Tampilkan postingan dengan label kisah teladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah teladan. Tampilkan semua postingan

Kisah Suara dari Kuburan Seorang Nenek yang Istiqamah Menghatamkan al-Qur`an

19.43 Add Comment
Kisah Suara dari Kuburan Seorang Nenek yang Istiqamah Menghatamkan al-Qur`an
Nenek tua renta ini bukanlah orang terkenal, la adalah orang biasa yang hidup di tengah-tengah masyarakat petani. Tetapi, nenek yang lebih dikenal dengan keramahannya, kelembutan jiwanya, serta istiqamah dalam membaca al-Qur`an, mulai pagi, siang, sore, dan malam ini memang memantik inspirasi. la adalah orang yang tegar dan selalu berupaya bertahan hidup, meskipun kondisi perekonomian kadang menjepitnya. Namun, dengan al-Qur`an yang disandingnya, membuat hatinya lebih luwes, tenteram, dan tertata.

Marjiya—begitulah nenek itu dipanggil. Sebuah nama pendek yang diberikan ibunya—selalu berusaha untuk membangun kehidupannya, meskipun harus menembus gelapnya hujan, walaupun harus bangun setiap pagi buta untuk mempersiapkan bekal suaminya sebelum pergi ke sawah. la melakukannya dengan penuh kesabaran, nrimo ing pandum. la menerima bila suaminya tak memberikan uang belanja dan ia bersama-sama anak-anak di rumah harus berlauk lembayung. Kenyataan hidup tetap tak membuatnya surut dalam rutinitas al-Qur`an. Justru pengalaman hidup itu menjadi motivasi terbesar dirinya untuk memperkuat semangat khatam al-Qur`an.

"Suatu waktu, ia berkata kepadaku,"Saya hanya berdoa kepada Allah Swt. semoga anak-anak saya menjadi anak shalih atau shalihah dan mereka bisa ngaji al-Qur"an," Tutur Ngadijo, tetangga dekat Marjiya. Tetangga di sekitar rumahnya memang pada kagum. Betapa tidak, setiap jam 2 malam, di saat orang lain terlelap dalam tidur mereka, ia bangun dan ngaji al-Qur`an. Bila di tengah malam itu ada orang yang lewat di belakang rumahnya, pastilah orang itu akan mendengar lantunan al-Qur`an. Meskipun sakit merambat tubuhnya, jika masih bisa dipaksakan, ia tidak akan meninggalkan ibadah rutinnya ini.

Kamis malam. Sehabis Maghrib, sang nenek berbaring dalam derita penyakitnya yang telah diidapnya selama dua tahun terakhir, la tak dapat berbicara normal. Kebetulan malam itu adalah malam lebaran, yakni tanggai 1 Syawwal. Anak perempuannya menghampirinya setelah buka puasa terakhir, anak perempuan itu melihat sang ibu kesusahan bernapas. Kemudian, anak perempuannya meminta cucu Marjiya untuk memberi tahu ayahnya yang sedang shalat Maghrib di mushala. Begitu diberi tahu, sang menantu segera datang.

Sang menantu itu menengarai bahwa mertuanya mengalami sakaratul maut. Kemudian, ia membersihkan mulut dan wajahnya dengan kain, la meminta membimbing kalimat thayyibah dan alhamdulillah sang nenek meskipun tidak bisa ngomong, bisa mengucapkannya dengan baik.Tak lama kemudian, adzan Isya` berkumandang. Anak perempuan, menantu, cucu, dan orang-orang yang ada di dekatnya melihat kain surban berwarna putih dan seberkas cahaya berkelebat bagai kilat di depan muka Marjiya. Ditambah bau wangi yang menyodok hidung mereka. Lalu keringat terurai di keningnya, pertanda Marjiya sudah pergi menuju Allah Swt.

Keesokan harinya, Marjiya dikebumikan. Semua orang yang ada di lingkungan sekitarnya sedih, anak perempuan, menantu, cucu, dan sanak familinya, la dikebumikan di samping pesarean suaminya. Setelah semua usai, berkem¬bang kisah tentang kebaikannya semasa hidup. Dan, yang membuat semua keluarga dan tetangga kaget ketika terdengar suara ngaji al-Qur`an dari dalam kuburan Marjiya. Orang-orang di kampung itu penasaran. Menurut putrinya, suara itu memang suara ibunya. Tapi, ia juga tidak tahu mengapa semua itu bisa terjadi. Ya, tentu saja tak lain dan tak bukan karena Marjiwa istiqamah membaca al-Qur`an.

Malam berikutnya, cucu perempuannya bermimpi sang nenek, la melihat seolah-olah sang nenek berada di tempat yang tinggi dan bercahaya, la sedang duduk di sebuah kursi yang bagus, berhiaskan kuning emas, dan di tangannya memegang al-Qur`an. Sang nenek itu berkata kepada cucunya, "Ternyata memang benar perintah guruku, al-Qur`an telah menolongku."

Setelah mendengar ucapan itu, tiba-tiba cucunya ter-peranjat dan terbangun dari tidurnya. Karena merasa takut, ia membangunkan ibunya dan bercerita jika neneknya berada di tempatyang nyaman.

Disadur dari Kisah-kisah Ajaib Pengubah Hidup!, Karya Ustdz Amrin Ali Hasan

kolom.abatasa.co.id

Emanuel Adebayor: 13 Alasan Mengapa Saya Memilih Islam

05.13 Add Comment
Emanuel Adebayor: 13 Alasan Mengapa Saya Memilih Islam

Beberapa bulan terakhir, berita tentang masuk Islamnya seorang atlet sepak bola internasional terdengar cukup ramai berseliweran di dunia maya. Ya, seorang pemain internasional asal Togo, Sheyi Emmanuel Adebayor, mengumumkan bahwa ia telah memeluk Islam. Ia telah meninggalkan keyakinan Kristennya dan memilih Islam sebagai jalan hidup. Jalan kebenaran yang ia yakini.

