Tampilkan postingan dengan label istri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label istri. Tampilkan semua postingan

Kisah Sunan Kudus – Senopati Hebat dari Demak Bintoro

20.12 Add Comment
Cerita wali songo kali ini mengisahkan cerita sunan kudus, beliau merupakan senopati yang hebat dari kerajaan Demak. ketika ia menjabat sebagai senopati, majapahit ditaklukkannya. Untuk mengetahui lebih jelas mengenai sunan kudus, silahkan simak ceritanya di bawah ini :

Asal Usul Sunan Kudus

Kisah Sunan Kudus – Senopati Hebat dari Demak Bintoro
Kisah Sunan Kudus – Senopati Hebat dari Demak Bintoro
Meskipun beliau bernama sunan kudus, namun sebenarnya bukan asli dari Kudus. Beliau pendatang dari daerah Jipang Ponolan yang merupakan daerah di sebelah utara Blora. Di sana, ia dilahirkan dan diberi nama Ja’far Shodiq. Beliau merupakan putra hasil dari pernikahan Sunan Ngudung (raden Usman Haji ) dengan Syarifah. Sunan Ngudung sendiri terkenal sebagai seorang panglima perang yang tangguh. Suatu hari, ia tewas dalam peperangan antara demak dan majapahit. Setelah itu putranya, yaitu Ja’far shodiq menggantikan posisi ayahnya. Tugas utamanya adalah menaklukkan wilayah kerajaan majapahit untuk memperluas kekuasaan demak.

Baca juga : Kisah Asal Usul Sunan Bonang

Ja’far soduk tidak merasa asing ketika bertanggung jawab sebagai senopati. Karena saat beliau masih remaja, beliau tidak hanya mempelajari ilmu agama, namun juga ilmu ilmu yang lain, seperti ilmu kemasyarakatan, politik, budaya, seni dan perdagangan. Selain kepada ayahnya, ia juga pernah menimba ilmu kepada Sunan Ampel dan Kiai Telingsing. Sebenarnya nama asli dari kiai telingsing adalah Tai Link Tsing, ia berasal dari China. Ketika itu china sudah dikenal sebagai Negara yang maju. Bahkan, negar cina sudah maju sejak dulu.

Menurut cerita, suatu hari Tai Li Tshing datang bersama laksamana Cheng Hoo. Ketika itu laksamana Cheng hoo berlayar dari negeri satu ke negeri lainnya. Di samping itu, laksamana cheng hoo juga mempunyai visi untuk menyebarkan islam di wilayah asia tenggara. Dalam pelayarannya, ia mendarat di pelabuhan Semarang.

Tai Li Tshing ikut serta dalam rombongan Cheng Hoo. Dalam perjalanannya, akhirnya ia sampai di Blora, jawa tengah. KEmudian ia mengembangkan dakwah islam di daerah juwana, pati, yang berdekatan dengan blora. Dan Ja’far sodik merupakan murid kesayangan dari Tai Li Tsing. Maka sangat wajar jika Ja’far sodik selain mendapatkan ilmu agama, juga mendapatkan ilmu social dan kemasyarakatan, serta ilmu-ilmu yang lain.

Pada kenyataannya, ja’far shodiq sebagai senopati kerajaan demak bintoro, mampu membuktikan kehebatannya yang tak kalah dengan kepiawaian ayahnya di medan perang. Ia berhasil mengembangkan wilayah kerajaan demak ke arah timur hingga mencapai madura, dan arah barat hingga cirebon. Kemudian sukses ini memunculkan cerita kesaktiannya. Misalnya, sebelum perang, Ja’far shodiq diberi badong, semacam rompi, oleh sunan gunung jati. Badong itu dibawahnya berkeliling arena perang.

