Tampilkan postingan dengan label ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ulama. Tampilkan semua postingan

Aban bin Utsman bin Affan, Seorang Ulama Putra Khalifah

22.02 Add Comment
Aban bin Utsman bin Affan, Seorang Ulama Putra Khalifah
Aban bin Utsman bin Affan, Seorang Ulama Putra Khalifah
Saat sekarang ini, sulit bagi kita membayangkan anak seorang kepala negara menjadi ulama. Anak presiden jadi kiyai besar di negerinya, misalnya. Atau ana gubernur, wali kota, dll. menjadi ulama yang mendalam ilmunya.

Namun di zaman keemasan Islam, kita temukan yang demikian. Umar bin al-Khattab memiliki anak dan cucu seorang ulama besar di kalangan sahabat dan tabi’in. yaitu Abdullah bin Umar. Dan cucunya yang bernama Salim bin Abdullah bin Umar. Utsman bin Affan dengan putranya Aban bin Utsman. Ali bin Abi Thalib dengan dua orang putra yang menjadi penghulu pemuda surga, Hasan dan Husein.

Pada kesempatan kali ini, kita akan berbicara tentang Aban bin Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhuma.

Masa Kecilnya

Aban adalah seorang imam yang fakih. Nama dan nasabnya adalah, Aban bin Utsman bin Affan bin Abi al-Ash bin Umayyah bin Abdusy Syam al-Qurasyi al-Umawi. Dilahirkan di kota suci Madinah. Sekitar tahun 20 H. Ibunya adalah Ummu Amr binti Jundub bin Amr bin Humimah bin al-Harits ad-Dausi

Kunyah-nya Abu Said. Ibnu Saad mengatakan, “Ia lahir dalam keadaan bahagia. Karena itu diberi kun-yah Abu Said (Bapak Kebahagiaan).”

Aban tumbuh besar di lingkungan terbaik. Ayahnya, al-Khalifah ar-Rasyid, Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Sang ayah sangat perhatian dengannya. Di bawah pengasuhan sang ayah, yang merupakan orang yang pertama-tama memeluk Islam, seorang yang disebut Nabi ﷺ sebagai penghuni surga, malaikat malu padanya, tentu Aban memiliki ayah sekaligus mentor hidup yang sangat istimewa. Menjadikannya tumbuh di salah satu rumah terbaik di kota Madinah. Dan lingkungan kampungnya, adalah tak kalah istimewa, Kota Madinah. Tempat mayoritas sahabat hidup. Dan aroma kenabian masih terhendus di tiupan angin Madinah.

Menjadi Seorang Ulama

Lingkungan yang istimewa di Kota Madinah memiliki pengaruh besar dalam pemikiran dan keilmuan Aban. Hingga ia menjadi tokoh ulama tabi’in dan ulama Madinah yang terpandang. Amr bin Syu’aib mengatakan, “Aku tidak melihat seorang pun yang lebih berilmu darinya dalam permasalahan hadits dan fikih.” (al-Bidayah wa an-Nihayah, Juz: 3, Hal: 18).

Bilal bin Abi Muslim mengatakan, “Aku melihat Aban bin Utsman, antara kedua matanya terdapat samar-samar bekas sujud.” (ath-Thabaqat al-Kubra li Ibni Saad, No: 5912).

Ali bin al-Madini mengatakan bahwa Yahya bin Said bin Qahthan berkata tentang Aban, “Ia termasuk 10 orang ahli fikih Madinah.” Ali bertanya, “Siapa saja mereka?” “Said bin al-Musayyib, Abu Salamah bin Abdurrahman, al-Qasim bin Muhammad, Salim bin Abdullah (bin Umar bin al-Khattab), Aurah bin az-Zubair, Sulaiman bin Yasar, Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah, Qabishah bin Dzuaib, Khairjah bin Zaid bin Tsabit, dan Aban bin Utsman,” jawab Yahya bin Said. (al-Madkhal ila as-Sunan al-Kubra, Juz: 1, Hal: 154).

Aban adalah seorang periwayat hadits terpercaya. Ia meriwayatkan hadits dari ayahnya dan sahabat-sahabat Nabi yang lain. Seperti: Zaid bin Tsabit, Usamah bin Zaid, dll. Imam Muslim, at-Turmudzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, meriwayatkan hadits darinya.

Seperti hadits yang diriwayatkan at-Turmudzi:

عن عبد الرحمن بن أبي الزناد عن أبيه عن أبان بن عثمان قال: سمعت عثمان بن عفان رضي الله عنه يقول: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُولُ فِى صَبَاحِ كُلِّ يَوْمٍ وَمَسَاءِ كُلِّ لَيْلَةٍ بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ فَيَضُرُّهُ شَىْءٌ

Dari Abdurrahman bin Abi az-Zinad, dari ayahnya, dari Aban bin Utsman berkata, “Aku mendengar Utsman bin Affan radahiallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Tidaklah seseorang mengucapkan di setiap pagi harinya dan di setiap waktu petang malamnya bacaan ‘bismillahilladzi laa yadhurrru ma’asmihi sya-un fil ardhi wa laa fis samaa’ wa huwas samii’ul ‘alim’ (Dengan menyebut nama Allah yang tidak ada yang bisa memberikan celakan dengan nama-Nya di bumi maupun di langit, Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui) sebanyak tiga kali, maka tidak ada yang bisa mencelakainya.’” (HR. Tirmidzi No: 3388, Ibnu Majah No: 3869. Abu Dawu No: 5088, Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

وروى ابن سعد عن الْحَجَّاجُ بن فُرَافِصَةَ عَنْ رَجُلٍ قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى أَبَانَ بن عُثْمَانَ، فَقَالَ أَبَانُ: “مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ: لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ الْعَظِيمُ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ، لا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا بِاللَّهِ، عُوفِيَ مِنْ كُلِّ بَلاءٍ يَوْمَئِذٍ”. قَالَ: وَبِأَبَانَ يَوْمَئِذٍ الْفَالِجُ، فَقَالَ: “إِنَّ الْحَدِيثَ كَمَا حَدَّثْتُكَ، إِلا أَنَّهُ يَوْمَ أَصَابَنِي هَذَا لَمْ أَكُنْ قُلْتُهُ”.

