Tampilkan postingan dengan label nasehat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nasehat. Tampilkan semua postingan

kata nasehat islam

18.52 Add Comment
nasihat umum
kata nasehat islam
Di antara kebiasaan yang jelek adalah apabila seorang siswa menggunakan buku atau pensil orang lain tanpa seizin pemiliknya, atau ketika di jalan menemukan sesuatu kemudian disimpannya. Seharusnya ia mengembalikan kepada pemiliknya. Meminjam sesuatu kemudian dia merusaknya atau tidak mengembalikannya pada pemiliknya.

Di antara kebiasaan yang tidak baik adalah apabila seorang anak ditanya dia menjawab dengan menggerakkan kepala dan pundaknya atau menjawab dengan cepat, sedangkan pertanyaan itu untuk orang lain.

Termasuk anak yang tidak tertib (aib) adalah anak yang mengabaikan memotong rambutnya atau tidak menyisirnya sehingga tampak kusut. Tidak memotong kukunya sehingga kukunya tampak hitam karena di dalamnya terdapat kotoran. Tidak mandi atau mengganti bajunya sehingga tercium bau yang tidak sedap.

Hindarilah bermain dengan sesuatu yang membahayakan, seperti debu, api, dan kotoran. Seorang anak yang bermain-main dengan api akan membakar pakaian dan tubuhnya. Bermain-main dengan kotoran, ia akan terjangkit penyakit kudis dan gatal. Hindarilah juga memanjat pohon supaya di anggota tubuhmu tidak terluka saat jatuh dari pohon.

Jagalah kesehatanmu dengan olahraga setiap hari di pagi hari saat udara masih bersih supaya tubuhmu sehat. Ada pepatah "akal yang sehat itu berada pada jiwa yang sehat." Cara menghirup udara segar yaitu dengan hidung bukan menggunakan mulut. Hindarilah udara yang kotor, makan makanan yang terbuka yang kemungkinan jatuhnya cecak, tikus atau hewan-hewan merayap lainnya. Janganlah kamu memakan buah-buahan yang belum masak atau yang busuk. Makanlah buah yang masak setelah dicuci terlebih dahulu. Jangan minum minuman yang belum dimasak. Usirlah nyamuk yang akan mengigitmu. Begitu pula dengan lalat dan jangan kamu memakan makanan yang dihinggapinya. Jangan pula kamu seperti anak yang rakus yang memakan makanan yang dijual di pinggir jalan.

Termasuk kebiasaan yang berbahaya adalah berlebih-lebihan dan boros. Misalnya, seorang anak diberi uang oleh orang tuanya, kemudian membeli sesuatu yang tidak bermanfaat atau tidak dibutuhkannya. Berutang kepada teman-temannya apabila membutuhkan sesuatu dan membiasakan berutang sejak kecil. Adapun anak yang cerdas itu suka menyimpan dan menabung. Oleh karena itu, ia tidak pernah berutang sehingga ia akan hidup dalam ketenangan dan kesenangan.

Dari Ihya' Ulumiddin: Membela Al-Qur’an dengan Akhlak Mulia

05.43 Add Comment
Dari Ihya' Ulumiddin: Membela Al-Qur’an dengan Akhlak Mulia
Dari Ihya' Ulumiddin: Membela Al-Qur’an dengan Akhlak Mulia
Sore itu Ujang mengobrol dengan Haji Yunus. Di meja beliau ada kitab Ihya' Ulumiddin karya Imam al-Ghazali. Ujang lantas bertanya: "Banyak Ustad yang menekankan pentingnya kita ber-akhlak seperti akhlak Nabi Muhammad. Wak Haji, seperti apa sih akhlak Nabi kita itu?