Dari badong sakti itu, keluarlah juataan tikus yang juga sakti. Kalau dipukul maka tikus itu tidak mati, namun mereka semakin mengamuk sejadi-jadinya. Pasukan majapahit ketakutan sehingga mereka lari tunggang langgang. Ja’far shodiq juga mempunyai sebuah peti, yang bisa mengeluarkan jutaan tawon. Banyak prajurit majapahit yang tewas disengat tawon itu. Pada akhirnya, pemimpin pasukan majapahit, yaitu adipati terung menyerah pada pasukan ja’far shodiq.

Kesuksesannya mengalahkan majaphit membuat posisi Ja’far shodiq semakin kuat. Kemudian ia meninggalkan demak karena ingin hidup merdeka dan membaktikan seluruh hidupnya untuk kepentingan agama islam. Lalu, ia pergi menuju ke kudus. Namun, kedatangannya di kudus tidak jelas. Ketika ia menginjakkan kaki di kudus, kota itu masih bernama tajug, konon, orang yang mula-mula mengembangkan islam di kota tajug sebelum ja’far shodiq adalah kiai telingsing. Cerita ini menunjukkan bahwa kota itu sudah berkembang sebelum kedatangannya.

Awalnya, ja’far shodiq hidup di tengah jamaah dalam kelompok kecil di tajug. Jamaah itu merupakan para santri yang dibawanya dari demak. Sebenarnya mereka adalah tentara yang ikut bersama ja’far shodiq memerangi majapahit. Setelah jamaahnya semakin banyak ia kemudian membangun masjid sebagai tempat ibadah dan pusat penyabaran agama. Tempat ibadah yang diyakini dibangun oleh Ja’far shodiq adalah masjid menara kudus yang masih berdiri hingga kini. Masjid ini didirikan pada 956 H yang bertepatan dengan 1549 M.

Kota Tajug pun mendapat nama baru, yakni Quds, yang kemudian berubah menjadi kudus. Kemudian pada akhirnya ja’far shodiq sendiri dikenal dengan sebutan sunan Kuuds. Dalam menyebarkan agama islam, sunan kudus mengikuti gaya sunan kalijaga, yakni menggunakan model “tutwuri handayani”. Artinya, sunan kudus tidak melakukan perlawanan keras, melainkan mengarahkan masyarakat sedikit. Sebab, ia memang banyak berguru pada sunan kalijaga. Cara berdakwah sunan kudus pun yang meniru cara yang dilakukan sunan kalijaga, yaitu menoleransi budaya setempat, bahkan cara penyampaiannya lebih halus. Itu sebabnya para wali menunjuk dirinya untuk berdakwah di kota kudus.

Cerita Sunan kudus. Ketika itu, masyarakat kudus masih banyak yang menganut agama Hindu. Maka, sunan kudus berusaha memadukan kebiasaan merelakan ke dalam syariat islam secara halus. Misalnya, ia justru menyembelih kerbau bukan sapi ketika hari raya idul qurban. Itu merupakan dari penghormatan sunan kudus kepada para pengikut Hindu. Sebab, ajaran agama hindu memerintahkan untuk menghormati sapi.

Setelah berhasil menarik umat hindu memeluk agama islam, sunan kudus bermaksud menjaring umat budha untuk memeluk islam juga. Ia memiliki cara yang cukup unik untuk menarik perhatian mereka. Setelah sunan kudus mendirikan masjid, ia membuat padasan (tempat berwudhu), dengan pancuran berjumlah delapan. Masing-masing pancuran diberi arca di atasnya.

Mengapa sunan kudus melakukan ini? Ternyata, sunan kudus ingin menarik simpati umat Buddha karena dalam ajaran budha terdapat delapan ajaran yang dinamakan asta sanghika marga. Isi ajaran tersebut adalah seseorang harus memiliki pengetahuan yang benar, mengambil keputusan yang benar, berkata yang benar, bertindak atau berbuat yang benar, hidup dengan cara yang benar, bekerja dengan benar, beribadah dengan benar dan menghayati agama dengan benar.

