Tampilkan postingan dengan label fiqih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiqih. Tampilkan semua postingan

Keutamaan Shalat Dhuha

08.22 Add Comment
Keutamaan Shalat Dhuha
Keutamaan Shalat Dhuha
Banyak yang belum memahami keutamaan shalat yang satu ini. Ternyata shalat Dhuha bisa senilai dengan sedekah dengan seluruh persendian. Shalat tersebut juga akan memudahkan urusan kita hingga akhir siang. Ditambah lagi shalat tersebut bisa menyamai pahala haji dan umrah yang sempurna. Juga shalat Dhuha termasuk shalat orang-orang yang kembali taat.

Di antara keutamaan shalat Dhuha adalah:



Pertama: Mengganti sedekah dengan seluruh persendian

Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى

“Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar ma’ruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak 2 raka’at” (HR. Muslim no. 720).

Padahal persendian yang ada pada seluruh tubuh kita sebagaimana dikatakan dalam hadits dan dibuktikan dalam dunia kesehatan adalah 360 persendian. ‘Aisyah pernah menyebutkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّهُ خُلِقَ كُلُّ إِنْسَانٍ مِنْ بَنِى آدَمَ عَلَى سِتِّينَ وَثَلاَثِمَائَةِ مَفْصِلٍ

“Sesungguhnya setiap manusia keturunan Adam diciptakan dalam keadaan memiliki 360 persendian” (HR. Muslim no. 1007).

Hadits ini menjadi bukti selalu benarnya sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun sedekah dengan 360 persendian ini dapat digantikan dengan shalat Dhuha sebagaimana disebutkan pula dalam hadits dari Buraidah, beliau mengatakan bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَبِى بُرَيْدَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « فِى الإِنْسَانِ سِتُّونَ وَثَلاَثُمِائَةِ مَفْصِلٍ فَعَلَيْهِ أَنْ يَتَصَدَّقَ عَنْ كُلِّ مَفْصِلٍ مِنْهَا صَدَقَةً ». قَالُوا فَمَنِ الَّذِى يُطِيقُ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « النُّخَاعَةُ فِى الْمَسْجِدِ تَدْفِنُهَا أَوِ الشَّىْءُ تُنَحِّيهِ عَنِ الطَّرِيقِ فَإِنْ لَمْ تَقْدِرْ فَرَكْعَتَا الضُّحَى تُجْزِئُ عَنْكَ


“Manusia memiliki 360 persendian. Setiap persendian itu memiliki kewajiban untuk bersedekah.” Para sahabat pun mengatakan, “Lalu siapa yang mampu bersedekah dengan seluruh persendiannya, wahai Rasulullah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan, “Menanam bekas ludah di masjid atau menyingkirkan gangguan dari jalanan. Jika engkau tidak mampu melakukan seperti itu, maka cukup lakukan shalat Dhuha dua raka’at.” (HR. Ahmad, 5: 354. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih ligoirohi)

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Hadits dari Abu Dzar adalah dalil yang menunjukkan keutamaan yang sangat besar dari shalat Dhuha dan menunjukkannya kedudukannya yang mulia. Dan shalat Dhuha bisa cukup dengan dua raka’at” (Syarh Muslim, 5: 234).

Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani rahimahullah mengatakan, “Hadits Abu Dzar dan hadits Buraidah menunjukkan keutamaan yang luar biasa dan kedudukan yang mulia dari Shalat Dhuha. Hal ini pula yang menunjukkan semakin disyari’atkannya shalat tersebut. Dua raka’at shalat Dhuha sudah mencukupi sedekah dengan 360 persendian. Jika memang demikian, sudah sepantasnya shalat ini dapat dikerjakan rutin dan terus menerus” (Nailul Author, 3: 77).

