Tampilkan postingan dengan label kisah hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah hikmah. Tampilkan semua postingan

Kisah Nyata Seorang Dokter Berdialog dengan Pasien Sakaratul Maut

01.27 Add Comment
Setiap manusia pasti akan mengalami yang namanya kematian. Sebelum kematian itu datang, seseorang akan menghadapi sakaratul maut, yaitu detik-detik menegangkan dan menyakitkan sebelum seseorang benar-benar meninggal. Dikutip dari laman Syahida dan dirilis kembali oleh saya, seorang dokter yang bernama Dr Khalid Al-Jubair di Arab Saudi, beliau pernah mengalami pengalaman yang menakutkan, di mana beliau pernah berbicara sama orang yang sedang menghadapi sakaratul maut.

Kisah Nyata Dokter Berdialog dengan Pasien Sakaratul Maut

Kisah Nyata Seorang Dokter Berdialog dengan Pasien Sakaratul Maut

Dr.Khalid Al- Jubair merupakan seorang ahli bedah jantung di Arab Saudi, menceritakan kejadian yang menakutkan yang dialami beliau ketika berbincang dengan pasiennya yang lagi sekarat.
Pada suatu hari seorang perawat menelepon Dr Khalid bahwa ada pasien yang infusnya tidak berjalan dengan baik pada tangan sebelah kanannya, konsekuensinya harus dipindahkan ke tangan sebelah kiri pasien.

Dr Khalid lalu menghampiri pasien tersebut, yang sudah dirawat di rumah sakit selama 6 bulan.
Pada 5 bulan pertama pasien tersebut masih berbincang-bincang dengan Dr Khalid, dan pada bulan keenam, pasien itu pingsan secara total dan tidak bisa bergerak sama sekali.
Maka didatangilah pasien tersebut oleh Dr Khalid, beliau mengecek tangan sebelah kirinya untuk mencari urat untuk dimasukkan infus.

Tiba-tiba beliau dikagetkan ketika pasien yang tak sadarkan diri itu berbicara dengannya.
"Dr.Khalid apa yang akan anda lakukan? Apakah anda Dr.Khalid?" kata pasien tersebut.

"Ya betul saya adalah Dr.Khalid." jawab Dr Khalid.

"Apa yang akan anda lakukan?" tegas pasien itu. 

"Saya akan mencari urat tangan kiri kamu untuk memasukkan infus," kata sang dokter.

Terus pasien itu berkata, "Tidak! Anda tidak akan menemukan urat tersebut karena saya sudah mati (menjadi mayat)."

"Tidak anda bukan mayat," tegas Dr. Khalid.

Terus pasien tersebut berkata, "Wahai dokter! Aku sudah menjadi mayat."

"Tidak! anda bukan mayat," Dr Khalid menjawab dengan tegas.

"Wahai dokter saya sudah menjadi mayat, saya melihat apa yang tidak anda lihat. Sungguh saya sedang melihat malaikat maut berada tepat di depan saya sekarang," kata pasien tersebut.

Tangan pasien itu masih berada di genggaman Dr Khalid, dan kemudian dia teringat dengan salah satu hadist yang shohih dari Al-Barro' bin adzib radhiyallahu'anhu, di mana Rasulullah SAW telah bersabda, " Apabila salah seorang dari kalian menghadap akhirat dan meninggalkan dunia (sakaratul maut) dan ia tergolong orang yang sholeh maka ia akan melihat (sejauh mata memandang), para malaikat yang putih wajahnya. Mereka adalah para malaikat ramah dan ia akan melihat kedudukannya didalam surga." 

Selama kurang lebih dari 30 tahun pengabdiannya di rumah sakit, Dr Khalid pernah mengalami kejadian serupa, di mana beliau telh melihat tiga orang yang menghadapi sakaratul maut, sebelum mereka meninggal.

"Wahai dokter janganlah kamu membuat cape dirimu, sungguh saya telah melihat kedudukanku di surga dan para bidadari telah disiapkan untukku," kata salah satu pasien pertama yang sekarat.
"Bahwa sesunguhnya aku telah mencium aroma surga sekarang," ujar pasien sekarat yang kedua.

"Sungguh saya melihat surga sekarang," kata pasien ketiga yang sekarat.

Didalam ilmu medis, manusia yang sedang menghadapi sakaratul maut dia tidak akan bisa berbicara ataupun bergerak.

Tetapi, pengalaman yang diceritakan Dr Khalid benar-benar sangat mengejutkan, di mana beliau mampu berbicara dengan orang yang sedang sekarat dan mengetahui apa yang dihadapi oleh seseorang yang diambang kematian.

Ibnu Abi Ad-Dunya rahimahullah meriwayatkan dari Syaddad bin Aus Radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Kematian adalah kengerian yang paling dahsyat di dunia dan akhirat bagi orang yang beriman. Kematian lebih menyakitkan dari goresan gergaji, sayatan gunting, panasnya air mendidih di bejana.

Seandainya ada mayat yang dibangkitkan lalu menceritakan kepada penduduk dunia tentang sakitnya kematian, niscaya penghuni dunia tidak akan nyaman dengan hidupnya dan tidak nyenyak didalam tidurnya."

Semoga kisah nyata ini mengingatkan kepada kita bahwa sebagai manusia, suatu saat nanti pasti kita akan mengalami yang namanya kematian. Oleh karena itu, sebelum kematian itu tiba kepada kita dan semua pintu amal tertutup, marilah kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Saat Putra Sayyidina Umar Diejek Teman-temannya

05.37 Add Comment
Saat Putra Sayyidina Umar Diejek Teman-temannya
Saat Putra Sayyidina Umar Diejek Teman-temannya
Keluarga Khalifah Umar bin Khattab memiliki pola hidup sederhana. Saking sederhananya, konon kendati menjabat sebagai khalifah di Mekah, pakaian yang dikenakannya memiliki empat belas tambalan. Salah satunya ditambal dengan kulit kayu.

Suatu ketika usai pulang sekolah, Abdullah bin Umar menangis di hadapan ayahnya, Umar bin Khattab. Umar pun bertanya, “Kenapa engkau menangis, anakku?”

"Teman-teman di sekolah mengejek dan mengolok-olokku karena bajuku penuh dengan tambalan. Di antara mereka mengatakan, ‘Hai Kawan-kawan, perhatikan berapa jumlah tambalan putra Amirul Mukminin itu’," ungkap Ibnu Umar dengan nada sedih.

Setelah mendengar curhatan putranya, Amirul Mukminin langsung bergegas menuju baitul mal (kas negara) dengan maksud akan meminjam beberapa dinar untuk membelikan baju anaknya. Karena tidak bertemu dengan pejabat bagian kas negara, ia pun menitipkan surat kepada penjaga kas negara tersebut yang isinya sebagai berikut:

"Dengan surat ini, perkenankanlah aku meminjam uang kas negara sebanyak 4 dinar sampai akhir bulan, pada awal bulan nanti, gajiku langsung dibayarkan untuk melunasi utangku."

Setelah pejabat kas negara membaca surat pengajuan utang itu, dikirimlah surat balasan:

”Dengan segala hormat, surat balasan kepada junjungan khalifah Umar Bin Khatab. Wahai Amirul Mukminin mantapkah keyakinanmu untuk hidup sebulan lagi, untuk melunasi utangmu, agar kamu tidak ragu meminjamkan uang kepadamu. Apa yang Khalifah lakukan terhadap uang kas negara, seandainya meninggal sebelum melunasinya?

Selesai membaca surat balasan dari pejabat kas negara, Khalifah pun langsung menangis, dan berseru kepada anaknya:

“Hai anakku sungguh aku tidak mampu membelikan baju baru untukmu dan berangkatlah sekolah seperti biasanya, sebab aku tidak bisa meyakinkan akan pertambahan usiaku sekalipun hanya sesaat.” Anak itu pun menangis mendengar ujar ayahnya. (Ahmad Rosyidi)

(Disarikan dari Kitab Durrtun Nashihin fil Wa'dhi wal Irsyad karya Utsman bin Hasan al-Khubawi)

Kisah Inspiratif Tiga Santri dan Sopir Mobil Sayur

05.58 Add Comment
Kisah Inspiratif Tiga Santri dan Sopir Mobil Sayur
Kisah Inspiratif Tiga Santri dan Sopir Mobil Sayur
Dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga." (H.R Muslim).

Kiranya, bukan hanya jalan ke surga yang dimudahkan oleh Allah. Percayalah, Allah juga akan memudahkan jalan kita saat akan berangkat menuju tempat mencari ilmu.

Kejadian menarik dikisahkan keponakan saya yang bernama Heru. Dia nyantri di salah satu pesantren di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Saat itu, dia bersama kedua teman kobongnya yang bernama Azis dan Jalal ingin sekali menghadiri pengajian di pesantren KH. Uci Turtusi, Cilongok, Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang. Kebetulan di pengajian Ki Uci juga akan digelar haulan Syeh Abdul Qodir Jailani. Keinginan mereka bertiga pun kian membuncah. Namun apa daya, mereka hanya santri bale rombeng yang tidak punya banyak uang dan tidak punya kendaraan.

Namun, keterbatasan fasilitas dan biaya ternyata tidak menyurutkan langkah mereka. Ketiganya tetap nekat berangkat ke pengajian Ki Uci meski hanya bermodalkan uang Rp10 ribu. Uang itu tentu tidak cukup untuk sekadar ongkos. Apalagi jarak pesantren mereka dengan pesantren Ki Uci sangat jauh. Tapi begitulah, kekuatan hati mengalahkan segalanya. Bakda Isya, mereka pun berangkat.

Cukup jauh mereka berjalan kaki. Cucuran keringat sudah berkali-kali mereka seka dengan sarung. Tidak terasa 3 jam sudah mereka berjalan kaki. Salah satu dari mereka usul agar uang Rp 10 ribu dibelikan air minum. Wajar, berjalan kaki selama lebih kurang 3 jam pasti membuat dahaga.