Diriwayatkan dari Ibnu Saad dari al-Hajjaj bin Furafishah dari seorang laki-laki, ia mengatakan, “Aku menemui Aban bin Utsman. Aban berkata, “Siapa yang di pagi hari mengatakan: Laa ilaaha illallaah al-Azhim. Subhanallahi al-Azhimi wa bihamdihi. Laa hawla wa laa quwwata illaa billaah (Tiada sesembahan yang benar kecuali Allah Yang Maha Agung. Maha Suci Allah Yang Agung dan segala puji bagi-ya), ia terbebeas dari bencana apapun pada hari itu.” Periwayat mengatakan, “Saat itu Aban menderita lumpuh. Ia mengatakan, ‘Hadits ini seperti yang kusampaikan padamu, namu saat hari dimana kelumpuhan ini menimpaku, saat itu aku tidak membaca dzikir ini’.”

Banyak tokoh-tokoh ahli hadits dan ahli fikih menimba ilmu kepada Aban bin Utsman. Di antara mereka: Muhammad bin Muslim bin Syihab az-Zuhri. Muhammad bin Ishaq al-Muthlibi. Amir bin Saad bin Abi Waqqash, murid sekaligus koleganya. Abu az-Zinad Abdullah bin Dzakwan. Umar bin Abdul Aziz. Amr bin Dinar al-Makki. Anaknya sendiri, Abdurrahman bin Aban bin Utsman. Maimun bin Mihran. Nabih bin Wahb. Dan Yazid bin Hurmuz al-Madini.

Dan murid-murid yang lahir dari madrasahnya adalah Abdullah bin Abi Bakr bin Muhammad bin Amr bin Hazm. Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir, Imam Malik berkata, “Abdullah bin Abi Bakr menyampaikan kepadaku bahwa ayahnya belajar kepada Aban bin Utsman.” Imam Malik mengatakan, “Aban mempelajari banyak hal tentang hukum-hukum agama dari ayahnya, Utsman.” (Tarikh al-Kabir oleh Imam al-Bukhari).

Selain seorang ulama, Aban juga pernah menjabat gubernur Madinah selama 7 tahun. Abdul Malik bin Marwan mengangkatnya dari tahun 75 H hingga 83 H.

Ahli Sirah Nabi

Di generasi kedua Islam, mulailah Sirah Nabi Muhammad ﷺ dibukukan. Para tabi’in lah yang ambil peranan. Mereka menjadi rujukan utama. Meriwayatkan berita dari orang tua mereka, sahabat Rasulullah ﷺ. Masa mereka begitu dengan zaman kenabian. Bahkan sebagian mereka memiliki kekerabatan dengan sang Nabi. Seperti: Aurah bin az-Zubair bin al-Awwam, ibunya adalah Asma binti Abu Bakar ash-Shiddiq. Bibinya adalah Ummul Mukminin Aisyah. Ayahnya sepupu Nabi ﷺ. Nenek dari pihak ayah adalah Shafiyah binti Abdul Muthallib, bibi Nabi ﷺ. Dan kakek dari pihak ayah adalah al-Awwam bin Khuwailid, saudara laki-laki Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid radhiallahu ‘anha.

Ahli Sirah Nabawiyah yang lainnya adalah Aban bin Utsman. Keahlian Aban dalam kajian Sirah lebih dikenal dibanding keparakarannya dalam bidang hadits dan fikih. Hingga ia menjadi tokoh ulama Sirah yang terpecaya di mata para ulama.

Mughirah bin Abdurrahman bercerita tentang gugurnya, al-Waqidi, “Diriwayatkan hadits darinya. Ia adalah seorang ulama yang terpecaya. Tapi riwayat haditsnya sedikit. Kecuali tentang peperangan Rasulullah ﷺ yang ia riwayatkan dari Aban bin Utsman. Ia sering membaca riwayat dari Aban. Dan memerintahkan kami untuk mempelajarinya.”

Ini menunjukkan bahwa Aban bin Utsman dijadikan rujukan dalam kajian maghazi dan sirah. Sampai-sampai para ulama menyuruh murid-muridnya untuk mempelajari riwayat dari Aban.

Wafatnya Sang Ahli Sirah

Di akhir hayatnya, Aban menderita penyakit kusta hingga membuatnya lumpuh. Namun ia tetap pergi ke masjid dengan dibawa di atas gerobak.

Putra Khalifah Utsman bin Affan ini wafat pada masa pemerintahan Bani Umayyah. Tepatnya di zaman pemerintahan Yazid bin Abdul Malik (101-105 H). Yakni pada.