Kedua: Akan dicukupi urusan di akhir siang

Dari Nu’aim bin Hammar Al Ghothofaniy, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا ابْنَ آدَمَ لاَ تَعْجِزْ عَنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ أَكْفِكَ آخِرَهُ

“Allah Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat raka’at shalat di awal siang (di waktu Dhuha). Maka itu akan mencukupimu di akhir siang.” (HR. Ahmad (5/286), Abu Daud no. 1289, At Tirmidzi no. 475, Ad Darimi no. 1451 . Syaikh Al Albani dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Penulis ‘Aunul Ma’bud –Al ‘Azhim Abadi- menyebutkan, “Hadits ini bisa mengandung pengertian bahwa shalat Dhuha akan menyelematkan pelakunya dari berbagai hal yang membahayakan. Bisa juga dimaksudkan bahwa shalat Dhuha dapat menjaga dirinya dari terjerumus dalam dosa atau ia pun akan dimaafkan jika terjerumus di dalamnya. Atau maknanya bisa lebih luas dari itu.” (‘Aunul Ma’bud, 4: 118)

At Thibiy berkata, “Yaitu engkau akan diberi kecukupan dalam kesibukan dan urusanmu, serta akan dihilangkan dari hal-hal yang tidak disukai setelah engkau shalat hingga akhir siang. Yang dimaksud, selesaikanlah urusanmu dengan beribadah pada Allah di awal siang (di waktu Dhuha), maka Allah akan mudahkan urusanmu di akhir siang.” (Tuhfatul Ahwadzi, 2: 478).

Ketiga: Mendapat pahala haji dan umrah yang sempurna

Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ . قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-  تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ


“Barangsiapa yang melaksanakan shalat shubuh secara berjama’ah lalu ia duduk sambil berdzikir pada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan shalat dua raka’at, maka ia seperti memperoleh pahala haji dan umroh.” Beliau pun bersabda, “Pahala yang sempurna, sempurna dan sempurna.” (HR. Tirmidzi no. 586. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Al Mubaarakfuri rahimahullah dalam Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jaami’ At Tirmidzi (3: 158) menjelaskan, “Yang dimaksud ‘kemudian ia melaksanakan shalat dua raka’at’ yaitu setelah matahari terbit. Ath Thibiy berkata, “Yaitu kemudian ia melaksanakan shalat setelah matahari meninggi setinggi tombak, sehingga keluarlah waktu terlarang untuk shalat. Shalat ini disebut pula shalat Isyroq. Shalat tersebut adalah waktu shalat di awal waktu.”

Keempat: Termasuk shalat awwabin (orang yang kembali taat)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا يحافظ على صلاة الضحى إلا أواب، وهي صلاة الأوابين

“Tidaklah menjaga shalat sunnah Dhuha melainkan awwab (orang yang kembali taat). Inilah shalat awwabin.” (HR. Ibnu Khuzaimah, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib 1: 164). Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Awwab adalah muthii’ (orang yang taat). Ada pula ulama yang mengatakan bahwa maknanya adalah orang yang kembali taat” (Syarh Shahih Muslim, 6: 30).

Semoga Allah memberikan kita hidayah dan taufik untuk merutinkan shalat yang mulia ini. Wallahu waliyyut taufiq

Sumber Link

Puasa, Permasalahan, Manfaat dan Hikmah Puasa Wajib

02.36 Add Comment
Puasa, Permasalahan, Manfaat dan Hikmah Puasa Wajib
 1. Pengertian Puasa dan Dasar Hukumnya
  • Menurut Bahasa, kata puasa berasal dari bahasa Sansekerta yaitu upawasa yang berarti pengendalian diri. Dalam bahasa Arab puasa disebut syiam yang berarti menahan diri atau mencegah dari perbuatan sesuatu.
  • Menurut istilah, Puasa berarti menahan diri dari makan dan minum serta hal-hal yang membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari sebagai ibadah kepada Allah SWT.
    Puasa, Permasalahan, Manfaat dan Hikmah Puasa Wajib
Baca juga : Zakat

2. Syarat Puasa
Syarat puasa adalah sesuatu yang harus terpenuhi untuk kesempurnaan puasa, tetapi berada di luar pelaksanaan puasa. Ulama ahli fikih membagi syarat puasa menjadi dua yaitu : Syarat wajib puasa dan syarat sahnya puasa. Syarat wajib adalah hal-hal yang dapat mewajibkan seseorang melaksanakan puasa, sedang syarat sah puasa, adalah hal-hal yang harus dipenuhi seseorang agar puasanya menjadi sah. Yang termasuk syarat wajib puasa adalah sebagai berikut :