Namun sayang seribu sayang, uang Rp 10 ribu hilang entah kemana. Mungkin jatuh saat Heru berkali-kali menyeka keringat dengan sarung. Persoalannya, uang itu dia simpan di gulungan sarung. Alih-alih menghardik Heru, kedua temannya justru tertawa atas kejadian raibnya uang. Seketika itu haus mereka hilang. Mereka pun melanjutkan perjalanan.

Ujian dimulai, menjelang tengah malam, tiba-tiba turun hujan. Posisi mereka yang sudah berada di jalan raya menyulitkan mereka mencari tempat berlindung dari hujan. Kendaraan yang lalu lalang pun semakin jarang. Terpaksa, di bawah guyuran hujan, mereka terus melanjutkan perjalanan. Beruntung, beberapa saat kemudian mereka menemukan tempat berteduh.

Di sebuah bangunan tua tak berpenghuni mereka istirahat sambil menunggu hujan minggat. Rokok yang tinggal sebatang mereka nikmati bersama. Mereka mengisi waktu dengan membaca solawat. Tidak ada sedikit pun niat mereka menghentikan perjalanan. Meski diakui posisi yang sudah di tengah menjadi salah satu pertimbangan. "Mau gimana lagi? Balik lagi ke kobong juga sudah sangat jauh. Duit juga sudah hilang. Ya sudah pasrah saja sama Allah," kata Heru bercerita.

Setelah satu jam, hujan reda. Perjalanan kembali dimulai. Jalanan becek dan beberapa genangan air diakui membuat perjalanan mereka kian melelahkan. Apalagi angin kencang membuat mereka menggigil kedinginan. Sebab, baju mereka memang sudah kebasahan.

Tiba-tiba lewat mobil pikap warna hitam. Mobil itu berhenti di depan mereka. Sang sopir keluar lalu menghampiri ketiganya. Sopir bertanya kepada mereka tentang tujuan mereka. Setelah diceritakan, sang sopir memberi mereka tumpangan. Sebelumnya sang sopir meminta maaf karena hanya bisa memberi tumpangan di bak barang. Karena di depan sudah ada beberapa karung kentang.

Meski duduk di belakang dan digabungkan dengan aneka sayuran, ketiga santri itu tetap bersyukur. Mereka yakin pertolongan Allah telah datang.

Tidak berapa lama, sopir menghentikan mobilnya di sebuah minimarket 24 jam. Sang sopir masuk ke minimarket dan belanja beberapa barang. Tidak disangka, ternyata sopir juga membelikan santri itu banyak makanan dan minuman. Bukan main senangnya santri-santri itu. Setelah dari minimarket sopir melanjutkan perjalanannya. Sementara ketiga santri menikmati perjalanan sambil menikmati makanan. Tidak lupa mereka tetap membaca solawat sepanjang perjalanan.

Tiba di persimpangan, sopir kembali menghentikan laju kendaraannya. Sopir turun dan menghampiri tukang ojek. Sedangkan ketiga santri hanya duduk di bak mobil menunggu apa yang akan selanjutnya terjadi.

Setelah beberapa menit berbincang dengan tukang ojek, sopir menghampiri santri dan berkata "Maaf, saya tidak bisa mengantar sampai tujuan. Pesantren Ki Uci belok ke sana. Sedangkan saya lurus mau ke Pasar Cikupa. Naik ojek saja ya. Tenang, ojek sudah saya bayar semua," kata sang sopir.

Ketiga santri pum hanya bisa bengong. Mereka kagum dengan kemurahan hati sopir itu. Hanya ucapan terimakasih yang bisa mereka katakan.

Sebelum berpisah, sopir itu kembali menunjukkan kebaikannya. Sang sopir memberi uang kepada ketiga santri itu sebesar Rp 600 ribu. " Nih, buat makan. Kalau ojek mah sudah saya bayar," kata sopir itu sambil menyerahkan uang dengan cara bersalaman.

Kemurahan hati sang sopir membuat hati ketiga santri itu tergetar. Ketiganya tidak kuasa menahan air mata. Mereka semakin yakin, Allah bersama orang-orang yang mencari ilmu.

Sebelum berpisah, salah satu santri bertanya kepada sopir itu. "Mang, mamang ini siapa? Orang mana?," tanya santri.

Sopir hanya menjawab "Saya hanya sopir tukang sayur," ujarnya singkat sambil berlalu pergi. Santri pun akhirnya bisa mengikuti pengajian Ki Uci.

Romdoni, Jurnalis Tangerang Ekspres (Jawa Pos Group)


http://www.nu.or.id/

Bertawasul ke Imam al-Ghazali, Barang Hilang Pun Ketemu

05.52 Add Comment
Bertawasul ke Imam al-Ghazali, Barang Hilang Pun Ketemu
Bertawasul ke Imam al-Ghazali, Barang Hilang Pun Ketemu
Seorang pemuda asal Tegal berusia kira-kira 36 tahun, sebutlah namanya Udin (nama samaran), hari itu sedang dilanda kebingungan. Di saat usaha membuka warung sembako yang dirintis bersama istrinya belum benar-benar stabil dan menunjukkan perkembangan yang berarti, tiba-tiba sejumlah uang yang selama ini mereka kumpulkan dari hasil berdagangnya itu hilang entah di mana. Padahal Udin belum punya rumah sendiri, melainkan masih ikut tinggal di rumah mertuanya di Cirebon.

Sebab utama kebingungan Udin sebenarnya bukan karena uangnya yang hilang. Tetapi lantaran dia masih tinggal seatap dengan mertuanya, tentu saja orang tua istrinya itu mempersoalkan dan menyayangkan atas kejadian hilangnya uang tersebut. Apalagi mertuanya juga menuntut kepada Udin bagaimana caranya supaya dapat menemukan uang yang raib itu. Ayah istrinya itu seakan menekan Udin yang merupakan santri alumni pesantren agar menunjukkan kemampuannya dalam soal ini. Merasa ditantang demikian, Udin akhirnya menyanggupi dan berjanji akan dapat menemukan uangnya dalam waktu seminggu.

Itulah pemantik kebingungan Udin, yaitu terpaksa menyanggupi dan menjanjikan kepada mertuanya akan dapat menemukan kembali uangnya. Padahal meski dia alumni pesantren tapi ia merasa tak memiliki kemampuan layaknya orang pintar yang diidentikkan mempunyai kemampuan supra natural. Kendati menyadari tak memiliki kecakapan demikian, tidak lantas Udin pergi ke dukun atau paranormal. Udin tetap berusaha berpikir dan mencari solusinya sendiri.

Jauh sebelum Udin menikah dua tahunan lalu, dia yang juga menjadi guru honorer di sebuah sekolah formal ini merupakan seorang yang dikenal sangat gandrung (sangat menyukai) dengan kajian agama dalam kitab Ihya' Ulumudin karya Imam Al-Ghazali. Dia berusaha sebisa mungkin agar perilaku hidupnya, terutama dalam bidang muamalah bisa berkesesuaian dengan ajaran Imam Ghazali yang tertuang dalam Ihya' tersebut. Maka sebagai konsekuensinya Udin ketika menjalankan suatu pekerjaan atau usaha dirinya sangat berhati-hati, tidak asal mendapat untung dan penghasilan besar. Tapi diperhatikan betul apakah bisnis atau jual beli yang ia jalani misalnya, telah sesuai dengan ketentuan fiqih atau justru melanggar.

Akhirnya Udin bertawasul (berdoa dengan perantara, red) kepada Imam Ghazali. Lalu curhat kepada Imam Ghazali tentang problem yang sedang dialaminya. Sebagai orang yang telah memiliki bekal ilmu Tauhid yang memadai, tentu Udin sudah paham mana hal-hal yang dikategorikan perbuatan syirik dan mana perbuatan yang diperbolehkan syariat.

Ajaibnya, beberapa waktu setelah tawassul dan curhat kepada Imam Ghazali (dengan caranya sendiri), uang yang sebelumnya hilang itu sudah berada kembali di tempat penyimpanannya semula. Tidak diketahui siapa yang mengembalikan uang itu di tempat asalnya. Setelah dihitung ternyata jumlahnya sama, tidak berkurang. Udin riang gembira, walau sebelumnya janji akan dapat menemukan kembali uangnya dalam jangka satu pekan sebetulnya karena terpaksa dan nekad saja—barangkali demi menjaga harga diri. Kini ucapanya itu benar-benar terbukti. Sejak itu Udin mulai diperhitungkan oleh mertuanya.

Menurut pandangan Udin keajaiban yang dialaminya itu bukanlah jenis amalan klenik atau mistik, tetapi merupakan suatu kejadian biasa saja yang logis serta dapat dirasionalkan. Dia meyakini bahwa meski sudah wafat ratusan tahun lalu bahkan lebih lama lagi dari itu, arwah para "wali" termasuk Imam Al-Ghazali masih hidup dan dapat mendengar komunikasi orang yang masih hidup saat ini.

Tak hanya itu, lulusan dari salah satu pesantren di Babakan Cirebon ini meyakini ketika seseorang membaca kitab karya para wali tersebut, berarti pembaca sedang berdialog dengan "ruh" pengarang kitab itu dalam arti sesungguhnya.

Saat pembaca mengarungi samudera pemikiran ulama melalui kitabnya, hakikatnya dia tidak sedang berhadapan hanya dengan benda mati berupa kertas bertinta hitam yang berjilid, tapi juga berhadapan dengan "ruh" penulisnya. Kian intens dan seringnya pembaca dalam menelaah pemikiran ulama-auliya' sehingga memperoleh pemahaman yang mendalam, maka makin akrab dan kian kenal pula dengan penulisnya. Dari situ terjalinlah hubungan sepritual melalui pengenalan yang intens saat mengkaji karangannya.