Akhirnya, usaha itu pun membuahkan asil, sehingga banyak orang yang bergama budha berbondong-bondong memeluk islam. Demikian pula dalam hal adapt istiadat, ia tidak langsung menentang masyarakat yang melenceng dari ajaran islam secara keras. Sebagai contoh, masyarakat sering menambur bunga di perempatan jalan, mengirim sesajen di kuburan dan adapt lain yang melenceng dari ajaran islam. Sunan kudus tidak langsung menentang adapt itu, tetapi ia mengarahkannnya sesuai ajaran islam dengan pelan-pelan. Misalnya, sunan kudus mengarahkan agar sesajen yang berupa makanan diberikan kepada orang yang kelaparan. Ia juga mengajarkan bahwa meminta permohonan bukan kepada ruh, tetapi kepada Allah SWT

Dengan cara yang simpatik tersebut membuat para penganut agama lain bersedia mendengarkan ceramah agama islam dari sunan kudus. Surat Al Baqarah yang dalam bahasa arab berarti sapi, sering dibacakan oleh Sunan Kudus untuk lebih memikat pendengar yang beragama Hindu. Bahkan membangun masjid kudus dengan tidak meninggalkan unsure aristektur Hindu. Sebba, bentuk menaranya tetap menyisakan arsitektur gaya hindu. Di antara bekas peninggalan sunan kudus adalah masjid raya kudus yang kemudian dikenal dengan sebutan menara kudus. Di halaman masjid tersebut terdapat sebuah menara kuno yang indah.

Adapun mengenai asal usul nama kudus bahwa sunan kudus pernah pergi naik haji sambil menuntut ilmu di tanah arab, kemudia ia juga mengajar di sana. Konon, masyarakat arab waktu itu terjangkit suatu wabah penyakit yang membahayakan. Dan, penyakit itu mereda berkat jasa sunan kudus. Karena itu, seorang pejabat setempat berkenan untuk memberikan sebuah hadiah kepadanya. Tetapi ia menolaknya dan hanya meminta sebuah batu sebagai kenang-kenangan. Menurut suatu cerita, batu tersebut berasal dari kota baitul Maqdis atau jarusalem. Maka, untuk memepringati kota tempat ja’far shodiq hidup dan tinggal, kemudian ia memberinya nama kudus. Bahkan, menara yang terdapat di depan masjid pun menjadi tekanan dengan sebutan menara kudus.

Kebiasaan unik sunan kudus dalam berdakwah, yakni ia selalu mengadakan acara bedug dandangan. Acara ini merupakan kegiatan menunggu kedatangan bulan ramadhan. Ia menabuh beduk bertalu-talu untuk mengundang para jmaah ke masjid. Ia pun mengumumkan hari pertama puasa setelah jamaah berkumpul di masjid.

Sekarang ini, cara dandangan masih berlangsung tapi sudah jauh aslinya. Banyak orang dating kea real masjid menjelang ramadhan. Tetapi, mereka bukan hendak mendengarkan pengumuman awal puasa. Mereka hanya membeli berbagai makanan yang dijajakan para pedagangan musiman. Sunan kudus sendiri wafat dan dimakamkan di sebelah barat masjid jami’ kudus. Jika orang memandang menara masjid kudus ada yang lain, aneh, dan artistik, mereka pasti akan segera teringat pada pendidirinya, yaitu sunan kudus.

Itulah ulasan mengenai cerita sunan kudus, mengenai asal usulnya, cara berdakwahnya sunan kudus. Semoga cerita wali songo di atas bisa menambah pengetahuan kamu tentang para sunan penyebar di pulau jawa, dapat meneladani sifat terpuji mereka. Aamiin.

Sumber Link

Kisah kesaktian Sunan Muria

09.12 Add Comment
Pada cerita wali songo kali ini akan berisi tentang cerita Sunan Muria, beliau merupakan salah satu wali yang tinggal di daerah Gunung muria. Selain akhlak yang sholeh, beliau terkenal memiliki kesaktian dalam peraturangan. Mau tahu cerita sunan muria secara detail? silahkan simak kisahnya lengkapnya di bawah ini.

