walaupun mereka berkeyakinan Ka’bah lah yang lebih utama6.

Dakwah Amr bin Luhai kian tersebar di Jazirah. Kabilah-kabilah lainnya meniru apa yang dilakukannya. Mereka menjadikan patung sebagai sesembahan. Membangunkannya kuil. Dan memberinya nama-nama7.

Walaupun berhala kian marak, namun masyarakat Arab tetap mengagungkan Ka’bah. Mereka pula yang menaruh berhala-berhala mereka di sekeliling Ka’bah.

Apakah Arab Beriman Kepada Allah?

Puja-puji terhadap patung berhala telah menjadi agama dan budaya masyarakat Arab. Meski demikian, tidak sedikit pun mereka meyakini bahwa berhala-berhala itu yang menciptakan mereka dan alam semesta. Mereka yakin Allah ﷻ lah sang pecipta. Banyak ayat Alquran yang menjelaskan hal ini.

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ

“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).” (QS:Al-‘Ankabuut | Ayat: 61).

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللهُ قُلِ الْحَمْدُ للهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ
“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS:Luqman | Ayat: 25).

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُون
Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)? (QS:Az-Zukhruf | Ayat: 87).

Namun setan membisiki bahwa berhala-berhala itulah yang mendekatkan diri mereka kepada Allah ﷻ. Berhala itu menjadi perantara antara mereka dengan Allah.

أَلاَ للهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلاَّ لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللهِ زُلْفَى إِنَّ اللهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللهَ لاَ يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. (QS:Az-Zumar | Ayat: 3).

Ayat ini dengan tegas menjelaskan, orang-orang Arab jahiliyah beriman kepada Allahﷻ. tapi mereka campuri keimanan itu dengan kesyirikan. Mereka menyembah Allah, dan juga menyembah berhala. Dari sini kita dapat memahami bahwa mengagungkan orang-orang shaleh secara berlebihan, lalu menjadikan mereka perantara dalam beribadah kepada Allah ﷻ adalah tradisi masyarakat Arab jahilihay (budaya Arab).

Arab Telah Mengenal Jin dan Setan

Orang-orang Arab jahiliyah telah mengenal jin dan setan. Pada masa itu setan-setan berkumpul antara bukit Shafa dan Marwa. Abdullah bin al-Abbas radhiallahu ‘anhuma ketika menafsirkan ayat,

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللهِ
“Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syiar Allah.” (QS:Al-Baqarah | Ayat: 158)

mengatakan, “Di masa jahiliyah, setan-setan berkumpul di malam hari antara bukit Shafa dan Marwa. Di antara dua bukit itulah terdapat berhala-berhala orang-orang musyrik. Saat Islam datang, kaum muslimin mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, kami tidak mau sa’i antara Shafa dan Marwa. Karena dulu kami melakukan sesuatu (syirik) di sana saat jahiliyah’. Kemudian Allah menurunkan firman-Nya,

فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا

“Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa´i antara keduanya.” (QS:Al-Baqarah | Ayat: 158).

Tidak berdosa, ibadah di sana berpahala8. Para sahabat takut kalau mereka teringat dosa-dosa lama. Kemudian Allah menenangkan hati mereka dengan menjelaskan keutamaan beribadah di antara Shafa dan Marwa.

Orang-orang jahiliyah berinteraksi dengan jin. Seperti memohon perlindungan kepada mereka.

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS:Al-Jin | Ayat: 6).

Budaya Arab ini juga memiliki kesamaan dengan kultur local Indonesia. Para orang tua sering mengajarkan anak-anak mereka yang main di tempat-tempat sepi untuk mohon izin dulu dengan “penunggu-penunggu” di sana apabila hendak buang air kecil atau besar, atau sekadar bermain di sana. Bukan berlindung kepada Allah ﷻ.

وَجَعَلُوا للهِ شُرَكَاءَ الْجِنَّ وَخَلَقَهُمْ

“Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu.” (QS:Al-An’am | Ayat: 100).