Haji Yunus menarik sarungnya yang lusuh, lantas membuka kitab Ihya' di depannya, "Mari Ujang kita ngaji bersama untuk menjawab pertanyaanmu itu". Haji Yunus membaca dan menerjemahkannya:


‎كَانَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَثِيرَ الضَّرَاعَةِ وَالِابْتِهَالِ دَائِمَ السُّؤَالِ مِنَ الله تَعَالَى أَنْ يُزَيِّنَهُ بِمَحَاسِنِ الْآدَابِ وَمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ فَكَانَ يَقُولُ فِي دُعَائِهِ اللهمَّ حَسِّنْ خُلُقِي وَخَلْقِي وَيَقُولُ اللهمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ الْأَخْلَاقِ فَاسْتَجَابَ الله تَعَالَى دُعَاءَهُ وَفَاءً بِقَوْلِهِ عَزَّ وجل {ادعوني أستجب لكم} فأنزل عليه القرآن وأدبه به فكان خلقه القرآن
‎قال سعد بن هشام دخلت على عائشة رضي الله عنها وعن أبيها فسألتها عن أخلاق رَسُولِ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ أما تقرأ القرآن قلت بلى قالت كان خلق رسول الله صلى الله عليه وسلم الْقُرْآنَ


Nabi selalu memohon kepada Allah SWT supaya dihiasi dengan adab yang baik serta akhlak terpuji. Dalam doanya, beliau membaca: Ya Allah, baguskanlan rupa dan akhlakku. Dan beliau juga berdoa: "Ya Allah, jauhkan aku dari akhlak yang munkar," maka Allah mengabulkan doa beliau sesuai dengan firmanNya "Berdoalah kepada-Ku niscaya Kuperkenankan (permintaan) kamu itu" (QS al-Mu'min: 60). Allah turunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad dan dijadikan Al-Qur’an itu bahan pengajaran adab, maka jadilah akhlak Nabi Muhammad itu (seperti isi) Al-Qur’an.

Said bin Hisyam berkata, "Aku masuk menemui Siti Aisyah RA dan bertanya tentang akhlak Rasulullah Saw." Aisyah menjawab dan bertanya, "Apakah engkau membaca Al-Qur’an?" Aku menjawab, "Iya." Aisyah menjawab, "Akhlak Nabi SAW adalah Al-Qur’an."

**
Haji Yunus berkata: "Ujang, kalau akhlak Nabi itu Al-Qur’an, maka mari kita simak sejumlah ayat Al-Qur’an untuk memahami akhlak beliau SAW". Haji Yunus meneruskan membaca kitab Ihya':


‎وَإِنَّمَا أَدَّبَهُ الْقُرْآنُ بِمِثْلِ قَوْلِهِ تَعَالَى {خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ} وَقَوْلِهِ {إِنَّ الله يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ} وَقَوْلِهِ {وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ من عزم الأمور} وقوله {ولمن صبر وغفر إن ذلك لمن عزم الأمور} وَقَوْلِهِ {فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ الله يُحِبُّ المحسنين} وقوله {وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ الله لكم} وَقَوْلِهِ {ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بينك وبينه عداوة كأنه ولي حميم} وقوله {وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَالله يُحِبُّ المحسنين} وَقَوْلِهِ {اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بعضاً} ولما كسرت رباعيته وشج يوم أحد فجعل الدم يسيل على وجهه وهو يمسح الدم ويقول كيف يفلح قوم خضبوا وجه نبيهم بالدم وهو يدعوهم إلى ربهم فأنزل الله تعالى {ليس لك من الأمر شيء} تأديباً له على ذلك


Sungguh Al-Qur’an mengajarkan Rasulullah SAW adab kesantunan sebagaimana dalam ayat, "Jadilah Engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh." (QS al-A'raf: 199)

Di lain ayat, Allah berfirman, "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan." (QS al-Nah,: 90)

Dan firman Allah, "Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)." (QS Luqman:17)

Begitu juga dengan ayat "Orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan" (QS Asy-Syura: 43) dan "Maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik" (QS al-Maidah:13). Kemudian, "Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?" (QS al-Nur:22).

Lanjut dengan ayat "Dan yang sanggup menahan marahnya, serta orang- orang yang mema’afkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan" (QS Ali Imran:134) dan "jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain" (QS al-Hujurat:12).

Pada perang Uhud, gigi geraham Nabi patah sehingga darah mengucur keluar dan membasahi wajah beliau. Nabi berkata, "Bagaimana suatu kaum akan selamat jika mereka melumuri wajah Nabi mereka dengan darah, sedangkan Nabi mereka mengajak mereka kepada Tuhan" maka, Allah Swt menurunkan ayat, "Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu" (QS Ali Imran:128). Ayat-ayat ini bermakna membimbing Rasulullah SAW atas kejadian yang tengah dihadapinya.