Pandangan Udin di atas menurut penulis artikel ini sangat kompatibel jika dikaitkan dengan adab seorang pembelajar dalam tradisi pesantren yang begitu mengagungkan kitab karangan ulama seperti misalnya imbauan supaya dalam keadaan punya wudhu saat pelajar memegang kitab, tidak boleh ditaruh di tempat yang rendah sehingga terlangkahi, tidak boleh ditaruh di atas kitab sesuatu barang dan etika lainnya. Penghormatan yang tinggi demikian karena tulisan ulama-aulia' tidak sekadar berupa kumpulan kertas dan tinta, melainkan juga terdapat "jiwa" pengarangnya.

Di samping itu dalam konteks hubungan buku dan pengarangnya pandangan Udin tersebut jauh lebih filosofis dibandingkan pernyataan sastrawan Pramoedya Ananta Toer misalnya yang pernah mengatakan bahwa semua buku hasil karanganya tak lain adalah anak-anak rohaninya yang mempunyai sejarahnya masing-masing.


* Ditulis oleh M. Haromain, berdasarkan penuturan kawan informan dari Plered Cirebon belum lama ini.


http://www.nu.or.id/

Kisah Ulama Berhaji Tanpa ke Tanah Suci

05.55 Add Comment
Kisah Ulama Berhaji Tanpa ke Tanah Suci
Perjalanan haji Abdullah bin Mubarak ke Tanah Suci terhenti kala ia sampai di kota Kufah. Dia melihat seorang perempuan sedang mencabuti bulu itik dan Abdullah seperti tahu, itik itu adalah bangkai.

"Ini bangkai atau hasil sembelihan yang halal?" tanya Abdullah memastikan.

"Bangkai, dan aku akan memakannya bersama keluargaku."

Ulama hadits yang zuhud ini heran, di negeri Kufah bangkai ternyata menjadi santapan keluarga. Ia pun mengingatkan perempuan tersebut bahwa tindakannya adalah haram. Si perempuan menjawab dengan pengusiran.

Abdullah pun pergi tapi selalu datang lagi dengan nasihat serupa. Berkali-kali. Hingga suatu hari perempuan itu menjelaskan perihal keadaannya.

"Aku memiliki beberapa anak. Selama tiga hari ini aku tak mendapatkan makanan untuk menghidupi mereka."

Hati Abdullah bergetar. Segera ia pergi dan kembali lagi bersama keledainya dengan membawa makanan, pakaian, dan sejumlah bekal.

"Ambilah keledai ini berikut barang-barang bawaannya. Semua untukmu."

Tak terasa, musim haji berlalu dan Abdullah bin Mubarak masih berada di Kufah. Artinya, ia gagal menunaikan ibadah haji tahun itu. Dia pun memutuskan bermukim sementara di sana sampai para jamaah haji pulang ke negeri asal dan ikut bersama rombongan.

Begitu tiba di kampung halaman, Abdullah disambut antusias masyarakat. Mereka beramai-ramai memberi ucapan selamat atas ibadah hajinya. Abdullah malu. Keadaan tak seperti yang disangkakan oran-orang. "Sungguh aku tidak menunaikan haji tahun ini," katanya meyakinkan para penyambutnya.

Sementara itu, kawan-kawannya yang berhaji menyuguhkan cerita lain. "Subhanallah, bukankah kami menitipkan bekal kepadamu saat kami pergi kemudian mengambilnya lagi saat kau di Arafah?"

Yang lain ikut menanggapi, "Bukankah kau yang memberi minum kami di suatu tempat sana?"

"Bukankah kau yang membelikan sejumlah barang untukku," kata satunya lagi.

Abdullah bin Mubarak semakin bingung. "Aku tak paham dengan apa yang kalian katakan. Aku tak melaksanakan haji tahun ini."

Hingga malam harinya, dalam mimpi Abdullah mendengar suara, "Hai Abdullah, Allah telah menerima amal sedekahmu dan mengutus malaikat menyerupai sosokmu, menggantikanmu menunaikan ibadah haji." Demikian diceritakan kitab An-Nawâdir karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Qulyubi. (Mahbib)

http://www.nu.or.id/

Kisah Berangkat Haji Gratis, Berkah Ngaji Fiqih Haji

05.51 Add Comment
Kisah Berangkat Haji Gratis, Berkah Ngaji Fiqih Haji
Subang, NU Online
Ada banyak cara Allah 'mengundang' hamba-Nya dalam menunaikan ibadah haji, di antaranya adalah sebagaimana kisah yang dialami oleh KH Endang Jamaludin sekitar tahun 2006 yang lalu. Sebelumnya, pengasuh Pesantren Uswatun Hasanah Empangsari, Purwadadi, Subang, Jawa Barat ini tak pernah terpikirkan bisa menunaikan rukun Islam yang kelima itu.

"Suatu hari Kang Endang ngisi pengajian di salah satu majelis ta'lim asuhannya, dalam pengajian itu Kang Endang ngaji bab haji sangat detail sekali," ungkap salah seorang adik KH Endang Jamaludin, Totoh Bustanul Arifin di Pesantren Miftahul Fata, Panyingkiran, Purwadadi, Subang. Jumat (9/9)

Usai pengajian, kata dia, salah seorang jamaah yang bernama Haji Ayat Hidayat sedikit penasaran. Tanpa pikir panjang kemudian ia menghampiri Kiai Endang dan keduanya berdialog seputar haji. Pertanyaan Haji Ayat yang dianggap cukup menohok oleh Kiai Endang adalah “Kiai Endang sudah berapa kali haji?”

"Karena belum pernah haji, Kang Endang jawab apa adanya, ‘belum pernah sekali pun’," kata Kang Toto yang saat ini menjadi Ketua Pagarnusa Subang itu.

Ditambahkannya, Haji Ayat sedikit kaget karena belum pernah menunaikan ibadah haji tapi Kiai Endang mampu menjelaskan kegiatan ibadah haji dengan begitu detailnya.

"Memangnya Kiai nggak mau berangkat haji?" Kata Kang Toto meniru pertanyaan Haji Ayat kepada Kiai Endang.

"Ya mau asal semuanya ditanggung Pak Haji Ayat," jawab Kiai Endang saat itu dengan nada bercanda.

Ternyata, tambah Kang Toto, Haji Ayat meresponnya dengan serius dan menjanjikan akan membiayai Kiai Endang untuk menunaikan ibadah haji berikut semua keperluan selama haji dengan catatan apabila tanah yang saat itu sedang dipromosikan laku di atas 300 juta.

Beberapa hari kemudian tanah milik Haji Ayat tersebut ternyata laku di atas 500 juta. Akhirnya Kiai Endang berangkat haji bersama delapan saudara Haji Ayat. (Aiz Luthfi/Mahbib)

http://www.nu.or.id/

Percakapan 2 Malaikat tentang Segelintir Jemaah Haji yang Diterima Allah

05.48 Add Comment
Percakapan 2 Malaikat tentang Segelintir Jemaah Haji yang Diterima Allah
Di kalangan masyarakat Indonesia, ada sebagian masyarakat yang memandang bahwa ibadah haji merupakan ibadah yang prestisius, ibadah yang memberikan dampak pelaksananya mendapatkan gelar di depan namanya, ibadah yang membutuhkan dana tidak sedikit. Tidak seperti shalat, puasa dan zakat, pelaku ibadah ini tidak mendapat gelar khusus di tengah masyarakat sebagaimana ibadah haji. 

Lalu, apakah setiap orang yang haji itu akan diterima Allah SWT? Berikut kisah Ali Ibn Mauqif dalam pengalaman spiritualnya sebagaimana yang diceritakan Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin.

Diriwayatkan dari Ali ibn Mauqif, ia berkisah, “Saya pernah menjalankan ibadah haji dalam satu tahun. Ketika malam Arafah tiba, saya tidur di masjid Al Khaif, Mina. Dalam tidur itu, saya bermimpi bertemu dengan dua sosok malaikat turun dari langit. Keduanya mengenakan pakaian serba hijau”.

Malaikat yang satu bertanya kepada yang lain “Wahai hamba Allah”.

“iya, ada apa hamba Allah?”

“Tahukah anda berapa orang yang haji, mengunjungi Baitullah pada tahun ini?”

“Tidak, saya tak tahu”

“Yang datang berkunjung ke Baitullah tahun ini ada 600 ribu orang.”

“Lalu, anda tahu berapa di antara mereka yang diterima ibadahnya oleh Allah SWT?

“Tidak”

“Yang diterima hajinya hanya enam orang”

Setelah bercakap-cakap, kedua malaikat tersebut kemudian naik ke atas, hilang lenyap dari pandangan. Saya pun terbangun dari tidur. Saya menjadi begitu sangat sedih. Saya dibuat bingung merasakan kejadian ini. Yang saya pikirkan kala itu, andai saja yang diterima itu hanya enam orang, apa mungkin saya masuk pada enam orang itu?

Setelah selesai dari Arafah, saya kemudian berdiri di samping masy’aril haram (Muzdalifah). Saya berpikir keras, memikirkan tentang nasib orang yang sebanyak ini namun hanya diterima enam orang saja. Hingga saya diserang kantuk dan tertidur. Tiba-tiba kedua malaikat itu datang kembali, turun sesuai dengan style seperti dahulu saat mereka datang.

Satu malaikat bertanya kepada yang lain. Mereka berbincang-bincang sebagaimana yang dahulu pernah mereka bahas. Ada percakapan tambahan menarik dalam percakapan mereka kali ini. Satu malaikat bertanya “Apa yang anda tahu, bagaimana kebijaksanaan Tuhan kita malam ini?”