Menariknya, ia juga menyebutkan beberapa alasan mengapa ia memilih Islam dan meninggalkan Kristen. Tentu ini menunjukkan, Adebayor melakukan pengkajian, membandingkan, dan merenungkan sehingga sampai pada kesimpulan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Bukan sekedar ikut-ikutan dan emosional saja.

Berikut ini alasan Adebayor memeluk Islam sebagaimana dirilis oleh theheraldng.com. Pesepakbola yang pernah bermain untuk klub-klub sepak bola top Eropa: Arsenal, Manchester City, Real Madrid, dan kini Tottenham Hotspurs ini mengatakan,

“Aku punya 13 alasan yang kuat mengapa seorang muslim itu sama seperti Yesus dan mereka lebih mengikuti Yesus daripada orang-orang Kristen:

Pertama, Yesus mengajarkan bahwa hanya ada satu Tuhan. Hanya satu Tuhan saja yang berhak untuk disembah. Hal itu termaktub dalam Deut 6:4, Mark 12:29. Umat Islam juga meyakini demikian. Sebagaimana diajarkan Alquran dalam surat 4 (An-Nisa) ayat 171.

Kedua, Yesus tidak makan daging babi. Dijelaskan dalam Leviticus 11:7. Sama dengan yang dilakukan umat Islam. Dan hal itu dijelaskan Alquran dalam surat 6 (Al-An’am) ayat 145.

Ketiga, Yesus mengucapkan salam dengan kalimat “assalamu’alaikum” (kedamaian selalu bersamamu). Terdapat dalam John 20:21. Muslim juga mengucapkan salam dengan cara demikian.

Keempat, Yesus selalu mengucapkan “God Willing” (insya Allah). Umat Islam mengucapkan kalimat ini juga sebelum mereka melakukan apapun. Sebagaimana dituntunkan dalam Alquran surat 18 (Al-Kahfi) ayat 23-24.

Kelima, Yesus mencuci wajah, kedua tangan, dan kedua kakinya sebelum shalat. Hal yang sama juga dilakukan oleh seorang muslim.

Keenam, Yesus dan nabi-nabi lainnya yang terdapat di dalam Injil shalat dengan meletakkan kepala mereka di tanah. Dijelaskan dalam Matthew 26:39. Muslim juga melakukan demikian. Sebagaimana diajarkan Alquran dalam surta 3 (Ali Imran) ayat 43.

Ketujuh, Yesus memiliki janggut dan memakai throbe (gamis). Hal ini disunnahkan bagi seorang muslim.

Kedelapan, Yesus mengikuti syariat (syariatnya tauhid sama seperti nabi-nabi sebelumnya pen.) dan mengimani semua nabi. Lihat Matther 5:17. Muslim juga diajarkan demikian oleh Alquran. Lihatlah surat 3 (Ali Imran) ayat 84 dan 2 (Al-Baqarah) 285.

Kesembilan, Ibu Yesus, Maryam, mengenakan pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya dan mengenakan hijab. Sebagaimana terdapat dalam 1 Timothy 2:9, Genesis 24: 64-65, dan Corinthians 11:6. Wanita muslimah juga mengenakan pakaian yang sama. Alquran mengajarkan mereka dalam surat 33 (Al-Ahzab) ayat 59.

Kesepuluh, Yesus dan nabi-nabi lainnya yang disebutkan di dalam Injil berpuasa hingga lebih dari 40 hari. Lihat Exodus 34:28, Daniel 10:2-6. 1Kings 19:8 dan Matthew 4:1. Muslim pun berpuasa selama bulan Ramadhan. Seorang muslim diwajibkan berpuasa sebulan penuh, 30 hari. Lihat Alquran surat 2 (Al-Baqarah) ayat 183. Kemudian dianjurkan untuk melanjutkan berpuasa 6 hari untuk menambah ganjaran pahala.

Kesebelas, Yesus mengajarkan agar berucap “Kedamaian untuk rumah ini” ketika memasuki rumah. Lihat Luke 10:5. Dan juga memberi salam kepada orang-orang di dalam rumah dengan ucapan “Kedamaian untuk kalian”. Sekali lagi, muslim melakukan hal yang sama persis dengan apa yang dilakukan dan diajarkan Yesus. Ketika kita masuk ke rumah kita, atau rumah orang lain, kita mengucapkan “Bismillah” dan juga memberi salam “assalamualaikum”. Inilah tuntunan Alquran dalam surat 24 (An-Nur) ayat 61.

Kedua belas, Yesus dikhitan (disunat). Khitan merupakan salah satu dari 5 sunnah fitrah dalam ajaran Islam. Dalam Islam, seorang laki-laki diwajibkan untuk berkhitan. Berdasarkan Injil Luke 2:21. Yesus berusia 8 hari saat ia dikhitan. Di dalam Taurat, Allah berfirman kepada Nabi Ibrahim bahwa khitan adalah sebuah “perjanjian abadi”. Lihat Genesis 17:13. Di dalam Alquran, surat 16 (An-Nahl) ayat 123, seorang muslim diwajibkan untuk mengikuti agama Nabi Ibrahim. Nabi Muhammad ﷺ bersabda, “Ibrahim berkhitan setelah berumur delapan puluh tahun” (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

Ketiga belas, Yesus berbicara dalam bahasa Aramaik dan menyebut Tuhan dengan Elah. Secara penyebutan atau pelafalan, sama dengan lafadz Allah. Aramaik adalah bahasa kuno. Ia merupakan bahasa Bible. Bahasa ini merupakan salah satu dari Bahasa Semit. Termasuk juga bahasa Hebrew (Ibrani), Arab, Ethiopia, dan bahasa-bahasa kuno lainnya seperti bahasa Assyria dan Babylonia yang merupakan Bahasa orang-orang Akkadia.