Dunia Perdukunan

Di Madinah –yang dulu bernama Yatsrib- ada seorang dukun wanita yang terkenal. Sebagian penduduk Madinah mengetahui kedatangan Nabi ﷺ melalui kabar dari sang dukun. Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhu mengatakan,

أَوَّلُ خَبَرٍ جَاءَنَا بِالْمَدِينَةِ مَبْعَثَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنَّ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ كَانَ لَهَا تَابِعٌ مِنَ الْجِنِّ، جَاءَ فِي صُورَةِ طَيْرٍ، حَتَّى وَقَعَ عَلَى جِذْعٍ لَهُمْ، فَقَالَتْ لَهُ: أَلاَ تَنْزِلُ إِلَيْنَا فَتُحَدِّثُنَا، ونُحَدِّثُكَ، وتُحَذِّرُنَا ونُحَذِّرُكَ؟ فَقَالَ: لاَ، إِنَّهُ قَدْ بُعِثَ بِمَكَّةَ نَبِيٌّ حَرَّمَ الزِّنَى، وَمَنَعَ مِنَّا الْقَرَارَ
“Kami mendapatkan kabar pertama kali tentang diutusnya Rasulullah ﷺ dari seorang dukun perempuan penduduk Madinah. Ia memiliki pengikut dari bangsa jin9. Jin tersebut datang dalam wujud seekor burung. Lalu hinggap di salah satu dahan. Wanita itu berkata pada burung, ‘Adakah berita untuk kami sehingga bisa engkau sampaikan dan kami juga berkisah padamu. Engkau memperingatkan kami –dengan berita tersebut-, kami juga memperingatkanmu?’ Burung itu menjawab, ‘Tidak, hanya saja telah diutus seorang nabi di Mekah yang mengharamkan zina dan melarang al-Qarar10.”11

Masyarakat jahiliyah biasa minta pendapat para dukun. Ibnu Juraij menafsirkan ayat:

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ

“Barangsiapa kufur kepada thaghut.” (QS:Al-Baqarah | Ayat: 256).

Menurutnya thaghut dalam kalimat tersebut adalah dukun yang mendapat bisikan setan. Mereka memberi wangsit pada lisan dan hati para dukun12.

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bertanya kepada Rasulullah ﷺ,

يا رسول الله إنَّ الكهَّان كانوا يُحَدِّثُونَنَا بالشَّيء فنجده حقًّا. قال: “تِلْكَ الْكَلِمَةُ الْحَقُّ، يَخْطَفُهَا الْجِنِّيُّ فَيَقْذِفُهَا فِي أُذُنِ وَلِيِّهِ، وَيَزِيدُ فِيهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya para dukun menyampaikan sesuatu kepada kami begini dan begitu. Dan kadang kami lihat kenyataannya memang benar.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Kata-kata yang benar itu ditangkap oleh bangsa jin, lalu dibisikkannya ke telinga tukang tenung (dekun) dan ditambahkan ke dalamnya dengan seratus kedustaan.”13

Perdukunan saat itu benar-benar tersebar dan membudaya. Sampai ada sebagian orang berprofesi jadi dukun palsu. Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,

كَانَ لِأَبِي بَكْرٍ غُلَامٌ يُخْرِجُ لَهُ الْخَرَاجَ وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ يَأْكُلُ مِنْ خَرَاجِهِ فَجَاءَ يَوْمًا بِشَيْءٍ فَأَكَلَ مِنْهُ أَبُو بَكْرٍ فَقَالَ لَهُ الْغُلَامُ أَتَدْرِي مَا هَذَا فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ وَمَا هُوَ قَالَ كُنْتُ تَكَهَّنْتُ لِإِنْسَانٍ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَمَا أُحْسِنُ الْكِهَانَةَ إِلَّا أَنِّي خَدَعْتُهُ فَلَقِيَنِي فَأَعْطَانِي بِذَلِكَ فَهَذَا الَّذِي أَكَلْتَ مِنْهُ فَأَدْخَلَ أَبُو بَكْرٍ يَدَهُ فَقَاءَ كُلَّ شَيْءٍ فِي بَطْنِهِ