“Tidak”

Malaikat yang bertanya pada permulaan kali pembicaraan itu mengatakan “Sesungguhnya Allah telah memberikan anugerah atas masing-masing dari enam orang tersebut dibalas berupa 100 ribu orang lain yang sedianya tidak diterima menjadi diterima oleh Allah berkat enam orang yang diterimatersebut”. Saya pun kemudian terbangun dan bergembira tiada tara. (Ahmad Mundzir)

http://www.nu.or.id/

Saat Ahli Ibadah Kalah Tanding Melawan Iblis

05.42 Add Comment
Saat Ahli Ibadah Kalah Tanding Melawan Iblis
Di suatu daerah terdapat seorang yang dalam waktu cukup lama dikenal sebagai ahli ibadah (‘abid). Suatu hari sekelompok orang datang kepadanya seraya memberi tahu bahwa di sekitar tempat itu ada segolongan orang yang menyembah pohon, bukannya menyembah Allah. Mendengar informasi demikian, Sang ‘abid marah. Kemudian dia mengambil kapaknya dan pergi menuju pohon dimaksud untuk menebangnya.

Tetapi Iblis yang menampakkan dirinya sebagai seorang Syekh menghadang langkah si ahli ibadah.

"Ke mana kamu akan pergi,” tanya Iblis.

"Aku akan menebang pohon yang disembah itu,” kata si ahli ibadah.

"Apa kepentinganmu dengan pohon itu? Kamu telah meninggalkan ibadah dan kesibukanmu dengan dirimu sendiri, lalu kamu meluangkan waktu untuk selain itu,” selidik Iblis.

"Ini adalah bagian dari ibadahku juga,” jawab si ‘abid.

"Kalau begitu aku tidak akan membiarkanmu untuk menebangnya."

Lalu Iblis menyerang sang ahli ibadah. Tanpa kesulitan sang ‘abid berhasil mengalahkan Iblis, membantingnya ke tanah dan akhirnya dapat menduduki dadanya.

"Lepaskanlah aku, agar aku dapat berbicara kepadamu,” pinta Iblis.

Sang ‘abid pun berdiri. Lalu Iblis berkata:

"Wahai si ‘abid, sesungguhnya Allah telah melepaskan urusan ini darimu dan tidak mewajibkannya atasmu. Kamu tidak akan menanggung dosa orang lain. Allah pun mempunyai para nabi di segala penjuru bumi. Seandainya Allah menghendaki, niscaya dia akan mengutus mereka kepada para penyembah pohon ini dan memerintahkan mereka untuk menebangnya."

"Aku tetap harus menebangnya,” tutur ahli ibadah bersikukuh.

Iblis pun kembali menyerang si ‘abid. Namun kembali dengan mudah si ‘abid dapat mengatasi perlawanan Iblis, dibantingnya ke tanah lalu diduduki dadanya. Akhirnya Iblis tidak berdaya dan berkata kepada sang ‘abid:

"Apakah kamu mau menerima penyelesaian antara aku dan kamu yang lebih baik dan lebih bermanfaat bagimu.

"Apa itu?” Tanya sang ahli ibadah.

"Lepaskanlah aku suapaya aku dapat mengatakannya.”

Sang ‘abid pun melepaskannya. Lalu iblis berkata:

"Kamu adalah seorang laki-laki miskin. Kamu tidak memiliki apa-apa. Kamu hanyalah beban yang memberatkan manusia. Barangkali kamu akan berbuat baik kepada kawan-kawanmu, membantu tetangga-tetanggamu, dan tidak lagi membutuhkan orang lain.

"Benar,” si ‘abid mengiyakan.

"Pulang dan tinggalkanlah urusan ini. Setiap malam aku akan meletakkan dua dinar di bawah kepalamu. Saat pagi hari kamu bisa mengambilnya lalu membelanjakannya untuk dirimu dan keluargamu, serta menyedekahkan untuk teman-temanmu. Hal itu akan lebih bermanfaat bagimu dan bagi kaum muslimin ketimbang menebang pohon yang disembah ini. Apabila kamu menebangnya, hal itu tidak akan membahayakan mereka dan tidak pula memberi manfaat atas teman-teman muslim kamu,” ujar Iblis menjelaskan.

Sang ‘abid merenungkan apa yang diucapkan Iblis, lalu berkata, "Syekh ini benar. Aku memang bukanlah seorang nabi sehingga aku tidak wajib menebang pohon ini. Lagi pula Allah pun tidak memerintahkan aku untuk menebangnya sehingga aku tidak akan berdosa apabila membiarkannya. Dan apa yang disampaikannya memang lebih banyak manfaatnya.”

Setelah itu, Iblis bersumpah dan berjanji kepada sang ‘abid akan memenuhi komitmennya itu. Sang ‘abid pun pulang ke tempat ibadahnya. Pada pagi harinya dia melihat dua dinar di bawah kepalanya. Dia pun mengambilnya. Begitu pula pada keesokan harinya. Tetapi pada pagi hari ketiga dan pagi hari setelahnya dia tidak mendapati sesuatu apa pun. Merasa kecewa atas kejadian itu, ahli ibadah menjadi marah dan mengambil kapaknya. Iblis kembali menghadangnya dalam bentuk seorang Syekh.

"Mau ke mana kamu?”

"Aku akan menumbangkan pohon itu.”

"Demi Allah, kamu tidak akan mampu melakukannya. Dan kamu tidak akan mendapatkan jalan menuju pohon itu.”

Sang ‘abid menyergap Iblis sebagaimana ia melakukannya pada kejadian pertama.

"Tidak mungkin,” kata iblis.

Lalu Iblis membekuk sang ‘abid dan membantingnya. Dalam sekejap dia menjadi seperti burung kecil di antara dua kaki Iblis. Iblis duduk di atas dadanya dan berkata, "Berhentilah dari urusan ini. Apabila tidak, aku akan membunuhmu.”

Kini sang ‘abid tidak memiliki kekuatan untuk melawan Iblis.

"Wahai Syekh, kamu sekarang telah mengalahkanku. Lepaskanlah aku dan beritahukanlah kepadaku mengapa dulu aku bisa mengalahkanmu, tapi sekarang kamu yang mengalahkanku,” tanya ahli ibadah.

"Karena pada kali pertama kamu marah, kamu melakukan itu karena demi Allah, dan niatmu adalah akhirat sehingga Allah menundukkanku untukmu. Tetapi kali ini kamu marah demi dirimu sendiri dan demi dinar-dinar yang aku hentikan untukmu,” pungkas Iblis.

Demikian kurang lebihnya (bukan terjemahaan harfiah) salah satu cerita israiliyat yang dilansir oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumid Din jilid empat ketika sang Hujjatul Islam itu memaparkan tentang "Keutamaan Ikhlas" dengan analogi cerita. Bila kini banyak orang berusaha mengambil pelajaran dan iktibar melalui jalan membaca cerita-cerita fiksi yang dikarang para sastrawan, maka dengan tujuan yang sama kisah israiliyat juga tidak dapat dianggap remeh apalagi yang disajikan oleh tokoh sekaliber Imam Al-Ghazali yang kami yakini lebih hebat daripada para sastrawan-penyair masa kini . (M. Haromain)

http://www.nu.or.id/

Kisah Ulama 15 Tahun Pura-pura Tuli

05.47 Add Comment
Kisah Ulama 15 Tahun Pura-pura Tuli
Hatim Al-Asham merupakan salah seorang ulama besar yang wafat di Baghdad, Irak tahun 852 M atau 237 H. Terdapat sebuah kisah penuh hikmah yang mendasari kata ‘al-asham’, berarti tuli, yang menjadi julukannya, sebagaimana diriwayatkan Imam Ghazali dalam kitab Nashaihul Ibad.

Sejatinya Hatim tidak-lah tuli, hingga pada suatu hari, seorang wanita datang ke tempat Hatim untuk menanyakan sesuatu. Tak dinyana, ketika melontarkan pertanyaannya di hadapan Hatim, belum selesai ia bertanya, wanita tadi tak kuasa untuk menahan kentutnya.
Bunyinya terdengar jelas, hingga membuat ia salah tingkah dan terdiam. Di tengah kegalauan wanita itu, tiba-tiba Hatim berkata dengan suara keras.

“Tolong bicara yang keras! Saya tuli,”

Namun, yang bertanya justru bingung. Dalam kebingungannya, ia kembali dikagetkan dengan suara keras Hatim.

“Hai, keraskanlah suaramu, karena aku tidak mendengar apa yang kamu bicarakan,” teriak Hatim.

Wanita tadi kemudian menduga bahwa Hatim ini seorang yang tuli. Ia pun merasa sedikit lega, karena suara kentutnya tidak didengar Hatim. Suasana kembali menjadi cair. Ia pun kembali mengulang pertanyaannya.

Sejak saat itu, Hatim mendadak “menjadi tuli” dan bahkan ia melakukan hal tersebut selama wanita tadi masih hidup. Ya, demi menjaga perasaan dan kehormatan wanita itu, ia terus berpura-pura tuli selama 15 tahun. (Ajie Najmuddin)

http://www.nu.or.id/

Bau Busuk di Kuburan Sang Penegak Hukum

05.39 Add Comment
Bau Busuk di Kuburan Sang Penegak Hukum
Dalam kitab Nashâihul ‘Ibâd, Syaikh Nawawi al-Bantani mengungkap kisah seorang pencuri kain kafan dan seorang hakim dalam sebuah negara. Drama keduanya bermula ketika hakim yang dikenal sangat saleh itu merasakan detik-detik akhir usianya.

Sang hakim gundah, terutama soal nasibnya nanti selepas prosesi pemakaman dirinya: akankah kain kafannya selamat dari tindak pencurian sebagaimana banyak kasus yang menimpa tetangganya saat itu? Ia tahu siapa yang biasa melakukannya. Maka dipangillah tukang nyolong kain mayat tersebut.

“Aku telah menyiapkan sejumlah uang seharga kain kafanku. Ambilah, tapi tolong jangan koyak kuburanku.” Si pencuri kain kafan mendengarkan dengan baik pesan sang hakim. Ia menyanggupi permintaannya.

Si pencuri ternyata tak sungguh-sungguh memegang janjinya setelah hakim itu meninggal dunia. Di benaknya terlintas godaan mencuri kain kafan sang hakim. Istrinya sempat meredam niat buruknya ini, tapi gagal. Proses penggalian kubur pun berlangsung. Dalam aksi nekatnya inilah tukang curi kain kafan mendapatkan pengalaman ajaib.