Yang termasuk syarat wajib puasa adalah sebagai berikut :
  • Beragama islam.
  • Suci dari haid.
  • Baligh (dewasa).
  • Kuat berpuasa.
  • Berakal sehat.
  • Berada di kampungnya.
Adapun yang menjadi syarat sah puasa adalah sebagai berikut :
  1. Islam sepanjang hari.
  2. Mumayyiz.
  3. Suci dari haid dan nifas.
3. Rukun Puasa
Rukun Puasa adalah sesuatu yang harus terpenuhi untuk sahnya puasa pada saat pelaksanaan puasa. Yang termasuk rukun puasa adalah sebagai berikut :
  • Berniat, yaitu menyengaja melakukan puasa. Berniat puasa wajib harus dilakukan pada malam hari hingga terbit fajar, seseorang yang berpuasa wajib, yang tidak berniat pada malamnya, maka puasanya tidak sah.
  • Menahan diri dari segala yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari.
4. Yang Membatalkan Puasa
  • Makan dan minum dengan sengaja.
  • Muntah dengan sengaja, muntah yang tidak sengaja tidak membatalkan puasa.
Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa yang terpaksa muntah, tidaklah wajib menggqadla puasanya dan barang siapa yang sengaja muntah, maka hendaklah ia menggqadla (mengganti) puasanya.” (HR. Abu daud, At Tirmidzi dan Ibnu Majah).
  • Keluar air mani (sperma) dengan sengaja.
  • Bersetubuh dengan istrinya, melakukan hubungan suami istri pada siang bulan Ramadhan.
  • Keluar darah haid atau nifas.
  • Hilangnya akal.

Perbedaan Niat Puasa Ramadhan dengan Puasa Sunnah

02.33 Add Comment
Perbedaan Niat Puasa Ramadhan dengan Puasa Sunnah
Perbedaan Niat Puasa Ramadhan dengan Puasa Sunnah. Niat adalah rukun dalam beribadah termasuk ibadah puasa, perbedaan di antara keduanya adalah jika puasa Ramadhan niat berpuasa harus dilaksanakan sebelum terbit fajar, semakin dekat dengan terbit fajar semakin baik, apalagi jika diawali dengan makan sahur, karena apabila sampai terbit fajar belum niat maka tidak sah puasanya. Sedangkan untuk puasa sunnah, afdhalnya adalah sebelum terbit fajar sebagaimana niat puasa Ramadhan, tetapi dibolehkan niat puasa sunah sampai menjelang tergelincirnya matahari dengan syarat sejak terbit fajar sampai niat diucapkan belum melakukan kegiatan yang bisa membatalkan puasa.


Kemudian muncul masalah bagi daerah atau negeri yang tidak sama waktu siang dan malamnya. Para Ulama fiqih berbeda pendapat mengenai masalah ini dan dapat disimpulkan sebagai berikut :
  1. Menggunakan waktu setempat.
  2. Menggunakan waktu Makkah dan Madinah, karena di dua tempat inilah kelahiran agama islam dan termasuk daerah atau negeri yang stabil antara pergantian waktu siang dan malamnya.
  3. Menggunakan waktu daerah atau negeri yang terdekat, yang bergantian waktu malam dan siangnya termasuk sedang (cukup).

Puasa Sunnah Senin dan Kamis, Syawal, Arafah dan Asyura

02.26 Add Comment
Puasa Sunnah Senin dan Kamis, Syawal, Arafah dan Asyura
Puasa Sunnah Senin dan Kamis, Syawal, Arafah dan Asyura. Puasa Sunnah merupakan puasa yang dianjurkan untuk dikerjakan umat islam yang memiliki manfaat dan hikmah yang tidak kecil. Puasa sunnah merupakan ibadah yang tujuannya untuk melengkapi kekurangan yang mungkin ada ketika melakukan ibadah wajib.