Bahasa Aramaik “Elah” dan bahasa Arab “Allah” adalah sama.

Kata Aramaik “Elah” berasal dari bahasa Arab “Allah”. Yang artinya adalah Tuhan. Allah dalam bahasa Arab artinya juga Tuhan. Tuhan Yang Mahatinggi. Anda bisa dengan mudah mendapatkan kesamaan pelafalannya. Dengan demikian, Tuhannya Yesus juga merupakan Tuhannya orang-orang Islam. Dialah Tuhan semua manusia. Dan Tuhan semua makhluk yang ada.

Emanuel Adebayor: 13 Alasan Mengapa Saya Memilih Islam

Nah, sekarang katakan kepadaku, siapakah pengikut Yesus yang sebenarnya? Tentu saja jawabnya umat Islam. Sekarang saya yakin saya telah menjadi pengikut Yesus yang sebenarnya”. Tutup Adebayor.

Penutup

Kajian yang dilakukan Adebayor benar-benar menunjukkan bahwa yang benar itu jelas dan yang menyimpang itu juga telah jelas. Oleh karena itu, benarlah apa yang Allah firmankan,

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS:Ali Imran | Ayat: 85).

Rugilah mereka yang memilih agama selain Islam. Apalagi menukarnya dengan yang selainnya.

Sumber: theheraldng.com

Kisah Salman Al-Farisi Pencari Kebenaran Sejati

05.44 Add Comment
Rasulullah SAW pernah bersabda tentang Salman al-Farisi ra : “Seandainya keimanan itu berada (jauh) di bintang Tsurayya, niscaya orang-orang dari mereka ini telah meraihnya”. Muttafaq ‘alaih.
Kisah Salman Al-Farisi Pencari Kebenaran Sejati

Banyak hati yang tergerak untuk mencari kebenaran. Tak sedikit orang yang mengayunkan langkah, menelusuri jalan panjang demi sebuah hidayah. Namun, kerap kali mereka goyah didera badai ujian, sementara tak jarang jemari melemah melepas hidayah yang sempat digenggam. Inilah Salman al-Farisi ra, seorang sahabat yang mulia. Kegigihannya dalam mencari kebenaran adalah teladan. Kekokohannya menggenggam hidayah adalah bukti kebenaran iman.

Asal Usul Salman Al-Farisi
Salman adalah salah seorang penduduk Persia (dalam bahasa Arab, Faris), karena itulah beliau disebut dengan al-Farisi. Dari sanalah beliau berasal, tepatnya di sebuah desa bernama Jayy, bagian dari kota Asbahan (kota Isfahan, Iran). Ketika itu beliau dikenal dengan nama aslinya Ruziyah. Setelah memeluk Islam beliau bergelar Abu Abdillah, masyhur dengan julukan Salman al-Khair atau Salman bin al-Islam. Ayah beliau adalah seorang pembesar di desanya. Kecintaan yang sangat kepada Salman membuat sang Ayah menahan puteranya di dalam rumah layaknya gadis pingitan. Salman menjalani hari-harinya sebagai penjaga api, sesembahan pemeluk agama Majusi.

Awal Mula Salman Al-Farisi Meninggalkan Agama Majusi
Ayah Salman memiliki sebuah ladang yang amat luas. Suatu ketika, dia tersibukkan oleh bangunan miliknya dan menyuruh Salman pergi ke ladang. Di tengah perjalanan, Salman melewati sebuah gereja Nasrani. Salmankemudian masuk dan mendapati orang-orang Nasrani yang sedang beribadah. Rasa kagum meliputi hati Salman. Dari mereka Salman mengetahui bahwa Agama Nasrani itu berasal dari Syam (Palestina dan Sekitarnya). Salman mengisahkan peristiwa itu dan mengungkapkan kekagumannya kepada Ayahnya. Kekhawatiran menghinggapi diri sang Ayah. Karenanya, ayah Salman kemudian membelenggu kedua kaki Salman dan menahannya di rumah. Inilah Salman, sesuatu telah berkecamuk di dalam hatinya. Saatnya mencari kebenaran yang selama ini terhalang dari dirinya. Meskipun rintangan pertama justru datang dari ayahnya sendiri. Hari-hari telah berlalu, tersiar kabar kedatangan rombongan pedagang dari Syam. Kesempatan yang dinanti-nanti. Ketika urusan mereka telah selesai dan hendak pulang ke Syam, Salmanmelepaskan belenggu dari kedua kakinya dan berangkat bersama mereka ke Syam.

Salman dan Agama Nasrani
Sesampainya di Syam, Salman segera mencari tahu tentang orang yang paling utama di antara pengikut agama Nasrani. Bertemulah Salman dengan seorang uskup yang ada di gereja. Salman tinggal bersama uskup tersebut dan melayaninya di dalam gereja. Ternyata, uskup itu seorang yang jelek perangainya. Dia memerintahkan orang-orang agar bersedekah, namun harta sedekah tersebut disimpannya untuk dirinya sendiri. Tak lama uskup itu pun mati. Salman memberitahukan perbuatan uskup tersebut kepada orang-orang Nasrani dan menunjukkan kepada mereka simpanannya berupa tujuh tempayan yang penuh dengan emas dan perak. Mereka pun menyalib uskup tersebut dan tidak menguburkannya. Kemudian mereka menjadikan orang lain sebagai pengganti. Dia adalah seorang yang tekun beribadah dan zuhud terhadap dunia. Salman sangat mencintainya lebih dari siapapun sebelumnya. Salman tinggal bersamanya hingga tiba saatnya uskup yang baik tersebut didatangi tanda-tanda kematian.