Telinganya seperti mendengar suara dua malaikat. Ia seolah dibimbing merekam peristiwa yang tak lazim dapat ditangkap indra itu.

“Ciumlah bau kakinya (hakim),” ujar malaikat satu kepada yang lain.

“Tidak ada yang aneh. Dia tidak menggunakan kedua kakinya untuk maksiat.”

Penciuman terus berlanjut pada kedua tangan dan mata. Hasilnya sama. Tak ditemukan kejanggalan karena si hakim mampu menjaga tangan dan penglihatannya dari perbuatan haram. Malaikat lalu mulai memeriksa kedua telinga si hakim. Satu telinga masih luput dari masalah, tapi tidak untuk telinga bagian lain.

“Apa yang kau temukan?” tanya mailakat satu kepada yang lain.

“Sebuah bau busuk.”

“Kau tahu bau apa ini? Ini bau perbuatan si hakim yang cenderung mendengarkan satu pihak ketimbang yang lain dalam penyelesaian kasus sengketa dua pihak. Tiup!”

Begitu tiupan diembuskan, api tiba-tiba memenuhi kuburan. Dan sejak peristiwa itulah pencuri kain kafan mengalami kebutaan.

Syaikh Nawawi tak mencantumkan riwayat secara rinci perihal kisah dramatis ini. Beliau hanya menyebutnya berasal dari cerita sebagian ulama terdahulu. Syaikh Nawawi mengulasnya ketika menjelaskan balasan kehidupan setelah mati.

Cerita di atas setidaknya berpesan bahwa kerugian yang ditimbulkan oleh sikap tidak adil dalam penegakan hukum tak hanya menimpa pada orang lain tapi juga diri sendiri. Citra positif di mata orang lain sebagai orang saleh tak akan mampu mengapus risiko dan tanggung jawab akibat kebusukan perilaku yang disembunyikan. Bukankah pengadilan sebenarnya justru terjadi setelah kehidupan di dunia ini? (Mahbib)

http://www.nu.or.id/

Kucing Malang Pendatang Rahmat Allah

05.30 Add Comment
Kucing Malang Pendatang Rahmat Allah
Jasad Syekh Abu Bakr Asy-Syibli memang terkubur dalam tanah sejak tahun 946 silam. Tapi nasihat santri Imam Junaid al-Baghdadi ini seakan terus mengalir kepada generasi-generasi sesudahnya. Salah satunya lewat kisah dalam mimpi, sebagaimana terekam dalam kitab Nashaihul Ibad karya Syekh Nawawi al-Bantani.

Dalam sebuah mimpi seeseorang, Imam Asy-Syibli yang telah wafat itu ditanya Allah, “Kamu tahu, apa yang membuat-Ku mengampuni dosa-dosamu?”

“Amal shalihku.”

“Bukan.”

“Ketulusanku dalam beribadah.”

“Bukan.”

“Hajiku, puasaku, shalatku.”

“Juga bukan.”

“Perjalananku kepada orang-orang shalih dan untuk menimba ilmu.”

“Bukan.”

“Ya Ilahi, lantas apa?” tanya Imam Asy-Syibli.

Allah kemudian menjawabnya dengan mengacu pada kisah pertemuan Imam Asy-Syibli dengan seekor kucing di jalanan kota Baghdad. Kucing kecil itu loyo oleh ganasnya hawa dingin, menyudut ke suatu tempat, berharap kondisi bisa membaik.

Imam Asy-Syibli yang tergerak hatinya lantas memungut binatang malang itu, kemudian menghangatkannya di dalam jubah yang ia kenakan.

“Lantaran kasih sayangmu kepada kucing itulah, Aku memberikan rahmat kepadamu.”

Cerita hidup para sufi kerap menyibak hal-hal istimewa dari perkara-perkara yang tampak remeh. Sepele di mata manusia tak selalu rendah menurut Tuhan. Kisah di atas seolah mengajari kita tentang pentingnya sikap tawaduk atas segenap kesalehan ibadah betapapun hebatnya; juga keutamaan melembutkan hati dan mengulurkan bantuan, termasuk kepada binatang, apalagi manusia. (Mahbib)

http://www.nu.or.id/

Kabar dari Malaikat untuk Ahli Ibadah 70 Tahun

05.24 Add Comment
Kabar dari Malaikat untuk Ahli Ibadah 70 Tahun
Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali pernah bercerita dalam salah satu kitabnya, Ayyuhâl Walad, tentang seorang Bani Israil yang begitu taat beribadah kepada Allah. Hamba ini menunjukkan kesalehan tersebut hingga tujuh puluh tahun lamanya.

Suatu kali Allah mengutus Malaikat untuk memberi kabar kepadanya bahwa seluruh ibadah yang ia tunaikan itu tidak lantas membuatnya pantas masuk surga.

Saat pesan tersebut disampaikan, sang hamba ahli ibadah berujar, “Kami diciptakan Allah untuk beribadah maka sudah semestinya kami pun beribadah.”

Jawaban si hamba di atas selaras dengan bunyi ayat yang tercantum dalam Surat ad-Dzariyat ayat 56: “Wa mâ khalaqtul jinna wal insa illâ liya‘budûn (Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” Ahli ibadah itu tak menunjukkan tanda-tanda protes atas kabar dari malaikat, melainkan sekadar menjelaskan bahwa ibadah 70 tahun yang ia lakukan sejatinya hanyalah wujud dari pelaksanaan perintah Allah sendiri.

Malaikat pun kembali kepada Allah dan berkata, “Ya Ilâhi, Engkau lebih tahu apa yang ahli ibadah itu katakan.”

Allah menjawab, “Apabila dia tak berpaling dari ibadah kepadaku, maka dengan kemurahan-Ku Aku pun tak akan berpaling darinya. Saksikanlah wahai malaikatmmalaikat-Ku, sesungguhnya Aku telah mengampuninya.”

Ibadah sebesar apa pun memang tak akan bisa melunasi seluruh anugerah Allah kepada manusia, termasuk balasan surga. Ritual ibadah, betapapun intensifnya, masih terlalu murah untuk ditukar dengan semesta karunia yang tak terhitung: mulai dari kesehatan fisik, harta benda, keamanan, kemerdekaan, hingga kesempatan dan kemampuan beribadah itu sendiri. Hanya lantaran rahmat Allah-lah manusia layak meraih kemuliaan surgawi.

Namun demikian, hubungan tak sebanding antara ibadah manusia dan karunia Allah itu tak berarti mempersilakan setiap orang berbuat semaunya, lepas dari tanggung jawab ibadah. Sebab, “Siapa tak beramal, ia tidak memetik ganjaran,” kata Imam Al-Ghazali. Hal ini menunjukkan, rahmat Allah kepada hambanya menghendaki adanya ikhtiar manusia yang sedari awal dibekali hati dan nalar.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallâhu wajhah juga pernah bertutur, “Siapa mengira bahwa tanpa kerja keras ia berhasil maka sesungguhnya ia sedang melamun. Siapa menyangka bahwa dengan jerih payah ia berhasil maka sesungguhnya ia sedang berdoa menuju ‘kaya’.” (Mahbib)

http://www.nu.or.id/

Kisah Suara dari Kuburan Seorang Nenek yang Istiqamah Menghatamkan al-Qur`an

19.43 Add Comment
Kisah Suara dari Kuburan Seorang Nenek yang Istiqamah Menghatamkan al-Qur`an
Nenek tua renta ini bukanlah orang terkenal, la adalah orang biasa yang hidup di tengah-tengah masyarakat petani. Tetapi, nenek yang lebih dikenal dengan keramahannya, kelembutan jiwanya, serta istiqamah dalam membaca al-Qur`an, mulai pagi, siang, sore, dan malam ini memang memantik inspirasi. la adalah orang yang tegar dan selalu berupaya bertahan hidup, meskipun kondisi perekonomian kadang menjepitnya. Namun, dengan al-Qur`an yang disandingnya, membuat hatinya lebih luwes, tenteram, dan tertata.

Marjiya—begitulah nenek itu dipanggil. Sebuah nama pendek yang diberikan ibunya—selalu berusaha untuk membangun kehidupannya, meskipun harus menembus gelapnya hujan, walaupun harus bangun setiap pagi buta untuk mempersiapkan bekal suaminya sebelum pergi ke sawah. la melakukannya dengan penuh kesabaran, nrimo ing pandum. la menerima bila suaminya tak memberikan uang belanja dan ia bersama-sama anak-anak di rumah harus berlauk lembayung. Kenyataan hidup tetap tak membuatnya surut dalam rutinitas al-Qur`an. Justru pengalaman hidup itu menjadi motivasi terbesar dirinya untuk memperkuat semangat khatam al-Qur`an.

"Suatu waktu, ia berkata kepadaku,"Saya hanya berdoa kepada Allah Swt. semoga anak-anak saya menjadi anak shalih atau shalihah dan mereka bisa ngaji al-Qur"an," Tutur Ngadijo, tetangga dekat Marjiya. Tetangga di sekitar rumahnya memang pada kagum. Betapa tidak, setiap jam 2 malam, di saat orang lain terlelap dalam tidur mereka, ia bangun dan ngaji al-Qur`an. Bila di tengah malam itu ada orang yang lewat di belakang rumahnya, pastilah orang itu akan mendengar lantunan al-Qur`an. Meskipun sakit merambat tubuhnya, jika masih bisa dipaksakan, ia tidak akan meninggalkan ibadah rutinnya ini.

Kamis malam. Sehabis Maghrib, sang nenek berbaring dalam derita penyakitnya yang telah diidapnya selama dua tahun terakhir, la tak dapat berbicara normal. Kebetulan malam itu adalah malam lebaran, yakni tanggai 1 Syawwal. Anak perempuannya menghampirinya setelah buka puasa terakhir, anak perempuan itu melihat sang ibu kesusahan bernapas. Kemudian, anak perempuannya meminta cucu Marjiya untuk memberi tahu ayahnya yang sedang shalat Maghrib di mushala. Begitu diberi tahu, sang menantu segera datang.