**
Haji Yunus mulai berkaca-kaca matanya. Ujang terdiam menundukkan kepalanya. Haji Yunus meneruskan membaca kitab Ihya':

‎وَأَمْثَالُ هَذِهِ التَّأْدِيبَاتِ فِي الْقُرْآنِ لَا تُحْصَرُ وهو صلى الله عليه وسلم الْمَقْصُودُ الْأَوَّلُ بِالتَّأْدِيبِ وَالتَّهْذِيبِ ثُمَّ مِنْهُ يُشْرِقُ النُّورُ عَلَى كَافَّةِ الْخَلْقِ فَإِنَّهُ أُدِّبَ بِالْقُرْآنِ وَأَدَّبَ الْخَلْقَ بِهِ وَلِذَلِكَ قَالَ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
‎ ثُمَّ رغب الخلق في محاسن الأخلاق بما أوردناه في كتاب رياضة النفس وتهذيب الأخلاق فلا نعيده ثُمَّ لَمَّا أَكْمَلَ الله تَعَالَى خُلُقَهُ أَثْنَى عَلَيْهِ فَقَالَ تَعَالَى {وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ}


Ayat yang senada seperti di atas banyak dijumpai dalam Al-Qur’an. Semuanya itu dimaksudkan mula-mula yaitu untuk membimbing dan mengarahkan Nabi Saw. Dengan itu, maka sinar pelajaran dari Al-Qur’an dapat menyebar ke seluruh manusia.
Itulah sebabnya Rasulullah SAW bersabda: "Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia". Setelah Allah menyempurnakan akhlak beliau, lalu Allah memujinya: "Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung" (QS al-Qalam:4).

**
Ujang mengangkat tangan, "Wak Haji, adakah contoh praktis dari akhlak Nabi SAW?"

"Iya, ada..." Haji Yunus kemudian lompat ke lembaran berikutnya.

‎لما أتى بسبايا طيء وقفت جارية في السبي فقالت يا محمد إن رأيت أن تخلي عني ولا تشمت بي أحياء العرب فإني بنت سيد قومي وإن أبي كان يحمي الذمار ويفك العاني ويشبع الجائع ويطعم الطعام ويفشي السلام ولم يرد طالب حاجة قط أنا ابنة حاتم الطائي
‎فقال صلى الله عليه وسلم يا جارية هذه صفة المؤمنين حقاً لو كان أبوك مسلماً لترحمنا عليه خلوا عنها فإن أباها كان يحب مكارم الأخلاق وإن الله يحب مكارم الأخلاق فقام أبو بردة بن نيار فقال يا رسول الله الله يحب مكارم الأخلاق فقال والذي نفسي بيده لا يدخل الجنة إلا حسن الأخلاق



Ketika didatangkan sekelompok tawanan Thayyi-in, di antara tawanan tersebut ada seorang gadis belia. Dia berkata, "Hai Muhammad, sudikah engkau membebaskan aku, dan tidak mengecewakan musuh-musuhmu serta tidak mempermalukan orang-orang Arab? Sesungguhnya, aku adalah putri seorang pemimpin di kaumku. Bapakku bertugas melindungi daerahku, membebaskan tawanan, memenuhi kebutuhan orang yang membutuhkan, memberi makan, menyebarkan salam dan tidak pernah mengusir seseorang yang datang kepadanya untuk suatu keperluan. Aku adalah putri dari Hatim al-Tha'i"

Rasulullah Saw berkata, "Wahai budak perempuan, yang kamu sebut adalah semuanya sifat orang-orang mu'min. Andaikata bapakmu seorang Muslim, niscaya kami akan mendoakan rahmat baginya." Nabi lalu memerintahkan, "Bebaskan dia, sesungguhnya bapaknya menyenangi budi pekerti yang mulia." Lalu bangun berdiri Abu Bardah bin Niar, seraya-berkata : "Wahai Rasulullah! Allah menyukai akhlaq yang mulia!" Nabi Menjawab: "Demi Allah yang nyawaku dalam kekuatan-Nya! Tiada yang masuk surga kecuali orang yang bagus akhlaknya"