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com

Kesungguhan Ulama Dalam Belajar Agama - Bagian 1

08.59 Add Comment
Kesungguhan Ulama Dalam Belajar Agama - Bagian 1
Kesungguhan Ulama Dalam Belajar Agama - Bagian 1
Saat ini, ilmu agama bukanlah prioritas utama bagi sebagian umat Islam. Tentu karena mereka tidak tahu harga dan hakikatnya. Para ulama, dari zaman sahabat Nabi ﷺ hingga saat ini, menunjukkan keseriusan yang begitu besar dan usaha yang begitu hebat untuk mempelajari agama. Usaha mereka ini, memberikan pemahaman kepada kita seberapa besar kedudukan ilmu agama menurut mereka. Seberapa mahal ilmu itu hingga layak dicurahkan usaha yang keras untuk mendapatkannya. Karena inilah ilmu tentang firman Allah ﷻ dan sabda Rasulullah ﷺ.

Umar bin al-Khattab

Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari bahwasaya Umar bin al-Khattab berkata, “Aku dan tetanggaku seorang Anshar (yakni Aus bin Khauli), seorang dari bani Umayyah bin Zaid, kami saling bergantian mendatangi majelis Rasulullah ﷺ. Ia datang pada suatu hari dan aku pada hari lainnya. Apabila aku yang menghadiri majelis, akan aku sampaikan kepadanya tentang wahyu dan penjelasan lainnya pada hari itu. Apabila ia yang datang, ia pun melakukan hal yang sama.” (HR. al-Bukhari dalam Kitab al-‘Ilm 89).

Umat bergantian dengan tetangganya karena mereka meluangkan waktu antara belajar agama dan mencari nafkah. Kalau hidup di dunia yang fana ini butuh usaha untuk mencukupinya, tentu kehidupan akhirat yang kekal butuh usaha ekstra untuk bekalnya.

Abdullah bin Abbas


Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma bercerita tentang perjalannya mempelajari agama. Mengambil bagian dari warisan Rasulullah ﷺ. Ia berkisah, “Ketika Rasulullah ﷺ wafat, aku berkata kepada seorang laki-laki Anshar, ‘Wahai Fulan, marilah kita bertanya kepada sahabat-sahabat Nabi ﷺ, mumpung mereka masih banyak (yang hidup) saat ini’. ‘Mengherankan sekali kau ini, wahai Ibnu Abbas! Apa kau anggap orang-orang butuh kepadamu sementara di dunia ini ada tokoh-tokoh para sahabat Rasulullah ﷺ sebagaimana yang kaulihat?’

Ibnu Abbas melanjutkan, ‘Aku pun meninggalkannya. Aku mulai bertanya dan menemui para sahabat Rasulullah ﷺ. Suatu ketika, aku mendatangi seorang sahabat untuk bertanya tentang suatu hadits yang kudengar bahwa dia mendengarnya dari Rasulullah ﷺ. Ternyata dia sedang tidur siang. Lalu aku rebahan berbantalkan selendangku di depan pintunya, dan angin menerbangkan debu ke wajahku. Begitu keadaanku sampai ia keluar.

Ketika ia keluar, ia terkejut dengan kehadiranku. Ia berkata, ‘Wahai putra paman Rasulullah, kenapa engkau ini?’ tanyanya. ‘Aku ingin mendapatkan hadits yang kudengar engkau menyampaikan hadits itu dari Rasulullah ﷺ. Aku ingin mendengar hadits itu darimu,’ jawabku.

‘Mengapa tidak kau utus saja seseorang kepadaku agar nantinya aku yang mendatangimu?’ katanya. ‘Aku lebih berhak untuk datang kepadamu,’ jawabku.

Setelah itu, ketika para sahabat telah banyak yang meninggal, orang tadi (dari kalangan Anshar tadi) melihatku dalam keadaan orang-orang membutuhkanku. Dia pun berkata padaku, ‘Engkau memang lebih cerdas daripad aku’.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 1/310).

Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma menjelaskan kisah ini, kisah kesungguhannya belajar agama. “Aku pernah datang ke rumah Ubay bin K’ab. Saat itu ia sedang tidur. Kutunggu ia sambil tidur siang di depan pintu rumahnya. Kalau Ubay tahu, pasti dia membangunkanku, karena dekatnya kedudukanku (sepupu) dengan Rasulullah ﷺ. Tapi aku tidak suka mengandalkan hal itu”.

Dalam riwayat lain, beliau radhiallahu ‘anhuma menyatakan, “Aku mendekati tokoh-tokoh sahabat Rasulullah ﷺ dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Aku bertanya kepada mereka tentang peperangan Rasulullah ﷺ dan tentang ayat-ayat Alquran. Setiap sahabat yang kudatangi pasti senang dengan kedatanganku karena kedekatan nasabku dengan Rasulullah ﷺ. Aku bertanya kepada Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu. Ia adalah seorang yang dalam ilmunya. Aku bertanya tentang ayat-ayat Alquran yang turun di Madinah. Ia menjawab, ‘Di Madinah diturunkan 27 surat, dan selainnya di Mekah’.” (Ibnu Saad dalam ath-Thabaqat al-Kubra, 2/371).

Asy-Sya’bi

Beliau adalah seorang ulama tabi’in. Ia pernah ditanya, “Dari mana kau peroleh seluruh ilmumu?” Ia menjawab, “Dengan cara tidak bersandar (bermalas-malasan). Bersafar ke berbagai daerah. Sabar, sebagaimana sabarnya keledai. Bersegera sedari pagi sebagaimana burung gagak”. (adz-Dzahabi dalam Tadzkirah al-Huffazh, 1/81).

Imam asy-Syafi’i

Lihatlah bagaimana Imam asy-Syafi’i berlelah letih dalam belajar, hingga ia mencapai derajat yang kita ketahui saat ini. Beliau rahimahullah bercerita tentang proses belajarnya, “Aku telah menghafalkan Alquran saat berusia 7 tahun. Dan menghafal al-Muwaththa (buku hadits yang disusun Imam Malik) saat berusia 10 tahun.” (Abu al-Hajjaj al-Mizzi dalam Tadzhib al-Kamal, 24/366).