Kisah kesaktian Sunan Muria
Kisah kesaktian Sunan Muria

Sunan muria merupakan putra dari Sunan Kalijaga dan Dewi Saroh. Nama asli dari Sunan Muria adalah Raden Umar Syahid. Dalam melakukan dakwah, iya menggunakan cara yang seperti ayahnya gunakan. yaitu dengan cara yang halus. Ibarat mengambil ikan, tetapi sangan sampai mengeruhkan airnya. Itulah cara yang ditempuhnya untuk menyiarkan agama islam di sekitar gunung muria. Tempat tinggal sunan muria memang di puncak gunung muria; yang salah satu puncaknya bernama Colo. Gunung tersebut terletak di sebelah utara kota kudus.

Baca juga : Asal usul Sunan Gunung Jati

Sasaran dakwah dari Sunan Muria adalah para pedagang, nelayan, pelaut dan rakyat jelata. Ia adalah satu-atunya wali yang tetap mempertahankan kesenian gamelan dan wayang sebagai alat dakwah untuk menyampaikan islam. Dan, ia juga yang telah menciptakan berbagai tembang jawa. Tempat dakwahnya berada di sekitar gunung muria, kemudian dakwahnya diperlua meliputi Tayu, Juwana, kudus, dan lereng gunung muria. Ia dikenal dengan sebutan sunan muria karena tinggal di gunung.

Kisah Kesaktian Sunan Muria

Sunan muria adalah wali yang terkenal memiliki kesaktian. Ia memiliki fisik yang kuat karena sering naik turun gunung muria yang tingginya sekitar 750 meter. Bayangkan, jika ia dan istrinya atau muridnya harus naik turun gunung setiap hari untuk menyebarkan agama islam kepada penduduk setempat, atau berdakwah kepada para nelayan dan pelaut serta para pedagang. Hak itu tidak dapat dilakukannya tenpa fisik yang kuat.

Bukti bahwa sunan muria adalah guru yang sakti mandraguna dapat ditemukan dalam kisah perkawinan sunan murida dengan dewi Roroyono. Dewi Roroyono adalah putri Ngerang, yaitu seorang ulama yang disegani masyarakat karena ketinggian ilmunya, yang bertempat tinggal di juana, pati jawa tengah. Demikian sakti sunan ngerang sehingga sunan muria dan sunan kudus sampai berguru kepadanya.

Dalam cerita sunan muria, pada suatu hari, sunan ngerang mengadakan syukuran atas usia dewi roroyono yang telah genang dua puluh tahun. Semua muridnya diundang, seperti sunan muria, sunan kudus, adipati pathak warak, kapa dan adiknya gentiri. Tetangga dekat juga diundang, demikian pula sanak saudara yang dari jauh. Setelah tamu berkumpul, dewi Roroyono dan adiknya, dewi roro pujiwati, keluar menghidangkan makanan dan minuman. Keduanya adalah para dara yang cantik rupawan, terutama dewi roroyono yang bersuaia dua puluh tahun. Ia bagaikan bunga yang sedang mekar.

Bagi sunan kudus dan sunan muria yang sudah berbekal ilmu agama, dapat menahan pandangan mata, sehingga mereka tidak terseret oleh godaan setan. Tapi, seorang murid sunan ngerang yang lain, yaitu Adipati Pathak warak memandang dewi royoyono dengan mata tidak berkedip karena melihat kecantikan gadis itu.

Sewaktu menjadi cantrik atau murid sunan ngerang ketika pathak warak belum menjadi adipati, dewi roroyono masih kecil dan kecantikannya yang mempesonan belum tampak. Tetapi, sekarang, gadis itu sangat membuat adipati pathak warak tergila-gila. Sepasang matanya hampir melotot memandangi gadis itu terus menerus. Akibat dibakar api asmara yang menggelora, ia tidak tahan lagi. Ia pun menggoda dewi roroyono dengan berbagai ucapan yang tidak pantas, bahkan bertindak kurang ajar.