**
"Sampai di sini, mengertikah kamu, Ujang, bahwa Nabi pun memghormati akhlak non-Muslim dan menyanjungnya. Kita tentu malu sekarang kalau non-Muslim lebih banyak yang mengamalkan akhlak mulia ketimbang kita para pengikut Nabi Muhammad," tegas Haji Yunus. Beliau melanjutkan menerjemahkan:

‎عن معاذ بن جبل عن النبي صلى الله عليه وسلم قال إِنَّ الله حَفَّ الْإِسْلَامَ بِمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ وَمَحَاسِنِ الْأَعْمَالِ وَمِنْ ذَلِكَ حُسْنُ الْمُعَاشَرَةِ وَكَرَمُ الصَّنِيعَةِ وَلِينُ الْجَانِبِ وَبَذْلُ الْمَعْرُوفِ وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ وَإِفْشَاءُ السلام وعيادة المريض المسلم براً كان أو فاجراً وتشييع جنازة المسلم وَحُسْنُ الْجِوَارِ لِمَنْ جَاوَرْتَ مُسْلِمًا كَانَ أَوْ كَافِرًا وَتَوْقِيرُ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ وَإِجَابَةُ الطَّعَامِ وَالدُّعَاءُ عَلَيْهِ وَالْعَفْوُ وَالْإِصْلَاحُ بَيْنَ النَّاسِ وَالْجُودُ والكرم والسماحة والابتداء بالسلام وكظم الغيظ والعفو عن الناس


Dari Muaz bin Jabal, Nabi Bersabda: "Sesungguhnya, Islam meliputi akhlak-akhlak yang terpuji dan perilaku yang baik." Adapun contoh dari akhlak yang terpuji adalah pergaulan yang baik, perbuatan terpuji dan perkataan yang lemah lembut, melakukan perbuatan yang ma'ruf, memberi makan tamu, menyebarkan salam, menziarahi orang Muslim yang sakit baik yang akhlaknya baik maupun yang buruk, mengantarkan jenazah Muslim, berlaku baik kepada tetangga baik yang Muslim maupun yang Kafir, memuliakan yang lebih tua, menghadiri undangan perjamuan makan dan mendoakannya, suka memaafkan, senang mendamaikan, bersifat pemurah, mulia, toleran, memulai memberi salam, menahan amarah dan memberi maaf orang yang minta maaf.

**
Haji Yunus menghela napas. "Masih panjang pembahasan comtoh-contoh akhlak Nabi yang dijelaskan oleh Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya' ini. Silakan dibaca sendiri. Tapi intinya kamu sudah paham belum?"

Ujang mengangguk: "Intinya adalah akhlak Nabi itu Al-Qur’an."

Haji Yunus berkata: "Benar! Maka kalau kita bertekad membela Al-Qur’an maka kita harus membelanya lewat akhlak Nabi Muhammad yang digambarkan begitu indah dalam Al-Qur’an. Tentu mengherankan kalau kita hendak membela Al-Qur’an tapi dilakukan dengan cara yang jauh dari nilai-nilai akhlak yang terkandung dalam Al-Qur’an dan terwujud dalam contoh budi pekerti Nabi Muhammad yang agung."

Spontan Ujang berteriak: "takbiiirrrr!!!"

Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama Australia - New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

Jihad Melawan Narkoba

19.26 Add Comment
Jihad Melawan Narkoba
Jihad Melawan Narkoba
JANGAN lagi tanya seberapa bahaya dampak penyalahgunaan narkoba. Jangan lagi tanya seberapa besar kerugian ekonomi yang ditimbulkan. Lihatlah, setiap hari 50 orang meninggal dunia, setiap tahun Rp 65 triliun terbuang. Lebih dari cukup untuk menjadi bukti betapa bahaya narkoba dalam merusak dan menghancurkan generasi bangsa.

Lewat Al Qur’an, surat Al Maida ayat 90 dan 91, Allah Swt telah mengingatkan kita semua terkait bahaya narkoba, ”Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”

“Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).”

Maka, inilah saatnya kita berjihad melawan narkoba. Berjihad untuk menyelamatkan anak-anak kita, generasi bangsa. Apalagi program anti-narkoba miskin anggaran, jauh berbeda jika dibandingkan dengan program anti-terorisme maupun radikalisme.