Menurut sebagian orang, alangkah beratnya masa kanak-kanak Imam asy-Syafi’i. Namun apa yang ia capai di masa kecil melahirkan orang sekelas dirinya di saat dewasa. Melalui dirinya, Allah ﷻ memberikan manfaat kepada umat manusia. Kemanfaatan berupa ilmu. Tidak hanya untuk orang-orang di zamannya saja. Tapi manfaat tersebut terus terasa hingga jauh dari masa hidupnya. Hingga masa kita sekarang ini.

Imam asy-Syafi’i mengatakan, “Ketika aku telah menghafalkan Alquran (30 juz), aku masuk ke masjid. Aku mulai duduk di majelisnya para ulama. Mendengarkan hadits atau pembahasan-pembahasan lainnya. Aku pun menghafalkannya juga. Ibuku tidak memiliki sesuatu yang bisa ia berikan padaku untuk membeli kertas (buku untuk mencatat). Jika kulihat bongkahan tulang yang lebar, kupungut lalu kujadikan tempat menulis. Apabila sudah penuh, kuletakkan di tempaian yang kami miliki.” (Ibnu al-Jauzi dalam Shifatu Shafwah, 2/249 dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 51/182).

Saat beliau mulai beranjak besar, antara usia 10-13 tahun, beliau butuh kertas untuk menulis apa yang telah dipelajari, tapi tidak ada uang untuk membeli kertas-kertas itu. Ia pergi ke suatu tempat untuk mendapatkan kertas yang telah terpakai di satu sisi halamannya. Separuh lembar yang kosong itu, beliau gunakan untuk mencatat ilmu (Abu al-Hajjaj al-Mizzi dalam Tadzhib al-Kamal, 24/361).

Untuk apa usaha besar itu dilakukan oleh Asy-Syafi’i kecil, padahal ia masih terlalu muda? Jawabnya untuk ilmu yang menurutnya begitu berharga.

Ibnu Abi Hatim mendengar cerita dari al-Muzani, bahwasanya Imam asy-Safi’i pernah ditanya, “Bagaimana obsesimu terhadap ilmu?” Imam asy-Syafi’i menjawab, “Ketika aku mendengar suatu kalimat yang belum pernah kudengar, maka seluruh anggota badanku merasakan kenikmatan sebagaimana nikmatnya kedua telinga saat mendengarkannya.”

Beliau juga ditanya, “Bagaimana semangatmu dalam mendapatkannya?” Ia menjawab, “Sebagaimana orang yang bersemangat mengumpulkan harta dan pelit membaginya merasakan kenikmatan terhadap harta.”

Beliau ditanya pula, “Bagaimana engkau menginginkannya?” “Aku menginginkannya sebagaimana seorang ibu yang kehilangan anaknya, tidak ada yang dia ingin kecuali anaknya.” Jawabnya.

Kita bisa tahu, apa yang beliau ucapkan ini bukanlah omong kosong yang tak bermakna. Kalau bukan dengan obsesi sebesar itu, semangat sehebat itu, dan keinginan sekuat itu, tentu ia tidak menjadi seperti Syafi’i yang kita tahu.

Derajat imam (pemimpin) dalam ilmu itu tidak diperoleh dengan santai-santai. Banyak hal yang harus dikorbankan. Sebagaimana kata Ibnu Taimiyah, “Sesungguhnya kedudukan keimaman dalam agama hanya didapatkan dengan kesabaran dan keyakinan.” (Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa, 3/358).

Dan Allah ﷻ mengajarkan kita sebuah doa:

وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan jadikanlah kami pemimpin orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74).

Menurut Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma maksud ayat ini adalah “Jadikan kami pemimpin-pemimpin yang diteladani dalam kebaikan.” (Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Quran al-Azhim, 3/439).

Bersambung insya Allah…

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com

Kesungguhan Ulama Dalam Belajar Agama - Bagian 2

08.56 Add Comment
Kesungguhan Ulama Dalam Belajar Agama - Bagian 2
Kesungguhan Ulama Dalam Belajar Agama - Bagian 2
Sufyan ats-Tsaury

Kemiskinan tidak menjadi penghalang belajar. Sedikitnya bekal tidak menghalangi perjalanan. Itu pula yang terjadi pada Sufyan ats-Tsaury (ulama generasi tabi’ tabi’in) rahimahullah. Ia menjadi tokoh bangsa Arab. Seorang fakih dan ahli hadits. Digelari dengan amirul muknin fil hadits (pemimpin orang-orang yang beriman dalam masalah hadits) tentu menggambarkan betapa tinggi kedudukannya.

Sufyan berkisah, “Saat aku mulai belajar, aku mengadu (kepada Allah), ‘Ya Rabb, aku harus memiliki penghasilan. Sementara ilmu itu pergi dan menghilang. Apakah aku bekerja mencari penghasilan saja? Aku memohon kepada Allah kecukupan’.

Sufyan ats-Taury adalah seorang yang miskin dan belajar butuh modal. Fokus belajar, membuatnya tidak punya harta untuk belajar. Tapi jika belajar sambil bekerja, ilmu yang didapatkan hanya setengah-setengah, tidak optimal. Kemudian Allah ﷻ memberikan jalan keluar dan mengabulkan doanya. Doa tulus untuk mempelajari agama-Nya. Ibunya berjanji menanggung keperluannya belajar. “Wahai anakku, belajarlah! Aku yang akan mencukupkanmu dari hasil usaha tenunanku ini”, kata ibunya (Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya. 6/370).

