Tampilkan postingan dengan label teman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teman. Tampilkan semua postingan

Contoh Dialog Bahasa Sunda dengan Teman Akrab

00.53 Add Comment
Pernah saya bahas dalam postingan sebelumnya, bahwa penggunaan bahasa Sunda yang baik yaitu sesuai dengan situasi yang ada pada saat kita dialog. Di dalam hal ini, kamu bisa melihat berdasarkan siapa orang yang kamu ajak bicara. Jika itu orang yang baru kenal, umurnya lebih tua, atau kedudukannya lebih tinggi dari kamu, maka kamu gunakan bahasa sunda yang halus (lemes). Sementara jika kamu berbicara dengan orang yang umurnya sama dengan kamu atau dia mempunyai kedudukan yang sama atau juga umurnya dia di bawah kamu, maka kamu bisa menggunakan bahasa loma (sedang/umum).

percakapan bahasa sunda
percakapan bahasa sunda
Adapun untuk bahasa sunda kasar, biasanya kita gunakan dengan orang yang benar-benar dekat dengan kita, seumuran dengan kita, atau usianya di bawah kita. Selain itu, bahasa sunda kasar juga biasa digunakan saat seseorang sedang emosi/marah. Kadang bahasa sunda kasar atau bahasa sedang digunakan dalam konteks lawak, bodor,  humor/guyonan yang suasana antar pengguna bahasa sangatlah akrab. Untuk bagian bahasa sunda kasar ini, lebih diperhatikan mereka yang belajar bahasa Sunda. Ini dikarenakan, bahasa Sunda adalah bahasa "hati", perasaan lebih dominan saat penggunaan bahasa Sunda.

Dibawah ini contoh penerapan percakapan bahasa Sunda dalam keseharian kita dengan penggunaan bahasa loma, misalnya seseorang dengan temannya yang sudah akrab..

Dudi: Punten. Assalamu'alikum.
(Permisi. Assalamu'alaikum.)

Andri: Mangga. Wa'alaikumsalaam. éh... geuningan Dudi? Sok asup. Urang keur ngabenerkeun komputer. Aya virusan. Karék bieu komputerna dipareuman.
(Silakan. Wa'alaikumsalaam. Eh, Dudi? Silakan masuk. Saya lagi membetulkan komputer. Ada virus. Baru saja komputernya dimatikan.)

Dudi: Oh, kitu. Sarua, komputer urang gé keur rada ngaco. Teu maké antivirus. Jadi wé mindeng error. Kamarana euy di imah sepi kieu?
(Oh, gitu. Sama, komputer saya juga agak ngaco. Tidak pakai antivirus. Jadi saja sering error. Pada kemana kok di rumah sepi begini?)

Andri: Puguhan keur arindit. Si Bapa tugas kaluar kota. Si Mamah bieu karék indit nganteur adi urang balanja ka toko buku.
(Lagi pada pergi. Bapak lagi tugas keluar kota. Mama barusan baru saja pergi mengantar adik saya belanja ke toko buku.)

Dudi: Maneh teu kamamana euy?
(Kamu gak pergi kemana-mana?)

Andri: Henteu. Haroream rék indit kaluar téh. Wayah kieu, Bandung keur panas jeung macét kieu.
(Gak. Malas mau pergi keluar. Jam segini, Bandung lagi panas dan macet gini.)

Dudi: Puguhan, matak urang nyimpang kadieu gé. Kabeneran mawa mobil, ari pék macét geuning dimamana. Tuh, di jalan hareup macétna ménta ampun. Inget ka manéh, nya méngkol we kadieu. Kabeneran geuning aya di imah.
(Makanya itu, makanya saya berkunjung ke sini juga. Kebetulan bawa mobil, eh kena macet dimamana. Tuh, di jalan depan macetnya minta ampun. Ingat ke kamu, ya belok saja ke sini. Kebetulan kamu ada di rumah.)

Andri: Rék kamana kitu tadina?
(Tadinya mau kemana gitu?)