Tentu saja, dewi merasa malu sekali, terutama ketika adipati pathak warak berlaku kurang ajar dengan memegangi bagian tubuhnya yang tidak pantas disentuh. Si gadis pun naik pitam, sehingga nampan berisi minuman yang dibawahnya sengaja ditumpahkan ke pakaian sang adipati. Maka adipati pathak warak menyumpah-nyumpah, hatinya marah sekali diperlakukan seperti itu. Apalagi ia pun semakin malu karena melihat para tamu menetawakan kekonyolan.

Dewi Roroyono hampir saja ditampar oleh adipati pathak warak kalau ia tidak ingat bahwa gadis itu adalah putri gurunya. Lalu, Dewi Rorooyono masuk ke dalam kamarnya, gadis itu menangis sejadi-jadinya karena dipermalukan oleh pathak warak. Pada malam hari, para tamu yang rumahnya dekat sudah pulang ke tempat masing-masing. Adapun tamu yang datang dari jauh terpaksa menginap di rumah sunan ngerang, termasuk pathak warak san sunan murid. Namun, pathak warak belum dapat memejamkan matanya hingga lewat tengah malam. Kemudian, ia bangkit dari tidurnya dan mengendap-ngedap ke kamar dewi roroyono.

Dewi roroyono dibius sehingga tak sadarkan diri, kemudian pathak warak turun melewati genteng dan mebawanya lari menuruni jendela. Dewo Roroyono dibawa lari ke mandalika, wilayah keling atau kediri. Setelah sunan ngerang mengetahui bahwa putrinya diculik oleh pathak warak, maka ia berikrar bahwa orang yang berhasil membawa putrinya bila perempuan akan dijadikan saudara dewi roroyono. Dan jika laki-laki akan dijodohkan dengan putrinya.

Tak ada seorang pun yang menyatakan kesanggupannya. Sebab, semua orang telah maklum akan kehebatan dan kekejaman pathak warak. Hanya sunan muria yang bersedia memenuhi harapan sunan ngerang.

“saya akan berusaha mengambil diajeng Roroyono dari tangan pathak warak,” kata sunan muria

Di tengah perjalanan, sunan muria bertemu dengan kapa dan gentiri, adik seperguruan, yang lebih dahulu pulang sebelum acara syukuran berakhir. Keduanya merasa heram melihat sunan muria berlari cepat menuju ke arah daerah keling.

“Mengapa kakang tampak tergesa-gesa?” tanya kapa

Sunan muria pun menceritakan penculikan dewi roroyono yang dilakukan oleh pathak warak. Kapa dan gentiri sangat menghormati sunan muria sebagai saudara seperguruan yang lebih tua. Lantas, keduanya menyatakan diri untuk membantu Sunan Muria merebut kembali dewi Roroyono.

“Sebaiknya, kakang pulang ke padepokan gunung Muria. Para murid sangat membutuhkan bimbingan kakang. Biarlah kami yang berusaha merebut diajeng roroyono kembali. Kalau berhasil, kakang tetap berhak menikahnya, kami hanya membantu,” kata kapa.

“Aku masih sanggung merebutnya sendiri,” ujar sunan muria

“Itu benar, tapi, membimbing orang memperdalam agama islam juga lebih penting, percalah, kami pasti sanggup merebutnya kembali” kata kapa bersikeras

Akhirnya, sunan muria mengambulkan permintaan adik seperguruannya. Ia merasa tidak enak menolak seseorang yang hendak berbuat baik. Lagi pula, ia harus menengok para santrinya di padepokan gunung muria. Untuk merebut dewi roroyono dari tangan pathak warak, ternyata kapa dan gentiri meminta bantuan seorang wiku lodhang di pulau sprapat yang dikenal sebagai tokoh sakti dan tidak ada tandingannya. Usaha mereka berhasil sehingga dewi roroyono dikembalikan kepada Sunan Ngerang. Hari berikutnya, sunan muria hendak pergi menghadap sunan ngerang untuk mengetahui perkembangan usaha kapa dan gentri. Di tengah perjalanan, ia bertemua dengan adipati Pathak warak.