Inilah Salman, Salman mendatanginya dan meminta wasiat untuk dirinya, kepada siapa ia harus pergi. Dia pun berpesan, “Wahai anakku, demi Allah, aku tidak mendapati seorang pun yang berada di atas agama yang aku peluk. Orang-orang telah binasa. Mereka telah mengubah agama Nasrani dan meninggalkan kebanyakan agama mereka, kecuali seseorang di Maushil (kota Mosul, Irak). Dia adalah Fulan, ia berada di atas agama yang aku peluk, maka temuilah dia !. Sepeninggalnya, Salman menemui orang yang disebutkan. Salmantinggal bersamanya dan mendapatinya sebagai sebaik-baik orang di atas agama temannya. Sampai ketika tanda-tanda kematian mendatanginya, Salman kembali meminta wasiat untuk dirinya. Senada dengan ucapan temannya yang terdahulu, lelaki baik ini mewasiatkan kepada Salman untuk menemui seorang lelaki di Nashibin (kota Nusaybin, Turki). Singkat cerita, Salman mengalami kisah sebagaimana masa-masa di Maushil. Sampai dia mendapatkan petunjuk untuk menemui seorang di Ammuriyyah (kota Amorium, Turki) yang berada di atas agama Nasrani. Salman pun menemui lelaki tersebut dan tinggal bersamanya. Di sana Salman bekerja sampai mempunyai banyak sapi dan kambing.

Sebagaimana sebelumnya, menjelang kematiannya, lelaki itu pun berpesan, “Wahai anakku, aku tidak mengetahui ada seorang pun yang berada di atas agama kami yang aku memerintahkanmu untuk mendatanginya. Tetapi telah dekat masa pengutusan seorang Nabi. Dia diutus dengan agama Nabi Ibrahim yang muncul dari jazirah Arab kemudian hijrah ke sebuah negeri di antara dua tanah yang berbatu hitam, diantaranya ada pohon-pohon kurma (kota Madinah). Lelaki itu lalu melanjutkan, “Pada orang itu ada tanda-tanda yang tidak tersembunyi, dia memakan hadiah dan tidak memakan sedekah. Diantara kedua pundaknya ada tanda kenabian. Jika engkau mampu untuk mendatangi Negeri tersebut, maka lakukanlah ! “Tak lama, lelaki itu pun meninggal.

Masuk Islamnya Salman Al-Farisi

Suatu hari di ‘Ammuriyyah, lewat sekumpulan pedagang dari suku Kalb. Salman meminta mereka untuk membawanya ke jazirah Arab dengan membayarkan sapi-sapi dan kambing-kambing milikya. Mereka pun setuju. Namun sesampainya di Wadil Qura, mereka justru menjual Salman kepada seorang Yahudi sebagai budak. Tinggallah Salman bersama Yahudi tersebut. Allah Maha Mengetahui kesungguhan hati Salman. Suatu ketika, anak paman si Yahudi datang dan membeli Salman darinya. Kemudian dia membawa Salman ke Madinah. Salman bisa mengetahuinya dengan ciri-ciri yang disebutkan sahabatnya. Sejak saat itu, Salmantinggal di Madinah. Sementara itu, tiba masanya Allah mengutus Rasul-Nya. Salman tak mengetahui hal ini sampai ketika Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Pada suatu hari, Salman berada di atas pohon kurma, sementara tuannya sedang duduk. Datanglah anak paman tuannya menceritakan tentang datangnya seorang dari Mekkah di Quba. Orang-orang mengira bahwa dia seorang Nabi. Mendengar cerita tersebut Salman gemetar karenanya. Dia berusaha bertanya, namun justru membuat marah tuannya hingga meninjunya dengan keras.

Tak putus harapan, Salman berusaha mencari tahu tentang jati diri orang yang dikira Nabi tersebut. Berbekal cirri-ciri yang dia ketahui dari sahabatnya, Salman beberapa kali mendatangi Rasulullah SAW. Kali pertama, Salman mendatangi beliau SAW dengan membawa sesuatu sebagai sedekah. Ternyata beliau menyuruh para sahabat memakannya, sementara beliau sendiri menahan diri darinya. Satu bukti bagi Salman. Kedatangan kedua, Salman kembali membawa sesuatu. Kali ini dia menghadiahkannya kepada Rasulullah SAW. Beliau SAW lalu memakannya dan memerintahkan para sahabat untuk makan. Inilah bukti yang kedua bagi Salman. Ketiga kalinya, Salman mendatangi Rasulullah SAW ketika beliau sedang mengiringi jenazah seorang sahabat di pekuburan Baqi’. Beliau SAW mengenakan dua pakaian sejenis jubah. Salman mengucapkan salam, kemudian berkeliling untuk mencari cap kenabian di bagian punggung Rasul SAW. Beliau SAW menyadari hal ini, lalu melepaskan selendang dari punggung beliau. Salman pun bisa melihat tanda kenabian itu. Inilah Salman, seketika itu dia tertelungkup di hadapan Rasul SAW, lalu mencium beliau dan menangis. Salman akhirnya masuk Islam. Kesungguhannya dalam mencari kebenaran, mengantarkannya kepada hidayah yang selama ini dia cari.