“Abu Bakar Ash Shiddiq memiliki budak laki-laki yang senantiasa mengeluarkan kharraj14 padanya. Abu Bakar biasa makan dari kharraj itu. Pada suatu hari ia datang dengan sesuatu, yang akhirnya Abu Bakar makan darinya. Tiba-tiba sang budak berkata: ‘Apakah anda tahu dari mana makanan ini?’. Abu Bakar bertanya : ‘Dari mana?’ Ia menjawab : ‘Dulu pada masa jahiliyah aku pernah menjadi dukun yang menyembuhkan orang. Padahal bukannya aku pandai berdukun, namun aku hanya menipunya. Lalu si pasien itu menemuiku dan memberi imbalan buatku. Nah, yang anda makan saat ini adalah hasil dari upah itu. Akhirnya Abu Bakar memasukkan tangannya ke dalam mulutnya hingga keluarlah semua yang ia makan.”15

Abdullah bin al-Abbas berkata,

مَا قَرَأَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَلَى الْجِنِّ وَمَا رَآهُمُ، انْطَلَقَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي طَائِفَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ عَامِدِينَ إِلَى سوق عكاظ وَقَدْ حِيلَ بَيْنَ الشَّيَاطِينِ وَبَيْنَ خَبَرِ السَّمَاءِ. وَأُرْسِلَتْ عَلَيْهِمُ الشُّهُبُ. فَرَجَعَتِ الشَّيَاطِينُ إِلَى قَوْمِهِمْ فَقَالُوا: مَا لَكُمْ. قَالُوا: حِيلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَ خَبَرِ السَّمَاءِ وَأُرْسِلَتْ عَلَيْنَا الشُّهُبُ. قَالُوا: مَا ذَاكَ إِلاَّ مِنْ شَيْءٍ حَدَثَ، فَاضْرِبُوا مَشَارِقَ الأَرْضِ وَمَغَارِبَهَا، فَانْظُرُوا مَا هَذَا الَّذِي حَالَ بَيْنَنَا وَبَيْنَ خَبَرِ السَّمَاءِ. فَانْطَلَقُوا يَضْرِبُونَ مَشَارِقَ الأَرْضِ وَمَغَارِبَهَا، فَمَرَّ النَّفَرُ الَّذِينَ أَخَذُوا نَحْوَ تِهَامَةَ -وَهُوَ بِنَخْلٍ عَامِدِينَ إِلَى سُوقِ عُكَاظٍ وَهُوَ يُصَلِّي بِأَصْحَابِهِ صَلاَةَ الْفَجْرِ- فَلَمَّا سَمِعُوا الْقُرْآنَ اسْتَمَعُوا لَهُ، وَقَالُوا: هَذَا الَّذِي حَالَ بَيْنَنَا وَبَيْنَ خَبَرِ السَّمَاءِ. فَرَجَعُوا إِلَى قَوْمِهِمْ، فَقَالُوا: يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا. فَأَنْزَلَ اللهُ تعالى عَلَى نَبِيِّهِ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم: {قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ} [الجن: 1]

“Rasulullah ﷺ tidak membacakan Alquran kepada jin dan tidak pula melihat mereka. Rasulullah ﷺ pernah pergi bersama sejumlah shahabat menuju Pasar Ukazh16. Sementara itu setan-setan telah dihalangi mendapatkan berita dari langit dengan dilemparkan kepada mereka asy-syihab (meteor).

Setan-setan tadi kembali kepada kaumnya, dan kaumnya itu bertanya, ‘Ada apa dengan kalian?’ Mereka menjawab, ‘Kami telah dihalangi memperoleh berita dari langit, dan kami pun dilempari dengan asy-syihab’. Kaum mereka berkata, ‘Tidak ada yang menghalangi kalian memperoleh berita langit kecuali sesuatu telah terjadi. Pergilah kalian ke arah penjuru timur dan barat bumi. Lihatlah apa yang menghalangi kalian memperoleh berita dari langit’.

