Tampilkan postingan dengan label teknologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teknologi. Tampilkan semua postingan

Tips Jitu Hapus Email dan Akun di iPhone

20.39 Add Comment
 Tips Jitu Hapus Email dan Akun di iPhone
Tips Jitu Hapus Email dan Akun di iPhone. (Sumber: TekRevue)


Bagi banyak pengguna perangkat mobile, gonta-ganti perangkat merupakan hal yang wajar dan acap kali dilakukan.

Entah ingin ganti perangkat baru atau akan menjual perangkat yang dimiliki, ada baiknya kamu menghapus beberapa data, seperti email, dari perangkat yang kamu gunakan saat ini.

Namun bagaimana cara menghapus email dan akun yang kamu gunakan diperangkat iOS? Tanpa basa-basi, berikut tim Tekno Liputan6.com sajikan caranya:

1. Buka aplikasi Mail di perangkat iOS kamu

2. Pilih email yang ingin kamu hapus, dan sapu layar ke kiri untuk memunculkan opsi Delete

Buka aplikasi email di perangkat iOS kamu. (Liputan6.com/ Yuslianson)

3. Jika ingin menghapus lebih dari satu email, kamu dapat tap tombol Edit yang terletak di kanan atas layar, dan pilih email-email mana saja yang ingin dihapus, lalu tekan Trash.

Cukup mudah bukan? Dengan begini, kamu bisa membebaskan diri dari berbagai email-email yang menganggu dan sudah menggunung di inbox.

Cara Hapus Akun Email di iOS

1. Buka Settings

Buka menu Settings untuk temukan menu Mail. (Liputan6.com/ Yuslianson)

2. Gulir menu ke bawah untuk menemukan Mail dan kemudian tekan tombol tersebut untuk melanjutkan.

3. Pilih tombol Accounts yang mana memberikan kamu opsi akun email mana saja yang ingin dihapus dari perangkat iOS (entah itu akun Google, Yahoo, atau Outlook). Perlu diingat, kamu tidak bisa menghapus akun iCloud.

Tekan tombol Delete from iPhone. (Liputan6.com/ Yuslianson)


4. Setelah memilih akun email yang ingin dihapus dan tap tombol Delete Account.

5. Terakhir, kamu akan diminta konfirmasi dengan menekan tombol Delete from My iPhone.

Tenang, akun email yang kamu hapus tetap aman kok. Yang kamu lakukan hanyalah menghapus data-data email yang tersinkronisasi di dalam perangkat iOS.

Sumber Link

5 Trik Maksimalkan Penggunaan Chrome di Android

20.19 Add Comment
5 Trik Maksimalkan Penggunaan Chrome di Android
businessinsider.com

Pengguna smartphone Android pasti sudah tidak asing dengan peramban (browser) bawaan dari sistem operasi tersebut, yakni Chrome. Peramban ini kini sudah menjadi salah satu aplikasi wajib yang tersedia di perangkat berbasis Android.

Meskipun sudah diketahui hampir seluruh pengguna Android, tapi tak semuanya mengetahui cara mudah untuk memaksimalkan penggunaan Chrome.

Dengan sedikit utak-atik, peramban ini ternyata bisa memberikan pengalaman penggunaan yang lebih baik. Lantas, seperti apa cara mudah untuk memaksimalkan penggunaan Google Chrome?

Berikut ini ada lima cara untuk menggunakan Chrome lebih maksimal di perangkat Android seperti dikutip dari laman Android Pit, Selasa (21/3/2017)

1. Percepat waktu muat situs dengan Brotli

Untuk mempercepat waktu muat sebuah situs di Chrome, kamu dapat memanfaatkan Brotli, sebuah program yang diperkenalkan pada 2015 ini berguna mengompres data dari sebuah situs agar dapat dimuat lebih cepat. Program ini bisa dipakai di MacOS, Windows, Linux, termasuk Chrome OS.

Namun untuk memastikan fitur ini aktif, kamu memang perlu melakukan sedikit pengaturan. Sebagai langkah awal, ketik chrome: // flags / # enable-brotli di laman pencarian Chrome. Setelah terbuka, lihat konten paling atas yang bertuliskan 'Brodi Content-Encoding' dan pilih Default untuk mengaktifkannya.

2. Tambahkan shortcut situs langsung di halaman depan

Apabila kamu kerap mengunjungi sebuah situs berkali-kali, tak ada salahnya memanfaatkan fungsi jalan pintas (shortcut) di Chrome. Jadi, kamu dapat mengakses sebuah situs langsung dari halaman depan menu Android.

Kamu cukup melakukan tiga langkah untuk melakukan hal tersebut. Pertama buka situs yang diinginkan di Chrome, buka Menu yang ada di bagian kanan atas, dan pilih opsi 'Add to Home Screen' untuk membuat jalan pintas ke situs tersebut.