Sang menantu itu menengarai bahwa mertuanya mengalami sakaratul maut. Kemudian, ia membersihkan mulut dan wajahnya dengan kain, la meminta membimbing kalimat thayyibah dan alhamdulillah sang nenek meskipun tidak bisa ngomong, bisa mengucapkannya dengan baik.Tak lama kemudian, adzan Isya` berkumandang. Anak perempuan, menantu, cucu, dan orang-orang yang ada di dekatnya melihat kain surban berwarna putih dan seberkas cahaya berkelebat bagai kilat di depan muka Marjiya. Ditambah bau wangi yang menyodok hidung mereka. Lalu keringat terurai di keningnya, pertanda Marjiya sudah pergi menuju Allah Swt.

Keesokan harinya, Marjiya dikebumikan. Semua orang yang ada di lingkungan sekitarnya sedih, anak perempuan, menantu, cucu, dan sanak familinya, la dikebumikan di samping pesarean suaminya. Setelah semua usai, berkem¬bang kisah tentang kebaikannya semasa hidup. Dan, yang membuat semua keluarga dan tetangga kaget ketika terdengar suara ngaji al-Qur`an dari dalam kuburan Marjiya. Orang-orang di kampung itu penasaran. Menurut putrinya, suara itu memang suara ibunya. Tapi, ia juga tidak tahu mengapa semua itu bisa terjadi. Ya, tentu saja tak lain dan tak bukan karena Marjiwa istiqamah membaca al-Qur`an.

Malam berikutnya, cucu perempuannya bermimpi sang nenek, la melihat seolah-olah sang nenek berada di tempat yang tinggi dan bercahaya, la sedang duduk di sebuah kursi yang bagus, berhiaskan kuning emas, dan di tangannya memegang al-Qur`an. Sang nenek itu berkata kepada cucunya, "Ternyata memang benar perintah guruku, al-Qur`an telah menolongku."

Setelah mendengar ucapan itu, tiba-tiba cucunya ter-peranjat dan terbangun dari tidurnya. Karena merasa takut, ia membangunkan ibunya dan bercerita jika neneknya berada di tempatyang nyaman.

Disadur dari Kisah-kisah Ajaib Pengubah Hidup!, Karya Ustdz Amrin Ali Hasan

kolom.abatasa.co.id

Tiga kesalahan karena berburuk sangka – Kisah Hikmah

06.39 Add Comment
Tiga kesalahan karena berburuk sangka

Tiga kesalahan karena berburuk sangka – Kisah Hikmah


Pada masa kekhalifahan beliau, Umar bin Khatab adalah khalifah yang selalu berjalan tengah malam untuk mengetahui keadaan kota dan keadaan rakyatnya. Dengan inspeksi langsung inilah amirul mukminin kedua ini dapat mengetahui kondisi rakyatnya secara sebenar-benarnya. Masa telah lewat malam saat beliau melewati sebuah rumah yang dari luar terdengar seorang pria di dalam rumah yang sedang asyik tertawa. Semakin beliau mendekat, beliau juga mendengar suara gelak tawa wanita.

Khalifah Umar bin Khatab mengintip rumah tersebut lalu memanjat jendela dan masuk ke rumah tersebut. Beliau menghardik pria tersebut dengan berucap:

“Hai hamba Allah! Apakah kamu mengira jika Allah akan menutup aib dirimu sedangkan kamu berbuat maksiat!!”

Pria yang dihardik tersebut tetap tenang dengan lalu menjawab tuduhan Umar dengan berkata:

“Wahai Umar, jangan terburu-buru, mungkin hamba melakukan satu kesalahan, tapi anda melakukan tiga kesalahan,” jawab pria itu. Umar bin Khatab hanya terpaku, si pria meneruskan bicara.

“Yang pertama, Allah berfirman: jangan kamu (mengintip) mencari-carai kesalahan orang lain (Al Hujurat:12) dan anda telah melakukan hal tersebut dengan mengintip ke dalam rumah hamba,” kata pria tersebut.

“Yang kedua, Allah berfirman: masuklah ke rumah-rumah dari pintunya (Al Baqarah: 189) dan anda tadi menyelinap masuk ke dalam rumah hamba melalui jendela,” papar pria tersebut.

“Dan yang ketiga, anda sudah memasuki rumah hamba tanpa ijin, padahal Allah berfirman: jangan kamu masuk ke rumah yang bukan rumahmu sebelum kamu meminta izin (An-Nur: 27),” lanjut si pria

Menyadari bahwa dirinya juga salah, Umar lantas berkata, “apakah lebih baik disisimu jika aku memaafkanmu?” lantas pria tersebut menjawab, “Ya, amirul mukminin”. Umar pun memaafkan pria tersebut dan berpamitan pergi dari rumah tersebut.

Dari cerita diatas, dapat kita tengok bahwa seorang imam besar, pemimpin umat seperti amirul mukiminin Umar bin Khatab yang tersohor tersebut mau mendengarkan nasehat orang lain, bahkan orang yang bersalah. Nasehat itu tidak perlu dilihat siapa yang berkata, namun harus dilihat apa yang dinasehatkan. Selain itu kita juga harus selalu mengembangkan prasangka baik kepada siapapun, terutama saudara sasama muslim. Janganlah mencari-cari kesalahan mereka. Misalnya, tidak berjumpa di pengajian, kita sudah berpikir bahwa ia lalai dari mengingat Allah, tidak jumpa di shalat Jum’at, ia kita anggap mementingkan dunia. Bahkan ketika kita melihat pria sedang bersenda gurau dengan lawan jenis, kita anggap bahwa dia telah terkunci mata hatinya. Dengan prasangka seperti itu, bisa jadi kita telah melakukan kesalahan yang lebih besar dibandingkan saudara kita tersebut. Oleh karen itu mari kita kembangkan sikap berprasangka baik kepada siapapun.

http://media.isnet.org/isnet/Nadirsyah/tiga.html

Kisah Mengharukan : Bilal dan Adzan Terakhirnya

06.46 Add Comment
Kisah Bilal untuk terakhir kalinya kembali mengumandangkan Adzan di Masjid Nabawi, Adzan yang tak bisa dirampungkannya.

Sejak Rasulullah wafat, Bilal meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak lagi melantukan Adzan di puncak Masjid Nabawi di Madinah. Bahkan permintaan Khalifah Abu Bakar ketika itu, yang kembali memintanya untuk menjadi muadzin tidak bisa Ia penuhi.

Dengan kesedihan yang mendalam Bilal berkata : “Biarkan aku hanya menjadi muadzin Rasulullah saja. Rasulullah telah tiada, maka aku bukan muadzin siapa-siapa lagi.”

Khalifah Abu Bakar pun bisa memahami kesedihan Bilal dan tak lagi memintanya untuk kembali menjadi muadzin di Masjid Nabawi, melantunkan Adzan panggilan umat muslim untuk menunaikan shalat fardhu.



Kesedihan Bilal akibat wafatnya Rasulullah tidak bisa hilang dari dalam hatinya. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan Madinah, bergabung dengan pasukan Fath Islamy hijrah ke negeri Syam. Bilal kemudian tinggal di Kota Homs, Syria.

Sekian lamanya Bilal tak berkunjung ke Madinah, hingga pada suatu malam, Rasulullah Muhammad SAW hadir dalam mimpinya. Dengan suara lembutnya Rasulullah menegur Bilal : “Ya Bilal, Wa maa hadzal jafa? Hai Bilal, mengapa engkau tak mengunjungiku? Mengapa sampai seperti ini?“

Bilal pun segera terbangun dari tidurnya. Tanpa berpikir panjang, Ia mulai mempersiapkan perjalanan untuk kembali ke Madinah. Bilal berniat untuk ziarah ke makam Rasulullah setelah sekian tahun lamanya Ia meninggalkan Madinah.

Setibanya di Madinah, Bilal segera menuju makam Rasulullah. Tangis kerinduannya membuncah, cintanya kepada Rasulullah begitu besar. Cinta yang tulus karena Allah kepada Baginda Nabi yang begitu dalam.

Pada saat yang bersamaan, tampak dua pemuda mendekati Bilal. Kedua pemuda tersebut adalah Hasan dan Husein, cucu Rasulullah. Masih dengan berurai air mata, Bilal tua memeluk kedua cucu kesayangan Rasulullah tersebut.

Umar bin Khattab yang telah jadi Khalifah, juga turut haru melihat pemandangan tersebut. Kemudian salah satu cucu Rasulullah itupun membuat sebuah permintaan kepada Bilal.

“Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan adzan untuk kami? Kami ingin mengenang kakek kami.”

Umar bin Khattab juga ikut memohon kepada Bilal untuk kembali mengumandangkan Adzan di Masjid Nabawi, walaupun hanya satu kali saja. Bilal akhirnya mengabulkan permintaan cucu Rasulullah dan Khalifah Umar Bin Khattab.

Saat tiba waktu shalat, Bilal naik ke puncak Masjid Nabawi, tempat Ia biasa kumandangkan Adzan seperti pada masa Rasulullah masih hidup. Bilal pun mulai mengumandangkan Adzan.

Saat lafadz “Allahu Akbar” Ia kumandangkan, seketika itu juga seluruh Madinah terasa senyap. Segala aktifitas dan perdagangan terhenti. Semua orang sontak terkejut, suara lantunan Adzan yang dirindukan bertahun-tahun tersebut kembali terdengar dengan merdunya.

Kemudian saat Bilal melafadzkan “Asyhadu an laa ilaha illallah“, penduduk Kota Madinah berhamburan dari tempat mereka tinggal, berlarian menuju Masjid Nabawi. Bahkan dikisahkan para gadis dalam pingitan pun ikut berlarian keluar rumah mendekati asal suara Adzan yang dirindukan tersebut.