Padahal narkoba jauh lebih berbahaya karena yang diganggu konstruksi otak. Orang yang terkena edik (addiction/kecanduan) hidupnya menjadi ketagihan. Jika hari ini mengkonsumsi sekian miligram, beberapa bulan berikutnya naik baik secara kuantitatif (jumlah gram) maupun frekuensi.


Gerakan kerakyatan patut dilakukan, di antaranya yang dilakukan Muslimat NU, dimana-mana melakukan deklarasi Laskar Anti Narkoba.

Mereka yang edik berat ada yang setiap tiga jam harus mengkonsumsi, begitu seterusnya. Jadi sebenarnya kehidupan orang tersebut sudah terkooptasi narkoba, bukan terbeli karena dia pasti mengalami kesakitan luar biasa kalau tak mengkonsumsi.

Di sisi lain, kita sering bertutur: al ‘aqlussalim fil jismissalim (Akal yang sehat ada pada tubuh yang sehat). Kalau konstruksi otak terganggu, pastilah akal menjadi tidak sehat. Bisa dibayangkan kalau generasi muda tergoda narkoba dan sampai tak produtif, maka investasi SDM menjadi mubazir.

26 Juni, bertepatan dengan Hari Anti-Narkoba Internasional yang baru kita peringati, saatnya kita membangun kembali komitmen kepada seluruh masyarakat agar jangan gampang tergoda sesuatu yang kelihatannya menggiurkan.

Dalam waktu cepat, singkat dan tanpa harus menggeluarkan tenaga ekstra mereka mau menjadi kurir narkoba. Sedihnya lagi, saat ini kurir yang diambil kebanyakan anak-anak, usia 13-15 tahun. Simpel saja agar membawanya tidak berat, hanya beberapa gram. Tapi anak-anak ini kemudian menjadi korban dari sindikat mafia narkoba.

Inilah PR besar di bulan suci Ramadhan yang bisa dilakukan proses refleksi secara serius. Sehingga kita bisa melakukan jihad, melakukan kerja keras dengan sungguh-sungguh untuk melawan narkoba.

Gerakan kerakyatan patut dilakukan, di antaranya yang dilakukan Muslimat NU, dimana-mana melakukan deklarasi Laskar Anti Narkoba. Setelah deklarasi kemudian ada bimtek pengurus hingga tingkat ranting menjadi motivator dan penyuluh, kemudian dilantik di tingkatan masing-masing.

Ini harapan kita bersama: membangun gerakan kerakyatan melawan narkoba. Untuk bisa menyiapan SDM andal di Muslimat NU, maka PAUD, TK dan TPQ perlu disiapkan dengan riyadhoh yang tak boleh putus. Semoga Allah anugerahkan kita putra-putri yang saleh-salihah. Amin. ♦

Oleh: Dra Hj Khofifah Indar Parawansa MSi

Surga untuk Ayah

06.24 Add Comment
Surga untuk Ayah
Surga untuk Ayah
Mungkin ada di antara kita yang pernah bahkan sering mendengar kalimat tersebut entah itu teman dekat atau saudara kita, walau sudah sangat jelas sekali perintah yang Allah SWT berikan untuk kita sebagai sorang muslimah agar senantiasa menutup aurat kita dalam surat Al Ahzab ayat 59 yang artinya sebagai berikut. : "Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isteri engkau, anak-anak perempuan engkau dan isteri-isteri orang mu’min, supaya mereka menutup kepala dan badan mereka dengan jilbabnya supaya mereka dapat dikenal orang, maka tentulah mereka tidak diganggu (disakiti) oleh laki-laki yang jahat. Allah pengampun lagi pengasih".

Mereka merasa bahwa memakai jilbab harus siap dengan segala resiko yang akan mereka dapatkan dan tidak mau menggadaikan masa muda mereka yang penuh dengan kebebasan dan menunggu sampai menikah. Dengan dalih ketika mereka menikah mereka ingin benar- benar menjadi istri sholehah bagi suami mereka.

Duhai kawan....

Tak ingatkah engkau kepada sesosok lelaki yang selama ini memperjuangkanmu, membesarkanmu, dan mengkhawatirkanmu ketika kau belum juga kembali ke rumahmu padahal hari sudah malam, dan engkau malah mementingkan perasaan dan ingin melindungi orang asing yang belum pasti dari siksa api neraka.