Dudi: Ieu, rék meuli batre BlackBerry ka BEC tadina mah. Batréna geus lowbat. Gancang béak batréna.
(Ini, tadinya sih mau beli baterai BlackBerry ke BEC. Baterainya sudah lowbat. Cepat habis batrenya)

Andri: Nyantai wé atuh lah. Geus cicing di dieu heula. Ké dibaturan ku urang ka BEC-na. Sakalian urang gé rek meuli Hardisk eksternal. Hardisk di komputer geus parinuh ku data. Sakalian rék meuli powerbank keur kabogoh urang.
(Santai saja lah. Udah diam saja dulu di sini. Nanti saya temenin ke BEC. Sekalian saya mau beli hardisk eksternal. Hardisk di komputer saya sudah penuh sama data. Sekalian mau beli powerbank buat pacar saya.)

Dudi: Oh, siap ari kitu mah.
(Oh, ok siap kalau begitu)

Andri: Rék nginum naon euy? Kopi waé nya? Urang ngopi lah. Kabeneran kamari Uwa urang ngirim kopi ti Lampung.
(Mau minum apa? Kopi saja ya? Kita ngopi lah. Kebetulan kemarin Uwa saya mengirim kopi dari Lampung.)

Dudi: Sok wé lah. Hayang nyobaan kumaha rasana kopi lampung téh.
(Silakan saja. Ingin nyoba bagaimana rasanya kopi lampung tuh.)

Setelah Andri membuat kopi dan menyajikannya pada Dudi.

Dudi: Heueuh, ngeunah kieu euy rasana kopi lampung téh.
(Iya, enak juga nih rasanya kopi lampung.)

Andri: Urang gé karék nyobaan kamari. Bener ngeunah... éh, si Tatang cenah ngajak bisnis muka toko HP di Jalan Buah Batu?
(Saya juga baru nyobain kemarin. Benar enak. Eh, si Tatang katanya ngajak bisnis buka toko HP di Jalan Buah Batu?)

Dudi: Aéh, enya minggu kamari gé manéhna ngomong ka urang. Butuh invéstor cenah. Kabeneran imahna di Buah Batu geus lila teu dipaké. Daripada lebar teu dipaké, mending diberdayakeun jadi tempat usaha.
(Iya, minggu kemarin juga dia ngomong kepada saya. Butuh investor katanya. Kebetulan rumahnya yang di Buah Batu sudah lama gak dipakai. Daripada sayang gak dipakai, mending diberdayakan jadi tempat usaha.)

Andri: Bapa urang siap cenah kerja sama mantuan keur dana mah.
(Bapa saya siap katanya membantu buat dana.)

Dudi: Hayu lah. Geus wé garap ku urang tiluan usahana. Keur bahan barang dagangan mah aya dulur urang nu jadi distributor HP.
(Ayo. Sudah, usahanya kita garap saja bertiga. Buat bahan barang dagangan ada saudara saya yang jadi distributor HP.)

Andri: Bisa ngasupan barang naon waé cenah?
(Bisa masukin/suplai barang apa saja katanya?)

Dudi: Sagala aya. Aya Android, BlackBerry, nepi HP Cina gé aya. Jeung deuih manéhna boga usaha pulsa ogé. Bisa meureun sakalian urang muka konter pulsa.
(Segala ada. Ada Android, BlackBerry, sampai HP Cina juga da. Dan lagi dia punya usaha pulsa juga. Kayaknya bisa sekalian kita buka konter pulsa.

Andri: Alus ari kitu mah. Geus wé urang gancangkeun lah. Kari urang tiluan ngariung deui ngadiskusikeun keur usahana.
(Bagus kalau begitu. Ya sudah... kita percepat saja. Tinggal kita bertiga kumpul lagi mendiskusikan untuk usaha.)

Dudi: Enya. Ké atuh urang telepon heula si Tatang-na. Sugan manéhna keur aya di Bandung. Dua poé kamari mah nga-WhatsApp keur indit ka Jakarta cenah.)

(Iya. Saya telepon dulu si Tatang. Siapa tahu dia lagi ada di Bandung. Dua hari kemarin nge-WhatsApp katanya lagi pergi ke Jakarta.)