Kehidupan Salman Al-Farisi dalam Islam
Hari-hari setelahnya, Salman masih tersibukkan dalam perbudakan, sehingga tidak mengikuti perang Badar dan Perang Uhud. Dengan bantuan dari Rasulullah SAW, Salman berhasil membebaskan diri dari perbudakan. Sejak saat itu, Salman tak pernah terluput dari mengikuti peperangan bersama Rasul SAW, serta peperangan di masa Khulafa’ Rasyidin. Pada peristiwa perang Khandaq tahun 5 H, Salman menyumbangkan ide yang cemerlang berupa pembuatan parit besar sebagai strategi pertahanan kaum Muslimin. Dengan cara inilah kota Madinah selamat dari upaya penyerangan pasukan gabungan Musyrikin Quraisy dan Yahudi saat itu. Sautu ketika Rasulullah SAW mempersaudarakan antara Abu Darda dengan Salman al-Farisi ra. Mereka menjalani kehidupan di dunia ini dengan kecintaan karena Allah. Hingga mereka berdua terpisahkan karena menjalani tugas masing-masing. Abu Darda menjadi seorang Qadhi (hakim) di Damaskus. Adapun Salman, beliau menjadi Gubernur di Madain, Irak . suatu hari Abu Darda mengirim surat untuk Salman, yang isinya, “Marilah menuju bumi yang suci (Syam)”. Maka Salman membalas surat tersebut, “Sesungguhnya bumi itu tidak bisa menyucikan diri seseorang. Hanyalah amalan yang bisa menyucikan seorang hamba.

Akhir kehidupan Salman Al-Farisi

Sebagian ulama menyebutkan adanya ijma (kesepakatan ulama) bahwa umur beliau mencapai 250 tahun, adapun yang menyebutkan lebih dari itu telah terjadi silang pendapat (lihat Al Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, Al Bidayah Wan Nihayah). Setelah melalui perjalanan panjangnya, beliau wafat dan dimakamkan di Madain, Irak pada tahun 36 H. beliau telah meninggalkan banyak pelajaran berharga bagi kaum Muslimin. Semoga Allah meridhainya.

Kisah Sang Dermawan Fatimah Az-Zahra

19.55 Add Comment
Sang Dermawan Fatimah Az-Zahra

Kisah Sang Dermawan Fatimah Az-Zahra - Kedermawanan Fatimah Az-Zahra sukar dicari tandingannya. Ia adalah putri Nabi Muhammad SAW.
Pada suatu hari, datang seorang laki-laki menghadap Rasulullah. Pakaian laki-laki itu compang-camping sehingga bagian perut dan lututnya kelihatan. Dia sangat lemah.

“Ya Rasulullah. Aku lapar sekali dan hampir telanjang karena pakaianku compang-camping begini. Berilah sedikit makanan dan secarik kain untuk menutup auratku,” pinta laki-laki miskin itu.

Rasulullah selalu berderma kepada fakir miskin. Namun, sekali ini beliau tidak mempunyai apa-apa yang biasa diberikan kepada peminta-minta itu. Tidak ada makanan dan kain untuk didermakan.
“Aku tidak punya apa-apa yang bisa kuberikan kepadamu,” kata Rasulullah. “Cobalah datang kerumah anakku Fatimah. Itu rumahnya.”
“Baiklah. Aku akan kesana,” kata orang itu.
Di depan rumah Fatimah, orang itu berseru-seru, “Hai keluarga Nabi! Hai, penghuni tempat yang sering di datangi Malaikat!”
Fatimah Az-Zahra mendengar seruan itu. Ia membuka pintu rumahnya. Dilihatnya seorang Arab Badawi (Arab pegunungan) yang terlihat lemas dan pakaian compang-camping.
“Ada apa?” Tanya Fatimah.
“Aku baru saja menemui ayahmu.. beliau tidak punya apa-apa yang biasa didermakan kepadaku,” kata orang itu. Hai, putri Nabi, tolonglah aku.”
Fatimah kebingungan, keadaannya sama dengan keadaan ayahnya. Tidak punya apa-apa yang biasa didermakan kepada orang lain. Secuil makanan pun tidak ada, apalagi secarik kain.

Fatimah mencari-cari sesuatu yang bisa diberikan kepada orang itu. Ia melihat anak lelakinya, Al Hasan, duduk diatas selembar kulit kambing. Fatimah mengambil kulit kambing yang telah dikeringkan itu.
“Hanya ini yang bisa kuberikan kepadamu,” katanya.
“Hai, putri Muhammad! Aku datang karena lapar dan hampir telanjang. Yang kau berikan hanya selembar kulit kambing. Ini tidak bisa menolongku,” kata orang Arab Badawi itu. “Berikanlah sesuatu yang lain.”

Fatimah makin kebingungan. Apa lagi yang bisa diberikan kepada orang itu? Tidak sengaja Fatimah meraba lehernya. Di leher itu ada seuntai kalung yang dikenakannya. Dulu kalung itu milik Hamzah bin Abdul Muthalib. Hamzah adalah paman Rasulullah. Hamzah memberikan kalung itu sebagai hadiah perkawinan kepada Fatimah. Hanya kalung itulah milik Fatimah yang bisa didermakan. Fatimah pun melepaskan kalung pemberian Hamzah itu. Di berikannya kepada orang Arab Badawi.
“Hanya ini yang bisa kuberikan ,” katanya.
“Terima kasih, wahai putri Rasulullah. Semoga Allah memberkahimu.”