Dengan usaha menenun, ibunya membelikan buku dan mencukupi kebutuhannya dalam belajar. Tidak hanya mendanai Sufyan, ibunya juga selalu memberi semangat dan menasihatinya agar terus giat memperoleh ilmu. Ibunya mengatakan, “Anakku, jika engkau menulis 10 huruf, perhatikan… apakah ada pada dirimu perasaan semakin takut (kepada Allah), semakin lembut, dan semakin tenang. Jika engkau tidak merasakannya, ketahuilah apa yang kau pelajari memudharatkanmu. Tidak bermanfaat untukmu.” (Ibnul Jauzi dalam Sifatu Shafwah, 3/189).

Nasihat ibu Sufyan juga sangat layak kita jadikan renungan. Introspeksi diri yang mungkin jarang kita lakukan. Sudahkah ibadah kita makin giat, akhlak semakin baik, dan rasa takut serta tawakal kepada Allah kian kuat, setelah kita belajar?

Ibu Sufyan menjadikan 10 huruf, hanya 10 huruf, untuk introspeksi sejauh mana pengaruh ilmu untuk dirinya.

Dengan lantaran ibunya, Sufyan ats-Tsaury menjadi Sufyan ats-Tsaury yang kita tahu. Seorang pemimpin dalam ilmu dan imam dalam agama.

Jabir bin Abdillah

Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu adalah seorang sahabat Rasulullah ﷺ yang memiliki semangat luar biasa dalam mempelajari agama. Ia dan ulama-ulama lainnya tidak mencukupkan diri belajar di negerinya sendiri. Mereka bersafar, melangkahi jalan-jalan, menghilangkan ketidak-tahuan.

Kisah perjalanan mereka ini seperti dongeng. Karena mereka berjalan bermi-mil hanya untuk sesuatu yang menurut sebagian orang adalah kecil. Tantangan mereka pun berat dan fasilitas mereka tidaklah hebat. Perjalanan pun tetap beralangsung.

Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu melakukan perjalanan sebulan menuju Abdullah bin Unais radhiallahu ‘anhu, hanya untuk satu hadits. Jabir bercerita, “Aku mendengar ada satu hadits yang diriwayatkan oleh seorang dari sahabat Rasulullah ﷺ. Lalu aku membeli seekor onta, dan kuikat bekalku sebulan pada onta itu. Tibalah aku di Syam. Ternyata sahabat tersebut adalah Abdullah bin Unais. Aku berkata kepada penjaga pintunya, ‘Katakan kepadanya, Jabir sedang di pintu’. Dia bertanya, ‘Jabir bin Abdillah?’ Aku menjawab, ‘Ya’.

Lalu Abdullah bin Unais keluar dan dia merangkulku, aku berkata, ‘Sebuah hadits, aku mendengarnya ada padamu, kamu mendengarnya dari Rasulullah ﷺ, aku khawatir mati atau kamu telah mati sementara aku belum mendengarnya. Lalu ia menyebutkan hadits tersebut…” (Riwayat al-Bukhari dalam Adabul Mufrad 970, Ahmad 16085, dan al-Hakim 3638).

Setelah mendangar hadits tersebut, Jabir langsung pulang, kembali ke Madinah. Tidak ada motivasi lain bagi dirinya, berangkat menuju Syam kecuali satu hadits tersebut.

Abu Ayyub al-Anshari

Abu Ayyub al-Anshari pernah bersafar dari Madinah ke Mesir. Untuk menemui Uqbah bin Amir al-Juhni. Ia ingin meriwayatkan satu hadits darinya. Sesampainya di Mesir, bertemu Uqbah dan mendengar haditsnya, ia langsung kembali ke Madinah (Riwayat Ahmad 17490, Abdurrazzaq 18936, Ibnu Abi Syaibah 13729).

Asad bin Furat

Asad bin Furat rahimahullah adalah seorang ahli fikih madzhab maliki. Ialah yang membukukan madzhab Imam Malik rahimahullah. Asad adalah hakim di Qairawan. Ia juga seorang mujahid. Turut serta membebaskan wilayah Sicilia di Italy pada tahun 213 H. Asad bercerita tentang perjalanannya belajar agama:

Ia pergi ke Madinah, belajar kepada Imam Malik. Lalu menuju Irak dan belajar dari murid-muridnya Imam Abu Hanifah. Di Irak pula ia belajar kepada Muhammad bin Hasan asy-Syaibani. Ribuan orang hadir di majelis Muhammad bin Hasan, sulit bagi Asad untuk bertanya sesuatu yang ia inginkan. Akhirnya ia bisa menyampaikan uneg-unegnya kepada Muhammad bin Hasan. “Aku adalah orang asing (bukan orang Irak) yang sedikit bekalnya. Mendengar ucapanmu (di majelis) sangat sulit karena padatnya jamaah. Dan orang-orang yang belajar denganmu banyak. Adakah solusi untukku?”

Muhammad bin Hasan rahimahullah menjawab, “Dengarkanlah bersama orang-orang Irak di siang hari. Malam harinya kukhususkan untukmu saja. Menginaplah di tempatku. Aku akan memperdengarkanmu (ilmu).”

Asad bin Furat mengatakan, “Aku pun menginap di rumahnya. Kuletakkan di hadapanku suatu wadah yang berisi air. Mulailah aku belajar. Apabila malam larut, dan aku merasakan kantuk, kubasahi tanganku dan kuusapkan di wajahku, aku pun segar kembali. Itulah caranya dan caraku. Sampai akhirnya aku merasa puas mendengarkan ilmu darinya.”