Saat Putra Sayyidina Umar Diejek Teman-temannya

05.37 Add Comment
Saat Putra Sayyidina Umar Diejek Teman-temannya
Saat Putra Sayyidina Umar Diejek Teman-temannya
Keluarga Khalifah Umar bin Khattab memiliki pola hidup sederhana. Saking sederhananya, konon kendati menjabat sebagai khalifah di Mekah, pakaian yang dikenakannya memiliki empat belas tambalan. Salah satunya ditambal dengan kulit kayu.

Suatu ketika usai pulang sekolah, Abdullah bin Umar menangis di hadapan ayahnya, Umar bin Khattab. Umar pun bertanya, “Kenapa engkau menangis, anakku?”

"Teman-teman di sekolah mengejek dan mengolok-olokku karena bajuku penuh dengan tambalan. Di antara mereka mengatakan, ‘Hai Kawan-kawan, perhatikan berapa jumlah tambalan putra Amirul Mukminin itu’," ungkap Ibnu Umar dengan nada sedih.

Setelah mendengar curhatan putranya, Amirul Mukminin langsung bergegas menuju baitul mal (kas negara) dengan maksud akan meminjam beberapa dinar untuk membelikan baju anaknya. Karena tidak bertemu dengan pejabat bagian kas negara, ia pun menitipkan surat kepada penjaga kas negara tersebut yang isinya sebagai berikut:

"Dengan surat ini, perkenankanlah aku meminjam uang kas negara sebanyak 4 dinar sampai akhir bulan, pada awal bulan nanti, gajiku langsung dibayarkan untuk melunasi utangku."

Setelah pejabat kas negara membaca surat pengajuan utang itu, dikirimlah surat balasan:

”Dengan segala hormat, surat balasan kepada junjungan khalifah Umar Bin Khatab. Wahai Amirul Mukminin mantapkah keyakinanmu untuk hidup sebulan lagi, untuk melunasi utangmu, agar kamu tidak ragu meminjamkan uang kepadamu. Apa yang Khalifah lakukan terhadap uang kas negara, seandainya meninggal sebelum melunasinya?

Selesai membaca surat balasan dari pejabat kas negara, Khalifah pun langsung menangis, dan berseru kepada anaknya:

“Hai anakku sungguh aku tidak mampu membelikan baju baru untukmu dan berangkatlah sekolah seperti biasanya, sebab aku tidak bisa meyakinkan akan pertambahan usiaku sekalipun hanya sesaat.” Anak itu pun menangis mendengar ujar ayahnya. (Ahmad Rosyidi)

(Disarikan dari Kitab Durrtun Nashihin fil Wa'dhi wal Irsyad karya Utsman bin Hasan al-Khubawi)

Teman tapi Musuh, Twitter Kini Buka Akun Instagram

06.22 Add Comment
Teman tapi Musuh, Twitter Kini Buka Akun Instagram
Teman tapi Musuh, Twitter Kini Buka Akun Instagram
Twitter kini memiliki akun di Instagram, dan sudah mengunggah beberapa foto dan video sebagai strategi kampanye mereka di iklan digital.

Twitter, dilansir dari laman The Verge, menolak berkomentar untuk akun barunya ini.

Instagram, yang kini dimiliki Facebook, melihat Twitter sebagai frenemy, teman tapi musuh. Pada awal Instagram terbentuk, mereka nyaris dibeli Twitter.

Tetapi, Facebook masuk dan membeli mereka seharga 1 miliar dolar. Beberapa bulan kemudian, Twitter memblokir Instagram sehingga mereka tidak bisa menggunakan API.

Akibatnya, pengguna tidak bisa menemukan teman Twitter mereka di Instagram.

Tetapi, Instagram masih menggunakan Twitter untuk saluran pemasaran mereka, secara berkala mengunggah foto-foto populer dan berita untuk 40 juta pengikut mereka.

Sekarang, Twitter melakukan yang sebaliknya. Mereka memiliki sekitar 50 ribu pengikut di minggu pertama mereka memiliki akun Instagram.

Twitter mengunggah foto di akun Instgram @Twitter sambil memberi watermark berupa tanda pagar dan ikon burung mereka.

ANTARA