Mereka pun beranjak pergi ke timur dan barat. Sebagian di antaranya melewati Tihamah dan bertemu dengan Nabi ﷺ yang ketika berada di Nikhlah dalam perjalanan menuju Pasar Ukazh. Beliau ketika itu sedang melaksanakan shalat subuh bersama para shahabatnya. Ketika mereka mendengar Alquran dibacakan, mereka pun benar-benar memperhatikannya, seraya berkata, ‘Inilah yang telah menghalangi kita untuk mendapatkan berita dari langit”.

Mereka kembali menemui kaumnya. Mereka berkata, ‘Wahai kaumku, sesungguhnya kami telah mendengarkan Alquran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Tuhan kami’. Maka Allah pun menurunkan kepada Nabi-Nya Muhammad ﷺ: “Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Alquran),…” (QS. Al-Jin : 1)17.

Zaid bin Amr bin Nufail

Di tengah pekatnya kabut kesyirikan masayarakat Arab, tersisa beberapa gelintir orang yang masih memurnikan agama Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Di antaranya Zaid bin Amr bin Nufail. Zaid tak mampu mendakwahi dan menyerukan agama yang lurus di tengah pemuka kekufuran Quraisy. Ia hanya mampu mengkritik sembelihan-sembeliahan (kurban) mereka. Dan mengikari kesyirikan yang mereka lakukan. Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Zaid bin Amr bin Nufail mengatakan,

إِنِّي لَسْتُ آكُلُ مِمَّا تَذْبَحُونَ عَلَى أَنْصَابِكُمْ، وَلاَ آكُلُ إِلاَّ مَا ذُكِرَ اسْمُ اللهِ عَلَيْهِ.

“Aku tidak memakan apa yang kalian sembelih (sebagai persembahan) untuk berhala kalian. Aku juga tidak memakan sesuatu yang disembelih tanpa menyebut nama Allah.”

Zaid bin Amr mencela sesembelihan Quraisy,

وَأَنَّ زَيْدَ بْنَ عَمْرٍو كَانَ يَعِيبُ عَلَى قُرَيْشٍ ذَبَائِحَهُمْ، وَيَقُولُ: الشَّاةُ خَلَقَهَا اللهُ، وَأَنْزَلَ لَهَا مِنَ السَّمَاءِ المَاءَ، وَأَنْبَتَ لَهَا مِنَ الأَرْضِ، ثُمَّ تَذْبَحُونَهَا عَلَى غَيْرِ اسْمِ اللهِ. إِنْكَارًا لِذَلِكَ وَإِعْظَامًا لَهُ

“Kambing ini, Allah yang ciptakan. Dia turunkan air dari langit untuknya. Juga menumbuhkan tetumbuhan dari bumi (untuk makanannya). Kemudian kalian sembelih tanpa menyebut nama-Nya?!” Zaid mengingkari perbuatan mereka sebagai bentuk pengagungan terhadap Allah18.

Orang-orang Quraisy tidak mempedulikan Zaid. Karena menurut mereka yang dia lakukan tidak mengganggu kehidupan dan ibadah mereka. Atau mereka sengaja tidak mempedulikannya untuk mengejeknya dan merendahkannya.

Selain Zaid, juga ada Waraqah bin Naufal. Seorang yang mengimani risalah Nabi Isa ‘alaihissalam. namun tidak didapati riwayat ia mendakwahkan apa yang diajarkan Nabi Isa ‘alaihissalam. Atau membicarakannya di tengah-tengah keluarganya dari kalangan Quraisy.

Demikianlah gambaran kondisi agama bangsa Arab sebelum diutusnya Nabi Muhammad ﷺ. Dakwah tauhid padam. Agama para nabi samar-samar disuarakan. Karena itu, hampir tidak ditemui persinggungan (friksi) antara orang-orang yang bertauhid dengan pemuja kesyirikan.