Puncaknya saat Bilal mengumandangkan “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah“, seisi Kota Madinah pecah oleh tangis dan ratapan pilu, teringat kepada masa indah saat Rasulullah masih hidup dan menjadi imam shalat berjamaah.

Tangisan Khalifah Umar bin Khattab terdengar paling keras. Bahkan Bilal yang mengumandangkan Adzan tersebut tersedu-sedu dalam tangis, lidahnya tercekat, air matanya tak henti-hentinya mengalir. Bilal pun tidak sanggup meneruskan Adzannya, Ia terus terisak tak mampu lagi berteriak melanjutkan panggilan mulia tersebut.

Hari itu Madinah mengenang kembali masa saat Rasulullah masih ada diantara mereka. Hari itu, Bilal melantukan adzan pertama dan terakhirnya semenjak kepergian Rasulullah. Adzan yang tak bisa dirampungkannya.


Maha Suci Allah, kisah diatas telah mengaduk-aduk cinta dan kerinduan kita kepada Rasulullah Muhammad SAW. Kisah yang mampu membuat kita meneteskan airmata tanda cinta dan rindu kepada Baginda Nabi. Semoga kita bisa mendapatkan syafaat dari Rasulullah dan bisa bertemu dengan Rasul saat hari berbangkit.

http://1001kisahteladan.com/kisah-mengharukan-bilal-dan-adzan-terakhirnya-108/

Kisah Sakaratul Maut Seorang Pemuda Yang Berbakti Kepada IBUNYA

06.42 Add Comment
Berikut kisah keajaiban yang dialami seorang pemuda saat detik-detik sakaratul maut menjemputnya.
Syaikh Muhammad Hassan hafidzahullah dalam sebuah khotbahnya, mengkisahkan tentang cerita ajaib yang dialami seorang pemuda di detik terakhir jelang sakaratul maut menjemputnya. Kisah ini bisa menjadi teladan bagi pemuda jaman sekarang untuk mencintai dan berbakti kepada orantuanya, terutama kepada Ibu.
Kisah Sakaratul Maut Seorang Pemuda Yang Berbakti Kepada IBUNYA












Kisah Sakaratul Maut Seorang Pemuda Yang Berbakti Kepada IBUNYA

Rumah itu di selimuti kesedihan, seorang pemuda yang terkenal sholeh dan berbakti kepada ibunya tengah terbaring di atas kasur. Ia tengah meregang nyawa menjelang kematiannya. Pemuda tersebut masih pada usia emasnya, belum genap 30 tahun menjalani hidup di dunia.

Dalam haru dan tegang tersebut, tiba-tiba saja pemuda tersebut mengucapkan kata-kata yang sungguh menakjubkan, sungguh sangat menakjubkan. Keluarga dan tetangga yang mengelilingi di dekatnya bingung, ada apa dengan pemuda tersebut?

“Tidak. Aku tidak bisa. Aku tidak bisa. Aku harus izin dulu kepada ibuku”, demikian ucapan pemuda tersebut berulang-ulang.

Di tengah kebingunan keluarga dan orang-orang yang menyaksikan kejadian tersebut, salah seorang diantaranya bergegas memanggil Ibu sang pemuda tersebut. Ibunya berada dalam kamar berbeda karena tak kuasa melihat putra kesayangannya menghadapi sakaratul maut. Anak emas yang sangat patuh dan mencintainya tersebut, menjelang ajalnya yang semakin dekat.

“Lihatlah anakmu, ia terus-menerus mengucapkan kalimat-kalimat yang aneh !!“, teriak salah satu orang sambil mengajak sang Ibu untuk menuju kamar anaknya. Tak berpikir lama, sang ibu langsung menghampiri kamar anaknya.

Di dalam kamar, tampak sang pemuda mulai mengeluarkan buliran keringat yang berkilau terkena cahaya lampu bak mutiara. Buliran keringat di dahi tersebut, menurut Syaikh Muhammad Hassan adalah sebagian dari tanda-tanda Husnul Khotimah.

Sang Ibu mendekati putra kesayangannya tersebut dan mulai mendengarkan kata-kata yang terus di ulang-ulang oleh buah hatinya tersebut.

“Tidak. Aku tidak bisa. Aku tidak bisa. Aku harus izin dulu kepada ibuku”, sang pemuda terus mengulang-ulang kalimat tersebut.

Sang Ibu pun mulai memeluk dan membelai anak emasnya tersebut seraya berkata,
“Wahai anaku, ini aku, ibumu. Wahai anaku, aku ibumu, Nak. Aku ibumu, anakku. Dengan siapa kau bicara ?”

Dan dalam waktu yang sempit tersebut, sang pemuda bercerita dengan napas yang tersengal-sengal,

“Wahai ibuku, seorang gadis sangat cantik jelita, Ibu. Belum pernah aku melihat gadis secantik itu. Ia datang kemari. Sungguh aku melihatnya persis di hadapanku. Ia datang melamarku untuk dirinya, Ibu. Aku bilang kepadanya, tidak. Aku tidak bisa sampai aku minta izin dulu kepada ibuku”

Sang ibu menangis sejadi-jadinya, keharuannya memuncak, kerinduannya pada harapan untuk melihat sang buah hati menikah membuatnya semakin dalam dalam kesedihan. Namun sang ibu berusaha tegar dan segera menyadari dengan siapa putranya yang sangat berbakti tersebut berbicara.

“Aku izinkan, anakku. Sungguh, dia adalah hurriyatun (bidadari) dari surga untukmu. Aku sudah izinkan, Nak“, demikian tutur sang ibu dalam uraian mata yang deras mengalir.

Tak lama kemudian, sang pemuda sholeh yang patuh tersebut, meninggal dunia dalam pelukan sang ibu.

Sungguh betapa tinggi derajat pemuda sholeh yang berbakti kepada ibunya tersebut. Bahkan hingga menjelang ajalnya, istri (dari surga) datang kepada engkau membawa kabar gembira. Padahal sang pemuda belum lagi meninggalkan dunia yang fana ini.

Syaikh Muhammad Hassan mengingatkan kepada kaum muslim untuk tidak terkejut dengan kisah ini. Tidak perlu heran, karena waktu yang sempit menjelang ajal seperti yang dialami pemuda tersebut adalah kondisi saat seorang seorang mukmin diperlihatkan tempat tinggalnya di surga. Bahkan akan diperlihatkan baginya para Malaikat-Nya dengan mata kepalanya sendiri. Ia pun di kabarkan tentang berita gembira (bisyarah).

Dan Maha Benar Allah Ta’ala yang berfirman :


“Sesungguhnya orang-orang yang berkata Rabb kami adalah Allah, kemudian mereka beristiqomah dengannya, maka para Malaikat akan turun kepadanya seraya berkata : “Janganlah kalian takut”


Para ulama menafsirkan berbeda terhadap ayat ini. Ada yang mengatakan Malaikat mengatakan hal tersebut sesaat sebelum ajal seperti kisah pemuda yang berbakti diatas, namun ada pula yang berpendapat tatkala mereka keluar dari alam kubur.


“Janganlah kalian takut dan jangan pula bersedih. Berbahagialah kalian dengan surga yang telah dijanjikan untuk kalian” [Qs.Fushilat : 30]

http://1001kisahteladan.com/kisah-sakaratul-maut-seorang-pemuda-yang-berbakti-kepada-ibunya-102/

Keajaiban Sedekah untuk Penyembuhan

06.30 Add Comment
Keajaiban Sedekah untuk Penyembuhan

Keajaiban Sedekah untuk Penyembuhan

Keyakinan kita sebagai seorang Muslim yang mukmin diuji oleh Allah Ta’ala dalam banyak episode kehidupan. Kita akan terus diuji, apakah iman benar-benar kokoh di dalam sanubari atau hanya pengakuan di lisan hingga tak mewujud dalam amal nyata.

Saat kita sedang sakit, misalnya, Allah Ta’ala menguji kebenaran keyakinan kita kepada-Nya dari cara kita berikhtiar dalam berobat. Ada begitu banyak kaum Muslimin yang terjerumus dalam sesat pikir karena lebih yakin dengan janji manusia dibanding janji Allah Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam.

Kita sering kali berani membayar dengan angka yang sangat mahal saat mendatangi dokter. Bahkan, ada pasien yang agamanya Islam berani membayar ratusan juta hanya untuk pengobatan intensif yang dilakukan selama lima hari karena penyakitnya yang serius dan obatnya mahal, tapi lupa menempuh jalan lain yang direkomendasikan oleh Allah Ta’ala dan Rasulullah sebagai cara penyembuhan.

Meski ikhtiar dianjurkan, sejatinya ada hal lain yang benar-benar perlu dikoreksi dalam hal kualitas iman kita kepada Allah Ta’ala.

Dikisahkan oleh Ustadz Fatahillah MA di Masjid az-Zikra Sentul Bogor Jawa Barat pada Ahad, 3 April 2016 dalam kultum setelah shalat Zhuhur, ada seorang Muslim yang insya Allah baik imannya. Allah Ta’ala mengujinya dengan sakit.

Setelah memeriksakan diri, dokter berkata bahwa dia harus kembali dalam beberapa hari untuk tindakan operasi. Dokter berpesan agar dia membawa uang sebanyak dua puluh lima juta sebagai biaya operasi.

Laki-laki ini pulang, lalu menyiapkan uang sebanyak lima puluh juta rupiah. Dua puluh lima juta dia sisihkan untuk dibawa saat menjalani operasi, dua puluh lima juta lainnya dia bagikan. Dia mendatangi fakir miskin, janda, orang-orang yang membutuhkan, anak yatim, dan berbagai proyek amal shalih di jalan Allah Ta’ala.

Dia salurkan seluruhnya, tanpa dikurangi satu rupiah pun.

Ketika tiba waktunya untuk memeriksakan diri, sang dokter terkejut bukan kepalang. “Sebelum ke sini, bapak pasti sudah berobat ke tempat lain?”