3. Sinkronisasi tabs dan favorites di perangkat berbeda

Fitur ini sebenarnya bukan hal baru, tapi memang jarang diketahui oleh pengguna Android. Padahal, fitur ini akan sangat membantu pengguna--terutama yang memiliki lebih dari satu perangkat--untuk mengakses situs dari beberapa perangkat sekaligus.

Untuk melakukannya, kamu cukup masuk ke menu pengaturan Chrome dan aktifkan Sync. Lakukan cara serupa di perangkat lain, seperti komputer atau smartphone. Namun pastikan untuk menggunakan akun yang sama, agar riwayat penelusuran dan situs yang disimpan dapat diakses antar perangkat.

4. Hemat data langsung dari Chrome

Bagi kamu yang sering khawatir dengan konsumsi data ketika membuka sebuah situs, Chrome sebenarnya memilki solusi langsung tanpa perlu memasang aplikasi pihak ketiga.

Fitur bernama Data Saver ini berfungsi untuk mengompres situs yang dibuka, sehingga data yang dikonsumsi tak begitu besar. Kamu dapat melakukannya dengan membuka Chrome, pilih Menu, lalu Settings. Cari Data Saver dan aktifkan fitur tersebut.

5. Aktfikan notifikasi Facebook di Chrome

Jika kamu merupakan pengguna yang sering memanfaatkan Chrome untuk membuka Facebook, fitur ini akan sangat membantu. Jadi, kamu tak akan terlewat notifikasi yang masuk dalam akun Facebook.

Kamu bisa mengaktifkannya ketika pertama kali membuka Facebook di Chrome dengan mengizinkan untuk memberikan notifikasi. Untuk mengubahnya, kamu bisa masuk ke Profile Settings Facebook, lalu pilih Notifications. Buka ikon gerigi, dan pilih Mobile untuk melakukan pengaturan.

Sumber Link

Asal-Usul Bluetooth Ternyata Berasal dari Nama Raja

20.14 Add Comment
Asal-Usul Bluetooth Ternyata Berasal dari Nama Raja

Pengguna perangkat pintar saat ini mungkin sudah tak asing lagi dengan teknologi bluetooth. Hal itu lumrah mengingat teknologi nirkabel ini masih terus digunakan sampai sekarang, mulai dari smartphone, speaker, termasuk headphone.

Namun tahukah kamu, seperti apa asal-usul nama bluetooth? Berdasarkan informasi yang dikutip dari Business Insider, Rabu (22/3/2017), bluetooth ternyata nama julukan raja Viking yang memimpin Denmark dan Norwegia pada tahun 958 hingga 985.

Nama raja tersebut adalah Harald 'Blåtand' Gormsson dan dikenal berhasil menaklukkan dua negara itu dalam satu pemerintahan. Selain di bidang pemerintahan, Gormsson juga dikenal dengan giginya yang mati dan memiliki warna abu-abu atau biru tua. Karenanya, ia mendapat julukan Blåtand, yang secara harfiah diartikan dari bahasan Denmark sebagai bluetooth.

Lantas, apa hubungan nama raja dengan teknologi yang dikenal selama ini? Singkat cerita pada 1996, ketika teknologi radio jarak dekat masih berada dalam pengembangan tahap awal ada tiga perusahaan yang memilikinya, yakni Intel dengan Biz-RF, Ericcsson memiliki MC-Link, serta Nokia mempunyai Low Power RF.

Mengetahui masing-masing memiliki teknologi serupa, ketiganya berpikir jika ingin mendorong kemajuan dan menghindari fragmentasi industri dibutuhkan sebuah standar tersendiri. Akhirnya, perwakilan masing-masing perusahaan memutuskan bertemu untuk membuat teknologi standar industri bagi teknologi anyar itu.

Sebelum memulai proyek gabungan itu, mereka memutuskan untuk memberikan kode nama terlebih dulu. Perwakilan Intel Jim Kardash ketika itu menyarankan nama sementara "bluetooth". Ia beralasan Raja Harald terkenal telah berhasil menyatukan Skandinavia, sama dengan upaya tiga perusahaan itu untuk menyatukan industri PC dan seluler dengan jaringan nirkabel jarak dekat.

Setelah proyek tersebut hampir rampung, nama bluetooth tak lantas menjadi pilihan utama. Dua nama yang sempat menjadi andalan saat itu adalah RadioWire (nama yang diajukan Intel) dan PAN (Personal Area Networking, nama yang diajukan IBM). Dalam pertemuan yang dilakukan nama PAN terpilih untuk teknologi anyar tersebut.

Namun tak lama setelah diputuskan, dilakukan pertemuan darurat membahas penggunaan nama PAN. Alasannya, PAN tak mungkin dipakai karena sudah banyak didaftarkan sebagai merek dagang, begitu juga dengan Radio Wire. Bluetooth kemudian terpilih karena satu-satunya nama yang dapat digunakan.

Tak berhenti sampai di situ, logo bluetooth ternyata juga berhubungan erat dengan Raja Harald. Apabila di antara kamu banyak yang menjawab logo itu merupakan huruf B dengan tipe tulisan yang unik, jawabannya salah. Logo itu sebenarnya inisial raja Blåtand yang ditulis dalam aksara Denmark kuno.