Orang Arab Badawi itu pergi membawa kalung pemberian Fatimah. Betapa berharganya kalung itu. Namun, Fatimah rela memberikannya kepada orang yang membutuhkan pertolongan. Kedermawanan Fatimah Az-Zahra memang sulit dicari tandingannya.

kisah pengemis buta di zaman rasulullah

19.50 Add Comment
Kisah Pengemis Buta

Kisah Pengemis Buta di Zaman Rasulullah. Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah, hidup seorang pengemis Yahudi yang buta. Dia sangat membenci Nabi Muhammad SAW meskipun belum pernah melihatnya. Setiap hari, dia selalu berkata kepada siapa saja yang datang mendekatinya, “Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir. Apabila kalian mendekatinya, kalian akan dipengaruhinya.”
Setiap pagi Nabi Muhammad SAW mendatanginya dengan membawa makanan. Tanpa sepatah kata pun, Nabi Muhammad SAW menyuapi si Pengemis Yahudi itu. Setiap Nabi Muhammad SAW datang, pengemis itu selalu berkata, “Jangan mendekati Muhammad karena dia adalah orang gila, pembohong, dan tukang sihir.” Pengemis itu tidak tahu bahwa yang dihadapinya, yang setiap hari menyuapinya makan adalah Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi, Nabi Muhammad tidak berkata apa-apa. Beliau terus saja datang mengunjungi pengemis buta itu sampai menjelang wafat. Setelah Nabi Muhammad wafat, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.
Suatu hari, Abu Bakar ra berkunjung ke rumah anaknya, Aisyah ra. Ia bertanya kepada anaknya, “Anakku, adakah sunnah Rasulullah SAW yang belum aku kerjakan?”
“Ayah, engkau adalah ahli sunnah, hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan, kecuali satu sunnah,” jawab Aisyah ra.
“Apakah itu?” Tanya Abu Bakar ra.
“Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi kie ujung pasar sambil membawa makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana,” ucap Aisyah ra.
Keesokan harinya, Abu Bakar ra pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis buta itu. Abu Bakar ra mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan kepadanya. Ketika Abu Bakar ra mulai menyuapinya, si pengemis marah.
“Siapa kamu?” Tanya si pengemis buta itu.
“Aku orang yang biasa datang mengunjungimu,” jawab Abu Bakar ra.
“Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku. Apabila ia datang kepadaku, tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tetapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut.” Ucap pengemis itu.
Abu Bakar ra tidak dapat menahan air matanya, kemudian berkata, “Aku memang bukan orang yang biasa datang kepadamu. Aku adalah salah seorang sahabatnya. Orang yang mulia itu telah tiada.”
“Siapakah orang yang selalu menyuapiku?” Tanya si pengemis.
“Ia adalah Rasulullah SAW,” jawab Abu Bakar ra.
Setelah pengemis itu mendengar cerita Abu Bakar ra, ia pun menangis. Kemudian dia berkata, “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghina dan memfitnahnya, tetapi ia tidak pernah memarahiku sekali pun. Ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia…”
“Ya, begitulah kemulian Rasulullah SAW,” kata Abu Bakar ra.
Akhirnya, pengemis Yahudi buta tersebut bersyahadat di hadapan Abu Bakar ra. Ia menyatakan masuk Islam dan beriman kepada Rasulullah SAW.

Mengalah itu Bukan Berarti Kalah

07.50 Add Comment
kisah teladan


Dikisahkan, ada seorang bernama Zhang yang mempunyai dua orang putra yang punya watak berlawanan. Yang pertama adalah Zhang Da yang cenderung tamak, dan Zhang Er yang punya sikap suka mengalah.

Mengalah tak berarti kalah. Mundur bukan berarti tak berani bertempur. Ungkapan tersebut barangkali sering membuat kita bimbang. Sebab, kadang ungkapan “pengecut” segera muncul akibat kita memutuskan mundur sejenak. Padahal, ada kalanya, mundur sebenarnya sedang mempersiapkan langkah terbaik untuk maju ke depan. Layaknya anak panah yang ditarik ke belakang, justru siap meluncur dengan cepat menuju sasaran.

Untuk itu, jika menghadapi kebimbangan dalam mengambil sebuah keputusan—apakah akan mundur atau mengalah—mungkin tulisan serta cerita berikut bisa kita jadikan pembelajaran bersama.

Dikisahkan, ada seorang bernama Zhang yang mempunyai dua orang putra yang punya watak berlawanan. Yang pertama adalah Zhang Da yang cenderung tamak, dan Zhang Er yang punya sikap suka mengalah. Zhang Er punya prinsip, yang penting bahagia dan hidup harus mengutamakan perdamaian. Karena itu, ketika orangtuanya Zhang meninggal dunia dan harta warisan sang ayah lebih banyak didominasi oleh kakaknya, Zhang Da, ia mengalah. Ia hanya berkata, “Jangan sampai karena masalah harta warisan yang sepele, merusak hubungan persaudaraan.”

Dengan kondisi tersebut, Zhang Da berkembang jadi saudagar kaya. Banyak penduduk desa yang bekerja padanya, meski sebenarnya kurang suka dengan sikapnya. Sedangkan adiknya hanya menjadi orang yang biasa-biasa saja. Namun, karena perangainya yang baik, sang adik disukai oleh banyak orang.

Suatu kali, penduduk desa ingin membangun jalan raya yang menghubungkan desa mereka dengan kota untuk mempermudah penjualan barang-barang hasil desa. Namun, agar jalannya tak berkelok, jalan tersebut harus melalui ladang milik Zhang Da. Karena tamak, ia mau memberikan tanah dengan syarat siapa pun yang lewat harus memberikan sebagian besar pendapatannya pada Zhang Da karena dianggap sudah mengurangi hasil ladangnya yang akan diubah jadi jalan.