“Tidak, Dokter. Saya tidak berobat ke mana-mana.” jawab si pasien.

“Tidak mungkin.” sanggah si dokter.

“Benar, Dokter. Saya tidak berobat ke tempat selain ini. Memangnya kenapa?” tanya si laki-laki.

“Dalam pengecekan yang saya lakukan barusan, penyakit bapak sudah hilang. Tidak ada bekas sedikit pun.” ujar si dokter yang disambut sujud syukur si laki-laki.

Barang kali kisah nyata ini terdengar aneh bagi sebagian kita. Terkesan mengada-ada dan kesan lainnya. Padahal, jika dilihat dengan kaca mata iman sebagaimana dijanjikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam, kisah ini benar-benar terjadi. Sebab kesembuhan jika melakukan amalan ini langsung dijamin oleh baginda Nabi.

Bukankah Nabi pernah berkata dengan derajat shahih, “Obatilah orang sakit di antaramu dengan sedekah.”

Sayangnya, banyak kaum Muslimin yang tidak percaya dengan sabda Nabi dan sangat menggantungkan kepercayaan kepada tenaga medis.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

http://kisahikmah.com/sembuh-dengan-sedekah/

Kisah Nyata: Sedekah 170 Ribu Dapat Rezeki 18 Juta

06.26 Add Comment
Kisah Nyata: Sedekah 170 Ribu Dapat Rezeki 18 Juta

Kisah Nyata: Sedekah 170 Ribu Dapat Rezeki 18 Juta

Malam itu, saya hendak beranjak menuju tempat tidur. Selain lelah, mata juga sudah mengantuk. Malam juga makin larut. Meski masih ada yang harus dikerjakan, saya memilih berhenti dan berniat melanjutkannya esok hari. Agar stamina lebih bugar.

Saat hendak mengisi ulang baterai ponsel, ada pesan yang masuk. Dari seorang kawan, pelanggan buku, sekaligus mentor bisnis yang galak. Laki-laki ini berasal dari sebuah daerah di Jawa Timur.

“Gan, saya mau cerita sebentar.” pesannya.

Saya menjawab santai, “Yo, cerito wae.” (Ya, silakan cerita saja)

Pagi itu, ia hanya memiliki uang dua ratus lima puluh ribu. Menjadi hal yang biasa, mereka yang usahanya maju memang memilih hidup sederhana. Uangnya berputar, asetnya dalam bentuk barang, piutangnya dimana-mana.

Apalagi di akhir bulan, banyak piutang yang belum dibayar. Hingga uang tunai pun benar-benar terbatas. Disiapkan sesuai kebutuhan.

“Pas uang tinggal segitu, ada investor yang menghubungi. Dia minta dana investasinya. Mendadak karena ada keperluan.” lanjutnya. Saya menyimak santai.

“Ngobrol lama, tidak bisa negosiasi. Dia minta 14 juta. Harus hari itu. Tidak bisa menawar.”

Di tengah kebingungan yang dialami, ia memiliki kebiasaan yang terbilang langka bagi manusia masa kini. Ia yang bersemangat mempelajari Islam ini langsung teringat dengan hadits tentang tiga orang yang terjebak di dalam gua.

Tiga orang itu memohon kepada Allah Ta’ala dengan menyebutkan amalan-amalan unggulan yang pernah dilakukan. Ini mafhum disebut sebagai washilah. Setelah mereka menyebutkan amalan unggulan masing-masing, pintu gua benar-benar terbuka. Mereka bisa keluar dengan selamat.

“Ya Allah,” doa si laki-laki sembari tersungkur, “jika memang infaq 170 ribu untuk masjid kemarin itu ikhlas karena-Mu, mohon angkatlah beban ini.”

laki-laki itu pun mengambil air wudhu. Shalat. Bertepatan dengan waktu Dhuha.

Saya masih setia mendengarkan kisahnya, hingga ia menuturkan, “Sekitar jam 10 lebih 15 menit, ada saudara yang menelepon. Dia akan memberikan investasi sebesar 18 juta. Tunai. Diantarkan saat itu juga.”

***

Saya takjub membaca kisah yang dituturkan oleh laki-laki ini. Sungguh, kisah-kisah nyata jenis ini amat banyak. Kita hanya perlu meluruskan niat, agar kembalian infaq-infaq kita di dunia juga berujung pada pahala di akhirat.

Sebab jika niat beramal hanya untuk perkara dunia, maka tiada bagian baginya di akhirat kelak. Dan siapa yang beramal untuk akhirat, maka Allah Ta’ala akan memberikan baginya dunia sebagai bonusnya.

Namun, ada pula yang tidak mendapatkan bagian dunia. Sebab semua pahalanya diganti dengan yang lebih baik atau sudah ditunggu oleh surga di akhirat yang abadi.

Wallahu a’lam [Pirman/Kisahikmah]

http://kisahikmah.com/keajaiban-sedekah/

Menunda Pekerjaan sama dengan Membuat Waktu

17.35 Add Comment
Cerita islami. seorang menteri mengeluh atas pekerjaan yang dilakukan seorang amirul mukminin, Umar bin Abdul Azis. Dalam kesehariannya, umar melakukan semua tugas kenegaraanya hingga larut malam. Padahal, waktu yang disediakan hanya sampai ba’da Maghrib (waktu setelah Maghrib).

Menunda Pekerjaan sama dengan Membuat Waktu












Suatu hari, sang menteri memberanikan diri menyapa Umar, “wahai Amirul Mukminin, hendaknya berhentilah dari pekerjaan itu sejenak. Bukankah esok hari bisa dilanjutkan?” Mendengar sapaan tersebut, Umar menjawab, “Wahai Menteri, hendaknya pekerjaan itu tidak ditunda-tunda. Selesaikanlah sampai tuntas. Bukankah esok hari banyak pekerjaan baru yang mesti kita selesaikan juga”

Sang menteri tertunduk malu dengan jawaban yang keluar dari mulut umar’ karena ia sering mengulur-ulur pekerjaan. Ia pun berkata kepada Umar “Wahai Amirul Mukminin’ apa yang diucapkan benar adanya,” ujat sang menteri.

Hikmah Cerita

Apa pun pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kita, harus diselesaikan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. menunda pekerjaan seperti PR atau lainnya berarti membuang waktu dan menambah beban

Kisah Pembantu Kerajaan – Sebuah peristiwa pastilah karena kehendak Allah

17.27 Add Comment
Syahdan di jaman dahulu kala ada seorang Raja yang memimpin sebuah kerajaan Islam. Kerajaan maupun nama rajanya tidak disebutkan dalam cerita yang diceritakan turun temurun ini. Raja ini memiliki seorang pembantu yang sangat ta’at beribadah. Keikhlasannya bahkan mengungguli semua orang di kerajaan ini. Sekalipun ia mendapatkan musibah, ia justru mengatakan “Al Khair Mukhtarallah” yang artinya “yang terbaik adalah pilihan Allah”. Suatu ketika Raja tersebut sedang makan dengan menggunakan pisau. Mungkin karena kurang hati-hati, pisau tersebut mengenai jari paduka Raja. Jari tersebut terpotong pisau tersebut.

Kisah Pembantu Kerajaan – Sebuah peristiwa pastilah karena kehendak Allah














Dengan spontan pembantunya yang ta’at itu berkata, “Al Khair Mukhtarallah”. Mendengar perkataan pembantunya itu, sang Raja merasa tersinggung karena menganggap bahwa pembantunya bergembira terhadap kemalangannya. Ia memerintahkan prajurit istana untuk menjebloskan pembantu Raja tersebut ke dalam penjara. Namun anehnya, ketika akan dimasukkan ke penjara, si pembantu itu berkata lagi “Al Khair Mukhtarallah”. Lantas sang Raja bertambah murka kepadanya. Namun sang Raja masih memiliki hati nurani, tidak asal main pancung. Ia hanya memerintahkan prajurit untuk segera memasukkan pembantu itu ke penjara.

Waktu pun berlalu, hari demi hari, bulan demi bulan, sang pembantu masih berada di dalam penjara istana. Suatu ketika sang Raja pergi berburu bersama pengawal dan anak buahnya. Saking asyiknya berburu, ternyata mereka telah keluar dari wilayah kerajaannya dan memasuki wilayah kerajaan orang yang menyembah api dan dewa-dewa. Orang-orang ini beragama Majusi. Sang Raja dan rombongannya ditangkap karena melanggar masuk wilayah mereka dan akan dijadikan persembahan untuk dewa mereka. Satu demi satu pengawal dan rombongan Raja dibunuh untuk persembahan.

Dan tibalah giliran sang Raja. Saat sang Raja tersebut akan dipenggal, ada seorang kaum Majusi yang mengetahui bahwa ada cacat dalam diri Raja tersebut, yakni jari tangan Raja yang terpotong. Dalam adat mereka, persembahan haruslah sempurna, tidak boleh ada cacat. Maka dari sang Raja akhirnya tidak dibunuh dan ia dibebaskan dalam keadaan hidup. Maka ia pun kembali ke kerajaannya dengan selamat. Raja pun gembira luar biasa. Dalam kegembiraannya ia teringat pembantunya yang dipenjara. Ia segera meminta pengawal untuk membebaskan pembantunya itu dan kemudian bertemu dengannya. Dalam pertemuan itu sang Raja bertanya kepada pembantunya.

“Apa maksudmu ketika dipenjara kamu mengatakan “Al Khair Mukhtarallah”, wahai abdiku?” tanya sang Raja.

“Jika hamba tidak dipenjara, maka sudah pasti hamba akan dibunuh seperti pengawal dan anak buah tuan Raja diluar sana,” jawab sang pembantu.

Semenjak itu sang Raja tidak lagi meremehkan kata-kata sang pembantu dan menyadari bahwa pembantu itu lebih bijak daripada dirinya. (iwan)

referensi : http://kisahislami.com/kisah-seorang-raja-dan-hamba-allah/