10 Negara dengan Koneksi Internet Paling Lemot di Dunia

06.40 Add Comment
10 Negara dengan Koneksi Internet Paling Lemot di Dunia
Ilustrasi internet lemot. (Foto: Endless Flix)


Seperti diwartakan sebelumnya, Saya sempat mengulas 10 negara dengan koneksi internet tercepat di dunia. Saat ini, negara dengan koneksi internet paling ngebut di dunia masih diduduki Korea Selatan.

Berdasarkan laporan OpenSignal, kecepatan rata-rata internet di Negeri Ginseng itu adalah 37,5 megabits per second (Mbps).

Sementara di posisi kedua dan ketiga ada Norwegia dengan 34,8Mbps dan Hungaria dengan 31Mbps. Adapun Singapura menjadi negera keempat dengan kecepatan rata-rata 30,05 Mbps yang disusul oleh Australia dengan 26,25Mbps.

Uniknya, ada juga laporan 10 negara dengan koneksi internet paling lemot di dunia. Dari kesepuluh daftar ini, Indonesia termasuk salah satunya.

Sebagai informasi, studi ini mengambil sampel lebih dari 1 juta pengguna OpenSignal untuk menggambarkan sekitar 19 miliar pengguna internet. Sampel tersebar di 87 negara dengan waktu pelaksanaan dari November 2016 hingga Januari 2017.

Berikut daftarnya dalam cakupan di bawah kecepatan 256 kbps (Kilobyte per second):

1. Libya (54 persen di bawah 256 kbps)
2. Nepal (32 persen di bawah 256 kbps)
3. Nigeria (31 persen di bawah 256 kbps)
4. Iran (30 persen di bawah 256 kbps)
5. India (27 persen di bawah 256 kbps)
6. Bolivia (25 persen di bawah 256 kbps)
7. Suriah (19 persen di bawah 256 kbps)
8. Indonesia (19 persen di bawah 256 kbps)
9. Kazakshtan (16 persen di bawah 256 kbps)
10. Malaysia (16 persen di bawah 256 kbps)

Sumber Link

Hacker Bisa Bobol WhatsApp dan Telegram Lewat Foto

19.02 Add Comment

Hacker Bisa Bobol WhatsApp dan Telegram Lewat Foto
Pada tanggal 25 Agustus 2016, WhatsApp mengumumkan akan mulai membagikan data pribadi mereka ke Facebook. Masih amankah buat pengguna? | via: bloggingrepublic.com
WhatsApp dan Telegram lagi-lagi dilaporkan punya masalah keamanan. Lembaga keamanan Check Point mengungkap, keduanya memuat celah berbahaya yang bisa dimanfaatkan hacker (peretas) dan berisiko bagi data pribadi pengguna.

Celah ini dimanfaatkan peretas dengan mengirim dokumen gambar dan video. Di kasusWhatsApp, Check Point mendapati sejumlah gambar yang ternyata merujuk penggunanya ke laman HTML yang dipenuhi malware.

Saat membuka gambar yang dikirim kontak, pengguna WhatsApp akan langsung membuka layar baru laman HTML kosong. Saat itulah peretas akan menerima data yang tersimpan di aplikasi WhatsApp pengguna dan dapat meretas data pribadinya.

"Dengan mengirim dokumen multimedia, peretas bisa mengendalikan akun pengguna WhatsApp, mengakses rekam jejak percakapan, foto-foto yang dibagikan ke kontak WhatsApp lain, dan bahkan bisa mengirim pesan langsung atas nama pengguna WhatsApp itu sendiri," kata Oded Vanunu, Head of Product Vulnerability di Check Point.

Celah keamanan itu ditemukan Check Point pada 8 Maret 2017. Baik WhatsApp maupun Telegram diketahui telah mengubah protokol validasi upload dokumen untuk melindungi keamanan pengguna. Metode yang dilakukan peretas untuk WhatsApp sedikit berbeda dengan Telegram.

Di Telegram, korban yang menerima dokumen multimedia akan otomatis membuka Chrome, yang nantinya akan digunakan peretas untuk mengakses data pribadi.

Keamanan WhatsApp memang disebut tidak sepenuhnya terjamin. Seperti diketahui, pada Agustus 2016, WhatsApp mengganti persyaratan dan kebijakan privasi layanannya.

Disebutkan, WhatsApp akan berkoordinasi dengan Facebook sebagai induk perusahaannya. Dengan demikian, WhatsApp dapat melakukan pelacakan aktivitas pengguna, mengetahui seberapa sering orang memakai layanan WhatsApp, serta kecenderungan penggunanya.

Dalam keterangan resmi di blog perusahaan, WhatsApp mengatakan berupaya menghubungkan nomor telepon penggunanya dengan sistem Facebook. Tujuannya agar Facebook bisa menawarkan iklan lebih relevan kepada pengguna yang akunnya saling terhubung.