Penduduk desa tak mau mengikuti syarat tersebut. Beruntung, Zhang Er yang baik hati mau memberikan tanahnya untuk dipakai. Warisannya yang tak seberapa, diberikan kepada penduduk desa dengan cuma-cuma. Dan, meski agak sedikit berbelok, hal itu tetap sangat membantu penduduk desa sehingga mereka lebih mudah menjual dagangannya. Jalan itu pun makin ramai. Dan, karena tanah itu milik Zhang Er, ia pun mendirikan sebuah kedai teh di sana. Lama-lama, saking ramainya jalan, kedai teh Zhang Er pun makin ramai hingga kedainya berkembang dan ia pun akhirnya jadi saudagar kaya. Sebaliknya, sang kakak, Zhang Da, tak ada lagi penduduk yang mau bekerja dengannya. Akibatnya, ladangnya pun berakhir terlantar sehingga makin lama ia menjadi miskin.

Kisah tersebut mengajarkan kepada kita bahwa dalam kehidupan sehari-hari terdapat banyak sekali hal, yang secara sepintas terlihat merugikan, tetapi sebenarnya akan ada hasil yang baik di belakangnya. Memang, acap kali kita harus berkorban. Tak jarang kita harus mengalami banyak kegagalan. Namun jika kita mampu bersabar, layaknya Zhang Er, apa yang kita “investasikan”—meski terkesan merugi pada awalnya—bisa menjadi “tumbuhan dengan buah lebat” yang bisa kita petik setiap hari.

Mari, hidup dengan bersahaja. Jangan sampai kita mencontoh Zhang Da yang tamak. Meski tampak menguntungkan, jika dilakukan dengan cara-cara yang negatif, suatu kali pasti akan datang “balasan”. Sebaliknya, mari teladani sikap Zhang Er, yang mengalah, namun ujungnya banyak mendatangkan berkah.

Salam sukses, luar biasa!!!

Sumber : http://www.andriewongso.com/articles/details/14596/Mengalah-Bukan-Berarti-Kalah

Kisah Wanita Sholehah

06.50 Add Comment
Kisah Wanita Sholehah

Di Madinah ada seorang wanita cantik shalihah lagi bertakwa. Bila malam mulai merayap menuju tengahnya, ia senantiasa bangkit dari tidurnya untuk shalat malam dan bermunajat kepada Allah. Tidak peduli waktu itu musim panas ataupun musim dingin, karena disitulah letak kebahagiaan dan ketentramannya. Yakni pada saat dia khusyu berdoa, merendah diri kepada sang Pencipta, dan berpasrah akan hidup dan matinya hanya kepada-Nya.

Dia juga amat rajin berpuasa, meski sedang bepergian. Wajahnya yang cantik makin bersinar oleh cahaya iman dan ketulusan hatinya.
Suatu hari datanglah seorang lelaki untuk meminangnya, konon ia termasuk lelaki yang taat dalam beribadah. Setelah shalat istiharah akhirnya ia menerima pinangan tersebut. Sebagaimana adat kebiasaan setempat, upacara pernikahan dimulai pukul dua belas malam hingga adzan subuh. Namun wanita itu justru meminta selesai akad nikah jam dua belas tepat, ia harus berada di rumah suaminya. Hanya ibunya yang mengetahui rahasia itu. Semua orang tajub. Pihak keluarganya sendiri berusaha membujuk wanita itu agar merubah pendiriannya, namun wanita itu tetap pada keinginannya, bahkan ia bersikeras akan membatalkan pernikahan tersebut jika persyaratannya ditolak. Akhirnya walau dengan bersungut pihak keluarga pria menyetujui permintaan sang gadis.

Waktu terus berlalu, tibalah saat yang dinantikan oleh kedua mempelai. Saat yang penuh arti dan mendebarkan bagi siapapun yang akan memulai hidup baru. Saat itu pukul sembilan malam. Doa ‘Barakallahu laka wa baaraka alaika wa jamaa bainakuma fii khairin mengalir dari para undangan buat sepasang pengantin baru. Pengantin wanita terlihat begitu cantik. Saat sang suami menemui terpancarlah cahaya dan sinar wudhu dari wajahnya. Duhai wanita yang lebih cantik dari rembulan, sungguh beruntung wahai engkau lelaki, mendapatkan seorang istri yang demikian suci, beriman dan shalihah.

Jam mulai mendekati angka dua belas, sesuai perjanjian saat sang suami akan membawa istri ke rumahnya. Sang suami memegang tangan istrinya sambil berkendara, diiringi ragam perasaan yang bercampur baur menuju rumah baru harapan mereka. Terutama harapan sang istri untuk menjalani kehidupan yang penuh dengan keikhlasan dan ketakwaan kepada Allah.

Setibanya disana, sang istri meminta ijin suaminya untuk memasuki kamar mereka. Kamar yang ia rindukan untuk membangung mimpi-mimpinya. Dimana di kamar itu ibadah akan ditegakkan dan menjadi tempat dimana ia dan suaminya melaksanakan shalat dan ibadah secara bersama-sama. Pandangannya menyisir seluruh ruangan. Tersenyum diiringi pandangan sang suami mengawasi dirinya.

Senyumnya seketika memudar, hatinya begitu tercekat, bola matanya yang bening tertumbuk pada sebatang mandolin yang tergeletak di sudut kamar. Wanita itu nyaris tak percaya. Ini nyatakah atau hanya fatamorgana? Ya Allah, itu nyanyian? Oh bukan, itu adalah alat musik. Pikirannya tiba-tiba menjadi kacau. Bagaimanakah sesungguhnya kebenaran ucapan orang tentang lelaki yang kini telah menjadi suaminya.