Duhai kawan....

Tahukah engkau bahwa ketika kau melangkahkan kakimu selangkah dari rumahmu dengan membuka aurat, itu sama saja engkau selangkah menarik ayahmu menuju nerakaNya, sosok yang yang begitu sabar menunggumu siap untuk berhijab dan mampu menuntunnya menuju surgaNya malah engkau abaikan.

Duhai kawan.....

Ayahmu memang tak pernah senantiasa bersamamu, tak sedekat engkau dengan ibumu, tapi perjuangannya selama ini cukup menggambarkan betapa cintanya ia terhadapmu, betapa sayangnya ia padamu, maka janganlah engkau balas kasih sayangnya dengan sepercik api dari nerakaNya.

Duhai kawan....

Mari tuntun ayah kita dengan tidak melukai hatinya dan menunda menutup aurat kita dan membimbingnya menggapai surgaNya.


Sumber Link

Dulu Aku adalah Seorang Remaja Putri yang Nakal

06.15 Add Comment
Dulu Aku adalah Seorang Remaja Putri yang Nakal
Dulu Aku adalah Seorang Remaja Putri yang Nakal
DAHULU aku adalah seorang remaja putri yang nakal. Aku mengecat rambutku dengan warna warni setiap waktu dengan mengikuti mode yang sedang trend. Aku juga mengenakan pewarna kuku yang nyaris tidak pernah kuhapus, kecuali untuk merubah warnanya. Abayaku hanya kuletakkan di atas pundakku agar dapat menarik perhatian para pemuda.

Aku sengaja ke pasar dengan memakai wewangian dan perhiasan yang menarik. Iblis benar-benar telah menggodaku untuk melakukan semua dosa, yang kecil mau pun yang besar. Lebih dari itu semua, aku tidak pernah sujud kepada Allah sekali pun. Aku bahkan tidak tahu bagaimana mengerjakan shalat.

Yang lebih mengherankan adalah karena aku seorang guru dan pendidik anak-anak. Guru yang selalu dipandang dengan penuh penghormatan. Aku mengajar di salah satu sekolah yang terletak jauh dari kota Riyadh. Aku selalu meninggalkan rumahku setelah shalat shubuh, dan tidak kembali kecuali setelah shalat ashar. Yang penting waktu itu kami adalah sekelompok guru perempuan.

Di antara mereka, akulah satu-satunya yang belum menikah. Di antara mereka ada yang baru saja menikah, ada yang tengah mengandung. Ada pula yang sedang menjalani cuti melahirkan. Aku pula satu-satunya di antara mereka yang telah mencabut rasa malunya. Aku biasa ngobrol dan bercanda dengan sopir seperti ketika aku berbicara dengan salah satu kerabatku.

Hari demi hari berlalu, dan aku masih dalam kelalaian dan kesesatanku. Pada suatu pagi, aku bangun terlambat. Aku segera keluar dan mengendarai mobil yang biasa kami tumpangi.

Ketika aku naik ke mobil dan memperhatikan, ternyata di kursi belakang tidak ada orang lain selain diriku. Aku menanyakan itu kepada sopir, lalu ia menjawab, "Fulanah sakit, yang ini melahirkan."

Mendengar itu, di dalam hatiku aku mengatakan, "Baiklah, karena perjalanannya jauh, maka aku akan tidur hingga nanti kami tiba di tujuan."

Aku pun tidur di mobil dan tidak terbangun kecuali saat mobil itu berada di sebuah jalan yang rusak. Aku terbangun dengan penuh ketakutan. Aku membuka penutup jendela.

"Jalan apa ini? Apa yang telah terjadi? Pak sopir, kemana engkau membawaku?"

Dengan penuh kesetanan dia menjawab, "Sekarang engkau akan mengetahuinya."

Aku memperhatikannya dan aku pun tahu rencana busuknya. Maka dengan penuh ketakutan, aku pun mengatakan:

"Pak sopir, apakah engkau tidak takut kepada Allah?" Apakah engkau tahu hukuman atas perbuatan yang akan engkau lakukan?"