Dalam keadaan tersebut terdapat segelintir orang yang masih berpegang pada ajaran rasul sebelumnya. Ajaran Nabi Ibrahim dan Nabi Isa ‘alaihimassalam. Mereka yang tersisa ini tidak mampu angkat suara, menyibak kabut gelap penyimpangan akidah. Sehingga tidak dijumpai perdebatan agama hingga diutusnya Rasulullah ﷺ.
____________________________
[1] Hisyam al-Kalby dalam Kitab al-Ashnam, Hal: 27-28., Ibnu Hisyam dalam as-Sirah an-Nabawiyah, 1/77., dan Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah, 2/237.

[2] Orang-orang Quraisy biasa mengusapkan darah mereka di sisi berhala ini sebagai bentuk ibadah padanya. Karena itu, berhala ini juga dinamakan Berhala Darah (as-Suhail dalam ar-Raudhu al-Anfu, 4/85).

[3] al-Musyallal adalah jalan di suatu bukit menuju wilayah Qudaid.

[4] Hisyam al-Kalby dalam Kitab al-Ashnam, Hal: 14-18.

[5] Ada yang mengatakan Amr mendapat wangsit melalui mimpi ada pula dalam keadaan sadar. Ada yang menyebutkan ia bertemu dengan jin yang berujud manusia.

[6] Hisyam al-Kalby dalam Kitab al-Ashnam, Hal: 54-55. Dan Abu Ja’far al-Bahgdady dalam al-Manaq fi Akhbari Quraisy, Hal: 327-328.

[7] Hisyam al-Kalby dalam Kitab al-Ashnam, Hal: 34-43 dan Ibnu Hisyam dalam as-Sirah an-Nabawiyah, 1/80-88

[8] al-Hakim (3072). Ia mengatakan, “Hadits ini shahih sesuai dengan persyaratan Muslim. Dan disepakati oleh adz-Dzahaby.

[9] Ia memiliki pengikut dari bagnsa jin.

[10] Melarang al-Qarar. Dalam riwayat Ahmad dengan lafadz al-Firar. As-Sindi mengatakan, “Maksud dari Firar adalah lari dari medan jihad. Namun hal ini cukup meragukan karena jihad belum disyariatkan saat itu. Dalam teks yang lain menggunakan huruf qaf (ق). Wallahu a’lam.

Al-Qarar adalah tempat yang tenang, yang terdapat air. Atau tempat yang syahdu (Lisan al-Arab, 5/82).

[11] Ahmad (14878), ath-Thabrany dalam al-Mu’jam al-Ausath (765).

[12] ath-Thabary dalam Jami’ al-Bayan fi Ta’wilil Quran, 5/418., Ibnu Abi Hatim dalam Tafsir al-Quran al-Azhim, 3/976., Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Quran al-Azhim, 2/334.

[13] al-Bukhari dalam Kitab ath-Thalib, Bab al-Kuhanah (5429) dan Muslim dalam Kitab as-Salam, Bab Tahrim al-Kuhanah wa Ityani al-Kuhhan (2228). Lafadz ini miliki Muslim.

[14] Kharaj adalah sesuatu tuan atas budaknya. Berupa harta yang diberikan si budak kepada tuannya dari hasil pekerjaannya. Lihat Fathul Bari oleh Ibnu Hajar, 7/154.

[15] al-Bukhari: Kitab Fadhail ash-Shahabah, Bab Ayyamul Jahiliyah (3629).

[16] Sebuah pecan raya bangsa Arab yang terletak antara Nakhlah dan Thaif.

[17] al-Bukhari: Kitab Sifattuhs Shalah, Bab al-Jahr bil Qira-ati Shalatil Fajri (739) dan Muslim: Kitab ash-Shalah, Bab al-Jahr bil Qira-ati fi Shubhi wa al-Qira-ati ala al-Jin (449). Lafadz ini milik Muslim.

[18] al-Bukhari: Kitab Fadhail ash-Shahabah, Bab Hadits Zaid bin Amr bin Nufail (3614).
______________________________

Sumber:
– http://islamstory.com/ar/الحياة-الدينية-عند-العرب-قبل-الإسلام

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com