Oh...segala angan-angannya menjadi hampa, sungguh ia amat terluka. Hampir saja air matanya tumpah. Ia berulang kali mengucap istighfar, Alhamdulillah ‘ala kulli halin. "Ya bagaimanapun yang dihadapi alhamdulillah. Hanya Allah yang Maha Mengetahui segala kegaiban."

Ia menatap suaminya dengan wajah merah karena rasa malu dan sedih, serta setumpuk rasa kekhawatiran menyelubung. "Ya Allah, aku harus kuat dan tabah, sikap baik kepada suami adalah jalan hidupku." Kata wanita itu lirih di lubuk hatinya. Wanita itu berharap, Allah akan memberikan hidayah kepada suaminya melalui tangannya.

Mereka mulai terlibat perbincangan, meski masih dibaluti rasa enggan, malu bercampur bahagia. Waktu terus berlalu hingga malam hampir habis. Sang suami bak tersihir oleh pesona kecantikan sang istri. Ia bergumam dalam hati, "Saat ia sudah berganti pakaian, sungguh kecantikannya semakin berkilau. Tak pernah kubayangkan ada wanita secantik ini di dunia ini." Saat tiba sepertiga malam terakhir, Allah taala mengirimkan rasa kantuk pada suaminya. Dia tak mampu lagi bertahan, akhirnya ia pun tertidur lelap. Hembusan nafasnya begitu teratur. Sang istri segera menyelimutinya dengan selimut tebal, lalu mengecup keningnya dengan lembut. Setelah itu ia segera terdorong rasa rindu kepada mushalla-nya dan bergegas menuju tempat ibadahnya dengan hati melayang.

Sang suami menuturkan, "Entah kenapa aku begitu mengantuk, padahal sebelumnya aku betul-betul ingin begadang. Belum pernah aku tertidur sepulas ini. Sampai akhirnya aku mendapati istriku tidak lagi disampingku. Aku bangkit dengan mata masih mengantuk untuk mencari istriku. Mungkin ia malu sehingga memilih tidur di kamar lain. Aku segera membuka pintu kamar sebelah. Gelap, sepi tak ada suara sama sekali. Aku berjalan perlahan khawatir membangunkannya. Kulihat wajah bersinar di tengah kegelapan, keindahan yang ajaib dan menggetarkan jiwaku. Bukan keindahan fisik, karena ia tengah berada di peraduan ibadahnya. Ya Allah, sungguh ia tidak meninggalkan shalat malamnya termasuk di malam pengantin. Kupertajam penglihatanku. Ia rukuk, sujud dan membaca ayat-ayat panjang. Ia rukuk dan sujud lama sekali. Ia berdiri di hadapan Rabbnya dengan kedua tangan terangkat. Sungguh pemandangan terindah yang pernah kusaksikan. Ia amat cantik dalam kekhusyuannya, lebih cantik dari saat memakai pakaian pengantin dan pakaian tidurnya. Sungguh kini aku betul-betul mencintainya, dengan seluruh jiwa ragaku."

Seusai shalat ia memandang ke arah suaminya. Tangannya dengan lembut memegang tangan suaminya dan membelai rambutnya. Masya Allah, subhanallah, sungguh luar biasa wanita ini. Kecintaannya pada sang suami, tak menghilangkan kecintaannya kepada kekasih pertamanya, yakni ibadah. Ya, ibadah kepada Allah, Rabb yang menjadi kekasihnya. Hingga bulan kedepan wanita itu terus melakukan kebiasaannya, sementara sang suami menghabiskan malam-malamnya dengan begadang, memainkan alat-alat musik yang tak ubahnya begadang dan bersenang-senang. Ia membuka pintu dengan perlahan dan mendengar bacaan Al-Quran yang demikian syahdu menggugah hati. Dengan perlahan dan hati-hati ia memasuki kamar sebelah. Gelap dan sunyi, ia pertajam penglihatannya dan melihat istrinya tengah berdoa. Ia mendekatinya dengan lembut tapi cepat. Angin sepoi-sepoi membelai wajah sang istri. Ya Allah, perasaan laki-laki itu bagai terguyur. Apalagi saat mendengar istrinya berdoa sambil menangis. Curahan air matanya bagaikan butiran mutiara yang menghiasi wajah cantiknya.

Tubuh lelaki itu bergetar hebat, kemana selama ini ia pergi, meninggalkan istri yang penuh cinta kasih? Sungguh jauh berbeda dengan istrinya, antara jiwa yang bergelimang dosa dengan jiwa gemerlap di taman kenikmatan, di hadapan Rabbnya.
Lelaki itu menangis, air matanya tak mampu tertahan. Sesaat kemudian adzan subuh. Lelaki itu memohon ampun atas dosa-dosanya selama ini, ia lantas menunaikan shalat subuh dengan kehusyuan yang belum pernah dilakukan seumur hidupnya.

Inilah buah dari doa wanita shalihah yang selalu memohonkan kebaikan untuk sang suami, sang pendamping hidup.
Beberapa tahun kemudian, segala wujud pertobatan lelaki itu mengalir dalam bentuk ceramah, khutbah, dan nasihat yang tersampaikan oleh lisannya. Ya lelaki itu kini telah menjadi dai besar di kota Madinah.
Memang benar, wanita shalihah adalah harta karun yang amat berharga dan termahal bagi seorang lelaki bertakwa. Bagi seorang suami, istri shalihah merupakan permata hidupnya yang tak ternilai dan "bukan permata biasa".

(Dari kumpulan kisah nyata, Abdur Razak bin Al Mubarak)

http://hijabers.abatasa.co.id/hijabers/detail/nasihat/239/kisah-wanita-sholehah.html