Perhatikanlah kesungguhan dua ulama ini. Bagaimana Muhammad bin Hasan meluangkan waktunya siang dan malam untuk mengajar. Dan ia khususkan malam untuk Asad bin Furat. Mengapa? Karena ia tahu, melalui Asad ilmu yang ia miliki akan tersebar ke negeri yang tidak mampu ia jangkau.

Lihat pula kesungguhan Asad bin Furat rahimahullah, ia tidak merasa cukup belajar dari ulama sekelas Imam Malik rahimahullah. Padahal apa yang dia dapat dari Imam Malik sangat banyak. Ia tetap merasa haus dan lapar akan ilmu agama. Sehingga senantiasa mempelajarinya selama masih bernyawa.

Diriwayatkan oleh ad-Darimi dengan sanad yang shahih, mursal dari Thawus bin Kaisan rahimahullah, ia berkata, “Rasulullah ﷺ pernah ditanya, ‘Wahai Rasulllah, siapa orang yang paling berilmu?’ Beliau ﷺ menjawab, ‘Orang yang mengumpulkan ilmu banyak orang menjadi ilmunya. Setiap pelajar ilmu agama adalah ghartsanu (orang yang lapar, tidak merasa cukup) terhadap ilmu.” (HR. Ad-Darimi, Husain Silmi seorang muhaqqiq Sunan ad-Darimi berkata, “Sanadnya shahih”.).

Imam al-Bukhari

Al-Bukhari rahimahullah terbangun dalam satu malam. Kemudian ia menghidupkan lenteranya. Ia menulis pelajaran. Kemudian ia padamkan lenteranya. Lalu terbangun lagi, lagi, dan lagi. Hingga hampir 20 kali (Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah, 11/25).

Imam an-Nawawi

Imam an-Nawawi rahimahullah bercerita tentang dirinya, “Pernah selama dua tahun aku tidak pernah membaringkan pungguku di bumi (lantai). Apabila rasa kantuk menghampiriku, aku tersandar pada buku-buku sesaat, kemudian bangun kembali.” (Ibnu Qadhi Syubhah dalam Thabaqat asy-Syafi’iyah).

Beliau tidak pernah tidur berbaring selama dua tahun. Duduk menelaah buku-buku, lalu tertidur dan segera bangun kembali. Untuk apa beliau lakukan itu? Untuk ilmu yang berharga, warisan Nabi ﷺ, ilmu agama.

Fakhruddin Muhammad as-Sa’ati

Fakhruddin Muhammad adalah seorang ilmuan kedokteran dalam sejarah Islam. Ia menceritakan bagaimana ia mempelajari ilmu kedokteran dengan mengatakan, “Kaumku hasad kepadaku atas apa yang telah kuperbuat. Karena antara aku dan mereka adalah tempat tidur. Aku bergadang di malam hari. Sementara mereka terkantuk-kantuk. Tentu tidak sama antara orang yang belajar dan yang ngantuk.” (Ibnu Abi Ushaibi’ah dalam Uyunul Anba fi Thabaqat al-Atibba, 4/162).

Imam Ahmad

Imam Ahmad bercerita tentang masa kecilnya, “Aku berangkat pagi-pagi untuk hadits”, yakni beliau keluar dari rumahnya di saat pagi untuk mencari tempat duduk yang nyaman untuknya saat belajar hadits. “Ibuku menyimpan pakaianku hingga saat adzan subuh (berkumandang).” (adz-Dzahabi dalam Siyar Alamin Nubala).

Imam Ahmad di masa kecilnya telah menyiapkan diri untuk belajar hadits sebelum datangnya waktu subuh. Tapi ibunya takut kalau anaknya keluar sebelum waktu subuh tiba. Karenanya, bajunya baru ia berikan setelah adzan subuh berkumandang.

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com

Mengenal Syaikh Ibnu Baz Ulama dari Hijaz

08.54 Add Comment
Mengenal Syaikh Ibnu Baz Ulama dari Hijaz
Mengenal Syaikh Ibnu Baz Ulama dari Hijaz
Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata kepada para sahabatnya, “Sesungguhnya kalian sekarang ini berada di masa para ulamanya masih banyak dan tukang ceramahnya sedikit. Dan akan datang suatu masa setelah kalian dimana tukang ceramahnya banyak namun ulamanya amat sedikit.” (Qowa’id fi at-Ta’amul ma’al ‘Ulama, hal. 40).

Apa yang dikatakan Ibnu Mas’ud sama sekali tidak meleset. Sekarang kita berada di zaman yang beliau katakan itu. Ulamanya sedikit dan para penceramah (orang yang pandai berbiacaranya) banyak. Sedikitnya ulama tentu memiliki dampak besar terhadap umat. Dalam keadaan tersebut penyebaran ilmu tentu berbeda dengan ketika ulama banyak. Keadaan demikian diperburuk dengan pembunuhan karakter terhadap para ulama. Sehingga kaum muslimin semakin bingung, ulama mana yang harus mereka teladani. Kian beratlah ujian. Ujian memilih ulama rabbani yang bisa membimbing kita pada jalan kebenaran.

Di antara ulama rabbani yang membimbing umat adalah Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah. Atau yang sering disebut dengan Syaikh Ibnu Baz. Sedikit tentang akhlak beliau telah pembaca simak di artikel Mencuri di Rumah Seorang Mufti. Kisah akhlak yang mengagumkan. Yang menimbulkan keingintahuan tentang siapakah mufti yang mulia itu.

Siapakah Ibnu Baz?