Baca juga : Hikmah Ibadah Puasa dalam Kehidupan

Jenis-jenis puasa sunnah yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW antara lain :

1.Puasa setiap hari Senin dan Kamis
Puasa senin kamis adalah puasa sunnah yang dikerjakan pada hari senin dan kamis. Kedua puasa ini merupakan puasa mingguan. Artinya kedua puasa ini dapat dilakukan setiap minggu.

2.Puasa hari Arafah
Puasa Arafah adalah puasa sunnah yang dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijjah. Yang biasa disebut hari Arafah, yaitu hari yang diwajibkan bagi jama'ah haji pada hari itu untuk melakukan wukuf (berhenti) di padang Arafah.

3. Puasa 6 hari di bulan Syawal
4. Puasa hari Asyura (tanggal 10 Muharam)
5. Puasa di bulan Sya'ban
6. Puasa tengah bulan tahun Hijriyah
7. Puasa Dawud adalah puasa sehari dan tidak puasa sehari
8. Puasa bagi bujangan yang belum menikah

Arti Terjemahan Surat Al Fatihah Lengkap dengan Maknanya

06.31 Add Comment
Surat Al Fatihah

Arti Terjemahan Surat Al Fatihah Lengkap dengan Maknanya

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Tuhan Semesta alam yang senantiasa memberi banyak kenikmatan. Sholawat serta salam kita tujukan pada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang sangat kita harapkan syafaatnya di hari akhir nanti.

Surat Al Fatihah termasuk dalam surat makkiyah yaitu surat yang diturunkan di Mekkah. Surat Al Fatihah merupakan surat pertama dalam Al Qur an atau disebut sebagai surat pembuka. Surat Al fatihah Terdiri dari atas 7 ayat.

Hafal terhadap surat Al Fatihah merupakan kewajiban seorang setiap orang yang mengerjakan ibadah sholat, baik ketika sholat sendiri, atau sebagai makmum ataupun sebagai Imam harus mengerti dan paham Surat Alfatihah. Karena jika tidak membaca surat Al Fatihah maka sholatnya tidak sah

Nabi kita, sang suri tauladan kita yaitu Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang melakukan sholat, sedang ia tak membaca Ummul Qur’an (Al-Fatihah) di dalamnya, maka sholatnya kurang (3X), tidak sempurna”. Abu Hurairah ditanya, “Bagaimana kalau kami di belakang imam”. Beliau berkata, “Bacalah pada dirimu (yakni, secara sirr/pelan), karena sungguh aku telah mendengar Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Allah -Ta’ala- berfirman, “Aku telah membagi Sholat (yakni, Al-Fatihah) antara Aku dengan hamba-Ku setengah, dan hamba-Ku akan mendapatkan sesuatu yang ia minta”. [HR. Muslim (395), Abu Dawud (821), At-Tirmidziy (2953), An-Nasa’iy (909), dan Ibnu Majah (838)]


Terjemahan Surat Al Fatihah Lengkap dengan Maknanya

Bagi kamu yang ingin memahami surat Al Fatihah lebih dalam, di bawah ini kami sajikan surat Al Fatihah dalam bahasa arab dan juga latin lengkap dengan terjemahan dan penjelasan makna lebih dalam. Semoga Alloh SWT mengizinkan kita memahami ayat-ayat suci di bawah ini :

1.

Latin : Bismillah Hirrahman Nirrahim

Artinya : Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Maksud dari ayat pertama ini adalah : saya memulai membaca al-Fatihah ini dengan menyebut nama Allah. Setiap pekerjaan yang baik, hendaknya dimulai dengan menyebut asma Allah, mulai dari pekerjaan ringan seperti makan, minum, bepergian, belajar, dan sebagainya. Allah adalah nama zat yang Maha Suci, yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya, yang tidak membutuhkan makhluk-Nya, tapi makhluk yang membutuhkan-Nya. Ar-Rahmaan (Maha Pemurah): salah satu nama Allah yang memberi pengertian bahwa Allah melimpahkan karunia-Nya kepada makhluk-Nya, sedang ar-Rahiim (Maha Penyayang) memberi pengertian bahwa Allah senantiasa bersifat rahmah yang menyebabkan Dia selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya.