Dan entah ucapan apalagi yang kukatakan untuk menghalanginya melakukan niatnya. Yang pasti, aku tahu bahwa aku akan binasa.

Dengan penuh percaya dirinya pula si sopir itu mengatakan, "Engkau sendiri, apakah engkau tidak takut kepada Allah? Engkau tertawa-tawa dan bercanda denganku? Apakah engkau tidak tahu kalau engkau telah menggodaku? Dan aku tidak akan melepaskanmu hingga aku melakukan apa yang kuinginkan."

Aku pun menangis. Aku mencoba berteriak, tapi tempat itu begitu jauh. Tidak ada seorang pun selain aku dan sopir terlaknat itu. Ini adalah sebuah padang pasir yang menakutkan. Aku memelas dan lelah menangis. Hingga dengan penuh keputus asaan dan menyerah, aku mengatakan, "Kalau begitu biarkanlah aku mengerjakan shalat dua rakaat, siapa tahu Allah sudi mengasihaniku."

Ia pun setuju memenuhi permintaanku. Aku pun turun dari mobil seperti orang yang akan diseret menuju hukuman mati. Aku pun shalat. Itu adalah pertama kalinya aku mengerjakan shalat dalam hidupku. Aku shalat dengan perasaan takut dan pengharapan. Air mata memenuhi tempatku bersujud. Aku memelas kepada Allah agar mengasihiku dan menerima taubatku. Suara tangisku memecah keheningan tempat itu. Dengan cepat kematian terasa begitu dekat. Aku pun menyelesaikan shalatku.

Aku melihat mobil saudara laki-lakiku datang..!! Benar sekali, itu saudara laki-lakiku dan jelas sekali ia sengaja mendatangi tempat ini.

Aku tidak sempat lagi berpikir bagaimana ia bisa mengetahui tempatku ini. Tapi aku benar-benar gembira dan mulai meloncat-loncat memanggilnya. Sopir itu memarahiku, tapi aku tidak mempedulikannya.

Yang kulihat adalah saudaraku yang tinggal di Syarqiyyah dan saudaraku yang lain adalah yang tinggal bersama kami. Salah seorang dari mereka pun turun dan memukul sopir itu dengan sebuah kayu yang keras, lalu berkata, "Naiklah bersama Ahmad di mobil. Aku akan menaruh sopir ini di dalam mobilnya sendiri di pinggir jalan."

Aku pun segera naik ke mobil bersama Ahmad. Kebingungan menyelimutiku dan aku bertanya padanya, "Bagaimana kalian bisa mengetahui tempatku? Bagaimana engkau bisa jauh-jauh datang dari Syarqiyyah?"

"Nanti di rumah, engkau akan mengetahui semuanya," jawabnya.

Muhammad pun bergabung bersama kami, dan kami pun kembali ke Riyadh. Sementara aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.

Ketika kami tiba di rumah, saudara-suadara ku itu mengatakan, "Pergilah menemui ibu dan sampaikan padanya apa yang terjadi. Kami akan kembali sebentar lagi."

Aku masuk menemuinya di dapur. Segera aku memeluknya sambik menangis. Aku ceritakan kisahku padanya

Lalu dengan penuh rasa kaget, ibu berkata, "Tapi memang Ahmad masih di Syarqiyyah! Sedang Muhammad masih tidur di kamarnya.

Kami pun pergi ke kamar Muhammad, dan ternyata memang ia masih tidur. Aku membangunkannya seperti orang gila dan bertanya, "Apa yang telah terjadi?"

Namun ia bersumpah atas nama Allah bahwa ia tidak pernah keluar dari kamarnya dan tidak tahu peristiwa yang aku alami.

Aku segera pergi ke tempat telepon lalu mengangkatnya -aku benar-benar hampir gila-. Aku menelpon Ahmad, tapi ia mengatakan, "Aku sekarang sedang di tempat kerjaku."

Setelah itu semua, aku menangis tersedu-sedu. Aku akhirnya sadar bahwa semua yang kualami adalah dua Malaikat yang diutus oleh Rabbku untuk menyelamatkan aku dari tindakan keji sang sopir itu. Aku memuji Allah atas itu semua. Dan itulah yang menjadi sebab aku mendapatkan hidayah. Segala puji hanya untuk Allah.