“hai pahtak warak, berhenti kamu” bentak sunan muria

Patahak warak yang sedang naik kuda terpaksa berhenti karena sunan muris menghadang di depannya.

“Minggi, jangan menghalangi jalanku! Hardik pathak warak

“Boleh asal kamu kebalikan Dewo Roroyono”

“Goblok! Roroyono sudah di bawa kapa dan gentiri! Kini aku hendak mengejar mereka”! umpat pathak warak.

“untuk apa kamu mengejar merek?”

“merebutnya kembali” jawab pathak warak dengan sengit

“Kalau begitu langkahi dulu mayatku, roroyono telah dijodohkan denganku!” ujar sunan muria sambil pasang kuda-kuda

tanpa basa basi maka pathak warak melompat dari punggung kuda. Ia menyerang sunan muria dengan jus cakar harimau. Tapi, ia bukan tandingan putra sunan kalijaga yang memiliki segudang kesaktian. Hanya dalam beberapa kali gebrakan, pathak warak telah jatuh atau roboh di tanah. Seluruh kesaktiannya lenyap, bahkan ia menjadi lumpuh dan tidak mampu untuk berdiri apalagi berjalan.

Sunan muria pun meneruskan perjalanan ke juana. Kedatangannya disambut gembira oleh sunan ngerang. Sebab, kapa dan gentiri telah bercerita secara jujur bahwa mereka sendiri yang memaksa mengambil alih tugas sunan muria mencari roroyono. Pada akhirnya, sunan ngerang menjodohkan dewi roroyono dengan sunan muria.

Upacara pernikahan pun segera dilaksanakan. Kapa dan Gentiri berjasa besar diberi hadiah tanah di desa buntar. Dengan hadiah itu keduanya menjadi orang kaya yang kehidupan mereka serba kecukupan. Sementara itu, sunan muria segera memboyong istrinya ke padepokan gunung muria. Mereka hidup bahagia karena merupakan pasangan ideal.

Tidak demikian halnya dengan kapa dan gentiri. Sewaktu membawa dewi roroyono dari keling ke ngarang, agarknya mereka terlanjut terpesonan oleh kecantikan wanita jelita itu. Siang dan malam, mereka tidak dapat tidur. Wajah wanita itu senantiasa terbayang. Namun, wanita itu sudah diperistri kakak seperguruannya sehingga mereka tidak dapat berbuat apapun.

Hanya penyesalan yang menghujam di dada mereka. Mengapa dulu mereka terburu-buru menawarkan jasa baik mereka? Betapa enak sunan muria sekarang tanpa bersusah payah, ia telah menikmati kebahagiaan bersama gadis yang mereka dambakan. Inilah hikmah ajaran agama agar lelaki diharuskan menahan pandangan mata dan menjaga kehormatan mereka. Adai kata kapa dan gentiri tidak menatap terus ke arah wajah dant ubuh dewi roroyono yang indah, mereka pasti tidak akan terpesonan dan tidak terjerat oleh iblis yang memasang perangkat pada pandangan mata.

Kini, kapa dan gentiri telah dirasuki iblis. Mereka bertekad hendak merebut dewi roroyono dari tangan sunan muria. Mereka telah sepakat untuk menjadikanya sebagai sitri kedua secara bergiliran. Sungguh keji rencana mereka. Gentiri beerangkat terlebih dulu ke gunung muria. Namun ketika ia hendak melaksanakan niatnya, justru kepergok oleh para murid sunan muria sehingga terjadi pertempuran dahsyat. Suasana menjadi panas ketika sunan muria keluar menghdapati gentiri. Akhirnya, gentiri tewas menemui ajalnya di puncak gunung muria.