2.

Latin : alhamdu lillaahi rabbil aalamiina

artinya : Segala puji {2} bagi Allah, Tuhan semesta alam. {3}

Maksud ayat kedua surat Al Fatihah adalah : {2} Alhamdu (segala puji). Memuji orang adalah karena perbuatannya yang baik yang dikerjakannya dengan kemauan sendiri. Maka memuji Allah berarti: menyanjung-Nya karena perbuatan-Nya yang baik. Lain halnya dengan syukur yang berarti: mengakui keutamaan seseorang terhadap ni’mat yang diberikannya. Kita menghadapkan segala puji bagi Allah ialah karena Allah sumber dari segala kebaikan yang patut dipuji.

{3} Rabb (Tuhan) berarti: Tuhan yang ditaati Yang Memiliki, Mendidik dan Memelihara. Lafadz “rabb” tidak dapat dipakai selain untuk Tuhan, kecuali kalau ada sambungannya, seperti rabbul bait (tuan rumah). ‘Alamiin (semesta alam): semua yang diciptakan Tuhan yang terdiri dari berbagai jenis dan macam, seperti: alam manusia,alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati dan sebagainya. Allah pencipta semua alam-alam itu.

3.

Latin : arrahmaanirrahiim

Artinya : Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Untuk ayat ketiga dalam surat Al FAtihah ini maksudnya hampir sama dengan ayat pertama, Ar-Rahmaan (Maha Pemurah): salah satu nama Allah yang memberi pengertian bahwa Allah melimpahkan karunia-Nya kepada makhluk-Nya, sedang ar-Rahiim (Maha Penyayang) memberi pengertian bahwa Allah senantiasa bersifat rahmah yang menyebabkan Dia selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya.

4.

latin : maaliki yawmiddiin

Artinya : Yang menguasai {4} di Hari Pembalasan {5}

{4 }Maalik (Yang Menguasai) dengan memanjangkan “mim”, yang berarti: pemilik. Dapat pula dibaca dengan (dengan memendekkan mim), artinya: Raja.

{5} Yaumiddin (hari pembalasan): hari yang di waktu itu masing-masing manusia menerima pembalasan amalannya yang baik maupun yang buruk. Yaumiddin disebut juga yaumulqiyaamah, yaumulhisaab, yaumuljazaa’ dan sebagainya.

5.

latin : iyyaaka na’budu wa-iyyaaka nasta’iin

Artinya : Hanya Engkaulah yang kami sembah {6}, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. {7}

{6} Na’budu diambil dari kata ‘ibaadat: kepatuhan dan ketundukkan yang ditimbulkan oleh perasaan terhadap kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang disembah, karena berkeyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya.

{7} Nasta’iin (minta pertolongan), terambil dari kata isti’aanah: mengharapkan bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga sendiri.

6.

Latin : ihdinaash shiraathaal mustaqiim

Artinya : Tunjukilah [8] kami jalan yang lurus,

[8] Ihdina (tunjukilah kami), dari kata “hidayaat”: memberi petunjuk ke suatu jalan yang benar. Yang dimaksud dengan ayat ini bukan sekedar memberi hidayah saja, tetapi juga memberi taufik.

7.

Latin : shiraathalladziina an’amta ‘alayhim ghayril maghdhuubi ‘alayhim walaadhdhaalliin

Artinya : (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. {9}

{9} Yang dimaksud dengan “mereka yang dimurkai” dan “mereka yang sesat” ialah semua golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.

Semoga artikel islami yang berisi mengenai terjemahan surat Al Fatihah beserta maksudnya di atas bisa bermanfaat bagi kita semua.
Semoga Allah senantiasa memberi kita ilmu-ilmu yang bermanfaat bagi dunia dan Akhira, dan melindungi kita dari ilmu-ilmu yang tidak bermenfaat dan menyesatkan. Aamiin.

Wabillahi taufik wal hidayah, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

referensi : alquran-indonesia.com