Beliau adalah Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz. Dilahirkan di bulan Dzul Hijjah tahun 1330 H, di Kota Riyadh. Syaikh Ibnu Baz terlahir dalam keadaan sehat dan normal. Kemudian pada tahun 1346 H, pandangannya mulai rabun. Dan pada tahun 1350 H, beliau mengalami kebutaan secara total. Abdul Aziz kecil telah menghafalkan Alquran secara sempurna sebelum ia menginjak usia baligh (Jawanib min Sirati al-Imam Abdul Aziz bin Baz oleh Muhammad al-Hamd, Hal. 33). Kiranya inilah jalan hidup para ulama. Mereka membuka pintu ilmu dan hikmah dengan menghafalkan Alquran sedari kecil.

Semangat Ibnu Baz dalam mempelajari agama sudah muncul sejak kecil. Di masa kanak-kanaknya, ia telah belajar kepada para ulama besar di Kerajaan Arab Saudi. Di antara guru-gurunya adalah:
  • Syaikh Muhammad bin Abdul Lathif bin Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab,
  • Syaikh Shaleh bin Abdul Wahhab,
  • Syaikh Saad bin Hamd bin Athiq,
  • Syaikh Hamd bin Faris,
  • Syaikh Muhammad bin Ibrahim alu asy-Syaikh. Ibnu Baz hadir di majelisnya setiap pagi dan sore dan mempelajari banyak cabang ilmu syariat sejak tahun 1347 H-1357 H.
  • Syaikh Saad Waqqash al-Bukhari sebagai guru tajwidnya.

Ilmu Yang Dihiasi Akhlak Mulia

Sudah selayaknya orang yang berilmu itu memiliki akhlak yang mulia. Akhlak yang terbimbing dari apa yang sudah diketahuinya. Demikian pula dengan Ibnu Baz rahimahullah. Beliau dikenal dengan kelemah-lembutannya. Mudah tersentuh hatinya dan meneteskan air mata saat mendengar bacaan Alquran. Mendengar hadits-hadits Nabi ﷺ. Mendengar kisah-kisah kehidupan para ulama. Mendengar kabar tentang kaum muslimin. Atau bahkan mendengar sebuah syair.

Ilmunya tidak ia gunakan untuk mendebat orang yang berilmu dan para guru. Ia adalah seorang yang sangat rendah hati. Walaupun kedudukannya tinggi. Seorang yang tenang dan tidak tergesa-gesa dalam bersikap dan mengambil keputusan. Ia dikenal sebagai seorang yang dermawan dalam harta, waktu, ilmu, kebaikan, dan pertolongan. Tentu tidak mungkin tulisan singkat ini menguraikan contoh dari masing-masing sifat tersebut.

Daya ingatnya sangat kuat. Semakin bertambah usia, makin kuat pual hafalannya. Di antara ciri orang besar dan sukses adalah mereka memiliki semangat dan ketekunan yang luar biasa. Sifat itu pula yang dimiliki Syaikh Ibnu Baz. Ia senantiasa menjadi penengah dalam banyak permasalahan. Karena ia dikenal adil, bijak, dan sangat teguh memegang prinsip kebenaran. Dengan padatnya kegiatan, Syaikh tetaplah seseorang yang menepati janjinya.

Berkhdimat Kepada Umat

Pada tahun 1357-1371 H, Syaikh Ibnu Baz diberi amanah oleh kerajaan sebagai imam dan khotib di Kota al-Kharj. Di sana juga beliau memiliki majelis pengajian 5 hari sepekan. Hanya hari Selasa dan Jumat saja tidak ada majelis beliau.

Kemudian beliau pindah ke Kota Riyadh pada tahun 1372 H. Di ibu kota kerajaan ini beliau mengajar di Ma’had ar-Riyadh al-Ilmi. Perhatian beliau terhadap perkembangan ilmu agama di Riaydh sangatlah besar. Beliau mengembangkan halaqah belajar di al-Jami al-Kabir di Riyadh. Pada tahun 1381 H, beliau diangkat menjadi wakil rektor Universitas Islam Madinah. Kemudian menjadi rektor pada tahun 1390-1395 H. Dan beliau menginisiasi halaqah belajar di Masjid Nabawi (Jawanib min Sirati al-Imam Abdul Aziz bin Baz, Hal. 45-48).

Dengan keterbatasannya, beliau tetap menunaikan haji. Rukun Islam yang kelima itu beliau laksanakan sebanyak 42 kali dalam hidupnya. Haji pertama dilaksanakan pada tahun 1349 H. Setelah itu dilaksanakan empat kali haji tidak berturut-turut. Berikutnya, 37 kali haji dilaksanakan secara berturut-turut. Antara tahun 1372-1418 H (Jawanib min Sirati al-Imam Abdul Aziz bin Baz, Hal. 113).

Di dunia akademik modern, kita menyaksikan biasanya seseorang hanya mengambil satu bidang kajian khusus untuk ia dalami. Karenanya, ketika ia berbicara tentang bidang kajiannya, ia akan terlihat sangat mumpuni. Namun jika berbicara di luar bidangnya, ia sama seperti orang awam lainnya atau hanya mengetahui secara general saja. Adapun Syaikh Ibnu Baz, beliau pakar dalam banyak cabang ilmu agama.

Ketika Syaikh Ibnu Baz berbicara dalam satu cabang di antara cabang-cabang ilmu agama, maka orang yang mendengarnya akan menyangka ia memiliki spesialisasi di bidang tersebut. Namun ternyata hal itu sama ketika beliau berbicara di cabang ilmu yang lain. Ketika ia berbicara tentang hadits; pengenalan tentang rijalul hadits dan rawi-rawinya, tentang shahih dan dhaif-nya, orang akan menyangkanya sebagai ahli hadits. Ketika beliau berbicara tentang akidah, maka orang menyangka dialah pakarnya. Demikian juga dalam ilmu tafsir, fikih, dan yang lainnya. Para pendengar akan dibuat kagum akan kedalaman ilmunya.