Kematian gentiri cepat tersebar ke berbagai daerah. Tapi, berita itu tidak membuat surut niat kapa. Sebab, kapa cukup cerdik sehingga ia datang ke gunung muria secara diam-diam di malam hari. Tak seorang pun yang mengetahuinya. Pada saat itu, kebetulan sunan muria dan beberapa murid pilihannya sedang bepergian ke demak bintoro. Kapa membius para murid sunan muria yang berilmu rendah yang ditugaskan menjaga dewi roroyono, kemudian kapa menculik dan membawa wanita impiannya ke pulai sprapat dengan mudah.

Pada saat yang sama, sunan muria bermaksud mengadakan kunjungan kepada Wiku Lodhang Datuk di pulau sprapat sepulang dari demak bintoro. Ini biasa dilakukannya, yakni bersahabat dengan pemeluk agama lain. Dan, itu bukanlah suatu dosa, terlebih lagi sang wiku pernah menolongnya merebut dewi roroyono dari pihak pathak warak.

Seperti ajaran sunan kalijaga yang mampu hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain dalam suatu negeri. Sunan muria pun menunjukkan akhlak islam yang mulia dan agung. Sunan muria bukan berdebat tentang perbedaan agama itu. Dengan menerapkan akhlak yang mulia itu, banyak pemeluk agama lain yang akhirnya tertarik dan masuk islam secara suka rela. Sementara itu, kedatangan kapa ke pulau sprapat ternyata tidak disambut baik oleh wiku lodhang datuk.

Memalukan, benar benar nista perbuatanmu itu, cepat kembalikan istri kakanda seperguruanmu! Hardik wiku lodhang datuk dengan marah.

“bagaimana bapa guru ini? Bukankah aku ini adalah muridmu? Mengapa kamu tidak membelaku? Protes kapa.

“Apa? Membela perbuatan durjana?” bentak wiku lodhank datuk

“sampai mati pun, aku takkan sudi membela kebejatan budi pekerti, walaupun pelakunya itu muridku sendiri!” katanya

Perdebatan antara guru dan murid tersebut berlangsung lama. Tanpa mereka sadari, ternyata sunan muria sudah sampai di tempat itu. Betapa terkejut ketika sunan muria melihat istrinya sedang tergolek di tangah dengan kaki dan tangan terikat. Sementara itu, ia juga melihat kapa sedang bertengkar dengan gurunya yaitu Wiku lodhang datuk. Lalu, wiku loadhang melangkah menuju dewi roroyono untuk membebaskannya dari belenggu yang dilakukan oleh kapa.

Ketika sang wiku selesai membuka tali yang mengikat tubuh dewi roroyono, tiba tiba terdengar jeritan keras dari mulut kapa secara bersamaan. Ternyata serangan yang dilakukan kapa dengan mengerahkan aji kesaktian berbalik menghantam dirinya sendiri. Itula ilmu yang dimiliki sunan muria. Ia mampu mengembalikan serangan lawan. Sebab, kapa mempergunakan aji pamungkas, yaitu puncak kesaktian yang dimilikinya, maka ilmu itu akhirnya merengut nyawanya sendiri.

“Maafkan saya Tuan wiki,” sunan muria agak menyesal

“tidak mengapa, ia sudah sepantasnya menerima hukuman ini. Aku sangat menyesal karena telah memberikan ilmu kepadanya. Ternyata, lmu itu digunakan untuk jalan kejahatan,” gumam sang wiku.

Dengan langkah gontai, sang wiku mengangkat jenazah muridnya. Kapa adalah muridnya apaun yang terjadi. Pantaslah, kalau ia menguburkannya secara layak. Pada akhirnya, dewi roroyono dan sunan muria kembali ke padepokan dan hidup berbahagia.

Sumber Link