Warisan Ibnu Baz


Syaikh Ibnu Baz banyak mewariskan karya ilmiah. Ada yang dalam bentuk tulisan. Ada pula dalam bentuk rekaman ceramah dan seminar. Karya tulis Syaikh Ibnu Baz adalah hasil transkrip dari ceramah-ceramah atau ucapan yang beliau diktekan kepada murid-muridnya.

Karya-karya beliau sangat menekankan koreksi ritual ibadah. Karena tidak kita pungkiri, banyak praktik-praktik ibadah yang menyelisihi tuntuntan Rasulullah ﷺ. Seperti bagaimana haji dan umrah yang sesuai dengan tuntunan sunnah Rasulullah ﷺ. Tentang bagaimana shalat sesuai bimbingan Nabi ﷺ. Tentang bagaimana puasa dan zakat. Beliau juga memiliki kumpulan fatwa yang telah dikumpulkan oleh Muhammad bin Saad asy-Syuwai’ir dalam 18 jilid tebal.

Beliau juga memiliki perhatian besar dengan akidah yang shahih. Berpegang kepada Sunnah dan memperingatkan masyarakat dari bahaya bid’ah. Kemudian tentang dakwah dan akhlak. Tentang hijab dan nikah. Memperingatkan buruknya fanatisme kearaban. Tentang jihad di jalan Allah, dll.

Kasih Sayang Sesama Muslim


Terlalu banyak kisah-kisah betapa kasihnya Syaikh Ibnu Baz terhadap umat Islam di belahan dunia. Bahkan tidak jarang orang-orang yang telah berputus asa di negerinya, mengirim surat ke Arab Saudi, kepada Syaikh Ibnu Baz, untuk memohon bantuan. Tidak hanya dari negara Arab. Surat permohonan tersebut juga datang dari negeri-negeri di Asia Tenggara.

Mungkin orang mengira, karena Syaikh Ibnu Baz adalah tokoh dakwah salaf di masa sekarang, beliau tidak peduli dengan tokoh-tokoh pergerakan. Beliau memang tegas dalam hal-hal yang menyelisihi sunnah, namun beliau juga memegang teguh prinsip persaudaraan dan kasih sayang sesama muslim. Mungkin tidak banyak yang tahu kalau Syaikh Ibnu Baz meminta pemerintah Mesir untuk tidak menghukum mati Sayid Qutb rahimahullah.

Syaikh Muhammad Majdzub –salah seorang ulama Maroko- mengisahkan tentang kemarahan Syaikh Ibnu Baz kepada pemerintah Mesir yang memvonis mati Sayid Qutb. Beliau mengirim surat kepada pemerintah Mesir agar membatalkan vonis tersebut. Ia menyebut Sayid Qutb adalah saudaranya. Beliau menutup suratnya dengan mencantumkan ayat:

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS:An-Nisaa | Ayat: 93) (Ulama wa Mufakkirun Araftuhum oleh Muhammad Majdzub, 1: 77-106).

Namun sayang, ulama Rabbani ini tidak dibiarkan populer dan mendapatkan hati di masyarakat. tidak sedikit media yang berusaha membunuh karakter beliau. Baik media Islam apalagi media non-Islam. Dan masih banyak kisah-kisah lainnya tentang hubunga beliau bersama tokoh-tokoh dakwah lainnya. Karena itu, pujian terhadap beliau datang dari lawan apalagi kawan. Orang-orang yang berbeda pemikiran dan jalan dakwahnya pun tidak sedikit yang datang kepada beliau untuk berkonsultasi. Masyarakat awam sangat menghormati dan mendengarkan pendapatnya. Beliau mendapat tempat di hati semua kalangan.

Syaikh Abdullah bin Sulaiman al-Mani’ menyatakan Syaikh Ibnu Baz adalah sebaik-baik hakim. Ia adalah hakim yang adil. Hakim yang berilmu. Hakim yang diridhai putusannya. Diterima dan menenangkan masyarakat (Ulama wa Mufakkirun Araftuhum oleh Muhammad Majdzub, 1: 77-106).

Jabatan-jabatan Semasa Hidupnya

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah menjabat sebagai ketua Idarah al-Buhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta wa ad-Dakwah wa al-Irsyad. Kemudian menjabat Grand Mufti Kerajaan Arab Saudi dan pimpinan Hai-ah Kibar al-Ulama wa Idarah al-Buhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta.

Beliau juga adalah pimpinan dan anggota al-Majlis at-Ta’sisi Li Rabithah al-Alam al-Islami dan pimpinan Majlis al-A’la al-Alami lil Masajid.

Beliau juga mengemban amanah sebagai ketua al-Majma’ al-Islami di Mekah al-Mukarrmah dan anggota majelis tinggi Jami’ah Islamiyah di Madinah.

Wafatnya Sang Alim

Syaikh Ibnu Baz wafat pada hari Kamis, 27 Muharam 1420 H di usia 80 tahun. Beliau telah menghabiskan umurnya untuk ilmu, belajar, mengajar, berbakti kepada Islam dan kaum muslimin. Semoga Allah memberikan rahmat yang luas kepada beliau. Dan membalas kebaikannya dengan sebaik-baik balasan (Jawanib min Sirati al-Imam Abdul Aziz bin Baz oleh Muhammad al-Hamd, Hal. 587).

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com